BARANGIN

Oktober 20, 2010

Ada yang menarik di orang Minang ini. Menggelari atau menyebut orang “barangin”, arti yang ditawarkannya bisa membuat kita mengangguk (kalau memang dia berangin), tersenyum simpul (kalau ungkapan itu sindiran gurau) atau kita sendiri yang dikatakan “barangin” dan mendengarnya malah cengengesan, sembari mengumpat, “Kurang ajar!”

Barangin ternyata sama dengan kurang waras, tidak bisa jadi pegangan, suka asyik dengan diri dan pikiran sendiri. Barangin boleh juga sebutan orang yang nekat (Hati-hati, dia barangin itu…) Suka diasung. Ada pula orang, kalau ada temannya yang tidak punya rasa malu, tidak pernah pakai etika di mana pun dia ada, maka enak saja dibilang, “dia barangin”. Kalau ada yang marah, maka akan ada pula yang menyela, “Biar sajalah, dia barangin…. Kalau marah kita ke dia, kita pula yang barangin namanya….”

Baca entri selengkapnya »


Tuhan, Kuatkanlah Bahuku

Oktober 20, 2010

Jangan meminta beban yang ringan pada Tuhan. Mintalah bahu yang kuat!
(Karen Amstrong)

Dalam berdoa, atau ketika disuruh memilih, banyak orang ingin dimudahkan. Diberi keringanan. Dibantu dalam banyak hal. Tidak perlu memahami, betapa upaya yang pahit, jika berhasil, terasa manis. Bahwa kehidupan ini memerlukan proses, sehingga kelak, semua diyakini tidaklah sesuatu yang ada serta-merta.
Baca entri selengkapnya »


LINDANG

Oktober 20, 2010

Dalam terang, ingatlah lindangmu

Bagi orang Minang, kata “lindang” sesungguhnya tak asing lagi. Kalau diartikan menurut yang tercatat di kamus, lindang berarti tidak bersisa sama sekali; hilang; lenyap. Seorang istri, meratap, ketika semua harta dan uang simpanannya habis tandas. Ibunya mendengar derita si anak, lalu bercerita ke orang lain dengan perasaan tertekan, “Lindang semua harta anakku dibawa berjudi oleh lakinya….”
Baca entri selengkapnya »


LADAH

Oktober 20, 2010

Dalam “Kamus Umum Bahasa Minangkabau Indonesia”, yang disusun H. Abdul Kadir Usman Dt. Yang Dipatuan, penerbit Anggrek Media, ada kata “ladah” di dalamnya. Arti kata tersebut, sama dengan cemar, kotor, kumuh. Arti dan makna kata “ladah”, bisa ditujukan untuk mengatakan keadaan, ucapan, maupun perilaku. Kata “ladah” bisa sepadan pula dengan jorok, apakah itu jorok untuk tempat dan jorok untuk perkataan dan perbuatan.
Baca entri selengkapnya »


KUMAYAH

Oktober 20, 2010

Diberi modal untuk berdagang, sudah disewakan pula toko, hasilnya mengecewakan. Kadang toko itu buka, kadang tutup. Akhirnya bangkrut. Bapaknya bilang, “Pajatu kumayah!” Trus, ketika dinasehati “kumayah” itu tidak baik, ia acuh tak acuh saja. Ketika kepada ayahnya dia minta diberi uang untuk ikut kursus teknisi komputer, hasilnya tetap tidak memadai. Hanya bisa mengetik yang sebelumnya dia sudah bisa. Ketika disuruh memperbaiki, atau menginstal, ia bilang belum bisa. Ternyata, dia sering tidak ikut pelajaran praktik di tempat kursus. Ketika bapaknya kebetulan bertemu dengan guru kursusnya, dapat pula kesimpulan, anaknya itu memang “kumayah”.
Baca entri selengkapnya »


KACAPUANG

Oktober 20, 2010

Dalam Kamus Umum Bahasa Minangkabau Indonesia yang dihimpun dan disusun oleh H. Abdul Kadir Usman Dt. Yang Dipatuan, terbitan Anggrek Media, terdapat kata “kacapuang”. Dalam kamus tersebut, kacapuang berarti rasa canggung. Takacapuang juga bisa dideskripsikan, suasana hati yang semula ramai, mungkin karena banyak tamu-tamu dekat, anak atau cucu tercinta, ketika tiba saatnya, mereka pamit dan pergi ke rumah masing-masing lantaran acara usai. Detik-detik awal sepeninggal mereka itulah yang kurang lebih bisa disebut sebagai rasa yang terkacapuang.

Baca entri selengkapnya »


NGAEK

Oktober 20, 2010

ilustrasi (rio)

Orang Minang punya kata: Ngaek–basingaek. Kata ngaek digunakan untuk penegasan tindakan atau perilaku yang berlebihan, yang awal katanya diberi kata Indak” atau “tidak’. Karena itu kita dengar kata basingaek (bersingaek) dalam komentar atau ucapan orang Minang untuk menanggapi sesuatu yang di berlebihan, tetapi cenderung sebagai anggapan kurang baik. Misalnya, untuk orang yang makannya banyak, orang tambah dua, dia enam, sementara ada yang belum kebagian tambah, maka orang itu kadang ada yang bilang, “Ondeh, indak basingaek makannyo, indak diagaknya orang lain”. Artinya, dia makan sangat banyak, kapasitas perutnya di atas rata-rata, punya orang pun dia embat. Tapi, indak basingaek boleh juga disebut untuk menyatakan keheranan, betapa sangat tidak berlebihan cara atau tindakan seseorang itu.

Baca entri selengkapnya »