Tuhan, Kuatkanlah Bahuku

Jangan meminta beban yang ringan pada Tuhan. Mintalah bahu yang kuat!
(Karen Amstrong)

Dalam berdoa, atau ketika disuruh memilih, banyak orang ingin dimudahkan. Diberi keringanan. Dibantu dalam banyak hal. Tidak perlu memahami, betapa upaya yang pahit, jika berhasil, terasa manis. Bahwa kehidupan ini memerlukan proses, sehingga kelak, semua diyakini tidaklah sesuatu yang ada serta-merta.

Karena itulah, kita merasa biasa-biasa saja, kalau melihat seseorang berhasil menyogok untuk mendapatkan jabatan tertentu, ditakuti karena berteman dengan orang bagak, dihormati karena dekat dengan penguasa. Sebab, nilai hidup bagi sebagian orang, ternyata adalah kemudahan yang didapat di tengah orang yang melakukannya dengan benar tapi banyak dipersulit atau memakan waktu dan energi yang lama. Kehormatan semu, yang tidak memerlukan kerja keras dan etika, dijadikan penguat eksistensi.

Sia-sia bercerita tentang para tokoh bangsa atau dunia yang meraih kesuksesan dengan kerja keras sebagai tauladan kepada mereka yang berpikir ingin gampang dan serba dipermudah. Karena akan dijawab, “Itu kan dulu!” atau, “Jangan idealislah”. Dan, karena itulah, bisa pula dipahami, saat ini banyak orang mengalami depresi, kekosongan spiritual dan menjadi serigala bagi sesama, ketika nafsu ingin enak menguasai dirinya.

Mentalitas ingin enak (mau enak sendiri), tanpa control nilai, salah satu perilaku buruk yang tertera jelas dalam kehidupan sosial kita. Banyak peraturan atau pelanggaran etika, hukum atau norma dalam masyarakat yang terjadi. Semua itu, jelas karena nafsu ingin enak. Mereka bisa saja dari kalangan pemimpin, ulama, tokoh adat, kaum intelektual, pegawai rendahan dan masyarakat biasa sekalipun.

Sebenarnya, disadari atau tidak, secara sungguh-sungguh, banyak orang abai berpikir tentang etos kerja, kerja keras, berpikir keras dan pentingnya empati serta kejujuran dalam hidup. Hanya sedikit orang yang mampu menempa dirinya, menjadi orang yang kuat untuk menghadapi tantangan hidup sekeras apa pun. Memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan, menanamkan nilai empati, sesuatu yang nyaris mustahil dijadikan sebagai pedoman ideal bagi banyak orang saat ini. Apalagi, kecenderungan hedonis saat ini menyungkup akal sehat, mengukur diri dengan rasa senang. Orang mengukur, seberapa bahagianya dia, bukan seberapa bermaknanya ia menjalani hidup.

Di toko buku, kita banyak mendapatkan buku-buku motivasi orang berbahagia, kaya raya tanpa modal, ongkang kaki bisa sukses, uang bekerja untuk Anda, utang pangkal kaya dan sebagainya, ternyata laku keras. Pesan buku tersebut, muncul dari kesadaran adanya segmen menarik, bahwa orang ingin meraih kebahagiaan atau kesuksesan dengan cara mudah cukup banyak di Indonesia. Buku tersebut laku dan mengalami cetak ulang, walau pada akhirnya, pembaca buku tersebut tetap miskin atau melarat karena tidak menyadari, ada keseriusan atau kerja keras yang mendalam (focus) untuk meraih apa yang disebut “senang hakiki/sejati”.

Ingin enak, dalam tulisan ini, sebenarnya sebuah kesimpulan untuk menegaskan bahwa dalam banyak hal, orang ingin meraih dan mendapatkan sesuatu, selalu ingin dengan mudah. Selalu ingin ditolong. Mentang-mentang ada tenaga honor di kantor kita, si honorer dibiarkan mengerjakan banyak hal, termasuk pekerjaan yang mestinya kita yang melakukannya. Tidak malu, kalau gajinya lebih besar dari tenaga honor, sementara porsi kerja dan tanggungjawab kecil, dan itupun dilimpahkan pula ke tenaga honor yang untuk ongkosnya saja susah. Nanti, kalau kerjanya dipuji bagus oleh bos, kita pula yang mengaku, dan memang begitu enaknya.

Ketika mendapat masalah, musibah atau goncangan tertentu, kita tidak membaca kelemahan diri. Malah mencari, apa yang paling instant solusinya. Ketika pada saat itu misalnya disarankan minta pertolongan pada Tuhan, maka doanya, selalu minta diringankan. Minta cepat-cepat masalah berlalu. Bukan bagaimana cara menemukan kekuatan cara menghadapi masalah itu dengan pertolongan-Nya.

Karena itu, kutipan di awal tulisan ini, sangat menggugah saya. Jangan meminta beban yang ringan pada Tuhan. Mintalah bahu yang kuat!  Simpulan dari ungkapan Karen Amstrong, penulis buku Sejarah Tuhan, itu memiliki pesan filosofis dan kuat. Di dalamnya ada energi positif, kesungguhan, kerja keras dan komitmen menjadi diri atau bangsa yang tangguh.

Kita selalu minta beban diringankan. Sehingga, selalu berada dalam kondisi menderita, mengalami tekanan berat atau merasa selalu mendapatkan cobaan beruntun. Berangkat dari memahami apa yang diungkapkan Karen Amstrong tersebut, sesungguhnya, sebagai manusia (bangsa) kita dituntut menjadi rakyat yang kuat untuk mendapatkan pemimpin yang kuat. Sebab, rakyat yang memiliki bahu yang kuat, atau manusia yang memiliki bahu yang kokoh, siap memikul (mengemban) beban dan tantangan seberat apa pun. Dengan demikian, dia bisa menciptakan realitas kehidupan yang lebih baik.(*)

Sumber Gambar: http://voucherlistrikonline.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: