KAPERE

Kapere, keindahan untuk menyuburkan kebermaknaan

Ada kata yang, barangkali oleh sebagian besar kaum muda Minangkabau, tidak dikenalnya sama sekali. Atau, saya yang memang abai mendengar atau menemukan kata tersebut dalam kehidupan sehari-hari selama ini? Entahlah!
Suatu siang, ketika menemani orang rumah (istri) ke Pasar Siteba, saya mendengar kata yang menggoda “rasakata” saya. Kata itu adalah: “kapere”. Seorang perempuan tua penjual sayur, ketika ditanya keadaan anaknya yang di Batam, ia menjawab, ”Inyo sadang kapere kini. Tapi, baa juo lai. Awak di siko takapere pulo. Sagalo maha!Apo lai di Batam” (Dia sedang kapere kini. Tapi bagaimana lagi. Kita di sini takapere juga. Segala mahal. Apalagi di Batam).


Kata “kapere” menggoda” saya untuk tahu apa artinya. Lalu dengan tersenyum saya tanya, ”Mak, kapere itu apo aratinyo?” (Mak, Kapere itu apa artinya?). Perempuan tua itu tersenyum. ”Itu bahaso urang daulu mah. Susah aratinyo. Tadasak iduk. (Itu bahasa orang dulu. Susah artinya. Terdesak hidup). Saya pun tersenyum, karena kata itu, bagi saya baru pertama kali terdengar.
Setiba di rumah, saya mengembangkan Kamus Lengkap Bahasa Minang yang disusun Drs. Gauzali Saydam, Bc.TT, suatu kamus yang selalu jadi pegangan saya. Saya temukan, ”kapere” berarti keadaan terdesak, sedang dalam keadaan prihatin. Kapere juga berarti tertatih-tatih, terhuyung, keadaan seperti mau rebah.
Setelah kita tahu arti kapere, yang terbayang kemudian, bahwa kata itu memiliki makna yang, bisa biasa-biasa saja, juga bisa luar biasa. Tergantung bagaimana kita meniupkan interpretasi dan makna pada kata ”kapere”. Ketika kita menyadari, bahwa koran kita ini beberapa kali memberitakan angka kemiskinan di Kota Padang terus meningkat, itu artinya, makin banyak orang yang takapere. Kemiskinan, juga berarti butuh atau kekurangan uang. Karena serba kekurangan, karena itu jadi dianggap takapere. Tidak kokoh secara ekonomi.
Kalau karena kurang gizi, tua dalam derita misalnya, maka untuk berdiri lama apalagi berjalan jauh, sungguh tak punya tenaga. Terhuyung-huyung. Jalan tertatih-tatih—terkapere….
Kalau kita meminjam uang ke seseorang, jika selama ini langsung dapat, tapi ketika kita mencoba lagi, kali ini tiba-tiba dia mendesah, ”Maaf, sedang takapere kini. Lain kali ya….” Itu artinya, memang dia sedang dalam keadaan memprihatinkan. Kita harus berlapang hati, jangan kapere (rebah) pula sikap baik kita padanya.
Kapere, untuk nalar kata, bisa mencantel pada kata jiwa, maka dia menjadi orang yang lemah jiwa, gampang rapuh hatinya. Kapere pun bisa pula kita sesuaikan dengan padanannya yang bernama ”rapuh”, ”lemah”, ”kepepet”, ”genting” dan lain sebagainya. Di sinilah, kita bisa main-main, akrab-akraban dengan kata. Misalnya, kapere iman sama dengan lemah iman, dia mencuri karena kapere artinya lantaran kepepet, hubungan kesuami-istriannya sedang kapere bermakna genting atawa di ambang cerai. Dan, banyak hal yang bisa dikembangkatakan, dilebarmaknakan dari kata ”kapere”.
Takapere, ya terkapere juga berarti tersandar atau terdinding dan hanya memasrahkan diri, pasrah menghadapi segala desakan yang datang dari depan, samping kiri dan kanan ketika untuk melangkah mundur pun tak bisa. Langkah mati, tak maju, tak mundur, adalah posisi di mana kadang berdoa juga bisa dijadikan sebuah harapan, sekalipun sedetik sebelumnya kita menodai hati dengan dosa atau membiarkan iman dan takwa kita dalam keadaan takapere (runtuh/lemah) yang tak disadari dimana batas dan bagaimana mengakhirinya.
Takapere, juga bisa berupa tekor. Rugi berlipat ganda. Kehilangan semangat karena ada aroma dan suasana dalam diri (hati) yang ketika kita normal berpikir dan berhati, semangat dan suasana hangat (positif) dalam diri, adalah telaga atau pincuran kesejukan yang membisikkan batin kita, itulah keindahan.
Keindahan, yah itulah yang diharapkan tumbuh dari pemaknaan takapere sebagai suatu realita yang bisa ditiupkan kesejukan ke dalamnya. Kita bisa membuat hati gembira, ketika hati yang tak kapere menghibur. Kita bisa merasa lapang, ketika hati yang lain tidak sempit kapere. Kita bisa merasa bernyanyi, ketika suara lain tidak takapere.

Dan, kita bisa berharap, keindahan kadang mesti dipupuk dengan kapere yang disadari sebagai pewarna hidup dari-Nya. Karena itu pula, kita bisa mengatakan, kapere yang dipupuk ketulusan menjalaninya, akan berbuah, kebahagiaan. Hanya kebahagiaan hakiki yang kita butuhkan akhirnya, ketika di tempat lain kita tahu kepahitan adalah obat yang menyembuhkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: