PISAU

Juli 8, 2005

RUMAH baru kami menghadap ke timur. Ketika pintu dibuka, setelah melewati pekarangan kecil dan teras, cahaya matahari masih bisa menjalar ke lantai dalam rumah.

Baca entri selengkapnya »


KAKAK DARI RANTAU

November 9, 2003

NARTI menyambut kedatangan kakak sulungnya dari Jakarta dengan hati hambar. Tak ada hiasan senyum dan kata pemanis bibir, kecuali pertanyaan basa-basi yang wajar untuk Uda Suar, sang kakak dari rantau. Mestinya, kalau ia tak pernah merasa kecil hati dan terluka oleh kata bersembilu Uda Suar, ia akan merayakan dengan senyum dan binar mata terang kedatangan kakaknya itu. Untung ada terdengar kicau burung dari pohon jambu samping rumah, serta sesekali suara kokok ayam, yang membuat suasana hambar agak tertingkahi. Dan, untung pula ada Uni Lana, tetangga yang lewat, menyempatkan mampir sebentar menyalami Uda Suar sambil berkata, “Wah, senang ya, di rantau. Gemuk dan gagah Suar sekarang….” Kemudian, Uni Lana pun berlalu.

Baca entri selengkapnya »


SAKU SUAMI

November 2, 2003

AINI mestinya tersinggung ketika suaminya setelah hari pernikahan mereka berdua mengatakan, “Aku tidak suka istri pemeriksa saku suami. Kukatakan itu padamu, penting artinya!”

Baca entri selengkapnya »


SENYUM AYAH SEDANG SAKIT

September 21, 2003

SEJAK pensiun jadi guru, ayah banyak berdiam diri. Ia tak pernah lagi tersenyum. Kadang aku berpikir nakal, jangan-jangan senyum ayah waktu masa pensiunnya tiba, tertinggal di dalam kelas. Kemudian murid-murid ayah menendang-nendangnya, atau piket pagi menyapunya dan membakar bersama sampah-sampah.

Baca entri selengkapnya »