H A O

Januari 14, 2009

Mari kita merasakan kata “hao”. Sebagai orang Minang, kita punya kata yang hampir tak pernah terdengar diucapkan banyak orang saat ini. Terutama kaum mudanya yang lahir di tahun 80-an hingga kemudiannya.


Kata “hao” berarti hawa, udara, dan bisa juga diartikan sebagai suatu yang kosong, busa doang. Hao juga bisa berarti omongan yang tak ada isinya. Bisa pula hao berarti bual; hanya kata tanpa makna.

Nah, kita kadang, bisa saja, memerankan diri sebagai tukang “hao”, yang mengira setiap orang bahagia dibual penuh busa. Di pihak lain, kita juga kadang memang tanpa sadar, berperan sebagai orang yang tampak tulus, aman-aman saja ketika dihao orang. Bahkan, anggukan kita kepada tukang hao, menunjukkan kekaguman yang luar biasa. Ketika ada yang berkata begini kepada kita: “Lah dihaonyo waang mah, Yuang (Sudah dibohongi kamu Yuang),” kita malah menjawab, “Ma jaleh dek waang! (Mana jelas sama kamu).” Eyayai!

Kalau hao menjadi mahao, maka kata itu artinya menjadi merayu. Bujukan yang, ohoi ya, banyak gombalnya. “Mahao anak gadih urang, bapanggakan oto basalang (marayu anak gadis orang, memamerkan mobil pinjaman). Kadang, karena tak mampu mengukur bayang-bayang sepanjang badan, kita terjebak meninggi-ninggi diri. Dalam mahao, juga terlihat merendah-rendahkan diri, untuk meninggi-ninggikan harapan, agar yang dituju merasa terpuja, yang merayu merasa terpuji.

Tak jarang, ketika seseorang mahao, yang lebih tampak oleh akal sehat adalah, betapa dia tengah membungai dirinya dengan busa-busa omong kosong. Orang yang suka mahao, apalagi kepada anak gadis idamannya, cenderung terlihat memperagakan kelebihan diri sendiri, mulai dari penampilan hingga perkataan. Mahao adalah topeng diri, yang kadang ia bisa membawa yang dihaonya menjadi badut, ikut irama yang hao-hao.

Ada pula hao yang, boleh dikatakan menyebalkan, menjengkelkan atau menimbulkan dendam. Namanya “malapeh hao”. Malapeh hao artinya, segala upaya, kerja keras, dukungan kita berakhir dengan kesimpulan: tidak mendapat apa-apa. Kalau join dengan teman membangun usaha bisnis, tahu-tahu ketika untung, dimakannya sendiri. Malapeh hao namanya bagi kita. Kalau kita punya pacar, habis-habisan mencintainya, dia pun seakan-akan habis-habisan mencitai kita, siang kaulah matahari, malam kaulah bulan. Tapi, ketika cinta kita tak terhingga, ia menikah dengan orang lain. Inilah lagu pilu “malapeh hao” itu. Orang pun bisa mancemeeh kita sambil berlagu:

Lompong sagu bagulo lawang

Di tangah-tangah karambia mudo

Sadang katuju di ambiak urang

Ondeh mak, awak juo malapeh hao

(Lompong sagu bergula lawang

Di tengah-tengah kelapa muda

Sadang suka diambil orang

Aduh mak, kita jua melepas hawa/tidak dapat apa-apa)

Hao, dihao, mahao, hao-hao disadari atau tidak, sesungguhnya telah mengitari perilaku atau nasib kita sehari-hari. Ia menumpuk dalam barisan, kerumunan, tumpukan serta seliweran kata-kata di otak dan hati kita.


ANU

Januari 14, 2009

Karena “anu” sesuatu membutuhkan jawaban atau lupa sama sekali!

Kita punya kata “anu”. Anu adalah suatu yang tidak diketahui nama, atau sebutannya. Baik itu orang, benda dan sebagainya. Kadang, bisa merupakan sesuatu yang dirahasiakan. Teringat ada, terucapkan tidak, maka sering menjadi “anu’.

Baca entri selengkapnya »


POAK

Desember 24, 2007

Ada orang poak. Apa yang kita pernah, dia pernah pula. Apa yang kita lakukan, dia jauh lebih hebat dari apa yang pernah kita lakukan. Kalau kita mengaku bikin acara diresmikan dan dipuji gubernur, dia bilang dirinya sering telpon-telponan dengan gubernur. Motonya kurang lebih: apa lu pernah, gue lebih dari itu! Nantilah benar atau tidaknya. Yang penting, mulutnya bilang begitu, faktanya entah punya angguk atau tidak, tak penting betul. Yang jelas, poaknya begitu.

Baca entri selengkapnya »


MULUT

Juli 30, 2007

–yusrizal kw

mulut adalah lorong, banyak hal keluar masuk darinya

Saya sangat takjub pada orang yang punya mulut dan mampu menata kata-katanya dengan santun, rapi, berisi serta mempertimbangkan mulut orang lain guna menyalami mulutnya dengan kata-kata pula sehingga sejuk di hati penting di pikiran. Ketika menyadari hal itu, ada sebuah pikiran yang bisa dijadikan koreksi diri: belajarlah selalu menggunakan mulut, karena mulut yang bijak ternyata tidak datang begitu saja. Ia mesti memiliki acuan nilai, pendidikan yang bagus, kesadaran yang intelek, emosi yang cerdas, spiritual yang selalu menyala untuk membenderangkan arah dan pegangan yang memanusiawikan kata-kata jadi bermakna.
Baca entri selengkapnya »


POAK

Juli 30, 2007

–yusrizal kw

Poak, memang bikin muak

Ada orang poak. Apa yang kita pernah, dia pernah pula. Apa yang kita lakukan, dia jauh lebih hebat dari apa yang pernah kita lakukan. Kalau kita mengaku bikin acara diresmikan dan dipuji gubernur, dia bilang dirinya sering telpon-telponan dengan gubernur. Motonya kurang lebih: apa lu pernah, gue lebih dari itu! Nantilah benar atau tidaknya. Yang penting, mulutnya bilang begitu, faktanya entah punya angguk atau tidak, tak penting betul. Yang jelas, poaknya begitu.

Baca entri selengkapnya »


LINGAU

Juli 30, 2007

–yusrizal kw

Lingau ibarat sebuah tempat, di sana kita pernah datang dan pergi

Orang Minang tempo doeloe, mungkin kini masih ada, barangkali banyak yang mengenal kata “lingau”. Tetapi, saat kini sedikit sekali, mungkin hampir tak ada yang tahu arti kata tersebut.
Baca entri selengkapnya »


REDEK

Juli 27, 2007

–yusrizal kw

Redek kadang menguncang iman

“Ba a aka lai ko. Bareh maha. Lah redek awak kini mah,” kata seorang perempuan setengah baya kepada temannya, yang saya dengar di atas sebuah angkot tambangan Siteba-Pasar Raya Padang.

Baca entri selengkapnya »


GADAYAK

Juli 22, 2007

–yusrizal kw

Jika ada yang manggadayak, lap atau sapulah dari diri

Suatu hari, saya mengunjungi teman di rumahnya. Cerita punya cerita, ia menjelaskan, bahwa bisnis yang dirintisnya tiga tahun lalu bersama seorang teman, berjalan lancar. Bahkan, kini, bisnis di bidang jual beli komputer itu maju pesat. Sudah punya relasi khusus, langganan fanatik.

Baca entri selengkapnya »


ANGGUAK

Juli 15, 2007

–yusrizal kw

Angguak belum tentu setuju!

Pertanda setuju, suka, iya, senang, kagum bisa diiyaratkan dengan angguak.Kalau kita dengar atau baca kata “angguak” (angguk), yang terbayang tentulah kepala yang bergerak ke atas ke bawah. Hup! Jangan percaya dulu pada “angguk”. Kadang, dalam angguk ada geleng, ada pikiran kosong bahkan sekadar menampakkan, bahwa ada kepala ada angguk.Ketika kita berhadapan dengan seseorang, bercerita tentang sesuatu, jika cerita kita menyenangkan, menakjubkan atau memberi manfaat ilmu, maka anggukan itu sebagai tanda penghormatan. Sebagai tanda, kadang apresiasi bisa diterjemahkan melalui gerakan kepala, mengangguk.

Baca entri selengkapnya »


SYAK

Juli 8, 2007

–yusrizal kw

Syak wasangka, memang itulah dunia kita untuk bercuriga.Ketika kata “syak” kita sebut, biasanya “wasangka” talian kata berikutnya.

Kala ada syak wasangka di antara kita, ini jelas merupakan hal yang menggelisahkan. Karena, kita tahu, ketika syak tertunjuk padaku atau padamu, artinya adalah kita sedang mengalami “jatah” dicurigai, diragukan atau disangsikan. Hal demikian terjadi, boleh jadi karena selama ini, kita telah membuat orang punya pijakan tentang syak wasangka yang ditujukan kepada kita.Perilaku, perangai masa lalu bisa sebagai acuannya.Atau, sebagai orang yang suka syak, menaruh curiga, kita selama ini memang betul-betul melakukan tindakan yang membuat syak wasangka makin abadi di dalam diri kita. Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya.Bahkan, seumur hidup, ada pula, walau sudah baik niat dan kerja kita, orang selalu menancapkan syak.

Baca entri selengkapnya »