Caliah ada untuk mengatakan yang tidak baik agar terlihat baik-baik saja

Dalam Kamus Bahasa Minangkabu  Indonesia, terbitan Anggrek Media, yang disusun dan dihimpun Abdulkadir Usman Dt. Yang Dipatuan, kata caliah berarti banyak alasan, pandai mengada-ada. Kalau kita punya teman, dia suka berbohong atau banyak alasan untuk sesuatu yang bukan sebenarnya, ia bisa disebut pancaliah. Seorang pancaliah, biasanya pandai berkata-kata, bermimik pun diupayakan terlihat seakan-akan pancaran dari hatinya yang jujur dan apa adanya. Walau setiap ketemu kita cipika-cipiki (cium pipi kiri dan cium pipi kanam, muaccch), belum tentu cihaka-cihiki (cium hati kiri dan cium hati kanan). Hati yang berciumanlah yang sesungguhnya mampu mengobati noda lantaran tak jujur.

Caliah adalah perilaku, yang sesungguhnya muncul karena perasaan gelisah, kadang memiliki sisi gelap eksistensi, yang ingin terlihat baik dan kalau boleh, mempesona. Orang caliah, lidahnya kadang menari indah, matanya bergerak bak kelilipan, napasnya agak berat dan senyumnya berupaya menyiratkan: inilah sesungguhnya. Bisa juga, untuk pembelaan dari rasa bersalah yang dalam, matanya bagai awan hitam, bibirnya bergetar, napasnya berat seakan ia bertobat dengan dada sesak. Padahal, yang lahir tidak menunjukkan batin. Ia mampu “caliah” yang intinya, dilakukan sebaik dan secaliah mungkin.

Suatu hari, saya bertemu dengan seseorang. Ia berkata, “Saya tidak akan masuk organisasi apa pun tahun ini. Saya ingin menata kerja dan program-program masa depan yang lebih sehat.” Dan, beberapa hari kemudian, saya baca koran. Ia menjadi seorang pengurus salah satu organisasi. Saya sms dia begini: katanya tidak, kok iya juga. Jawabnya, sederhana sekali, “Mau apa lagi. Tahu-tahu teman-teman membutuhkan!” Bagi saya, si teman tadi, telah caliah pada komitmen atau target yang telah ia tetapkan, termasuk momosikan dirinya untuk yang katanya, menata masa depan. Untuk orang yang begini, kita harus berpikir terbalik, kalau tidak berarti iya, kalau iya berarti mati rasanya kalau tidak iya. Artinya, untuk memaknai ucapannya, kita pun harus caliah pada arti/makna kata, masak “tidak” berarti “iya”.

Untuk bersikap, apalagi tegas, orang kita banyak terperangkap caliah. Karena, akal sehatnya sakit, hatinya lemah, ia berani berdusta untuk menyelamatkan dirinya atas pilihannya yang bertentangan dengan omongannya sehari-hari. Maka tak jarang kita ketemu orang, yang nadanya bisa begini, “Aku suka kamu tapi cintaku padanya. Atau, “Aku tidak mau main bola satu tim dengan dia, apalagi dia pelatih kepala. Bisa kacau kalau gabung sama dia.”  Namun, tiba-tiba kita tahu dia dipilih sebagai pemain inti oleh pelatih kepala yang katanya itu tak becus, ia cepat-cepat caliah dengan berkata kurang lebih begini, “Aku masuk dulu, lihat-lihat keadaanlah. Kalau tidak cocok nanti mundur. Kita lihat dulu gayanya.” Padahal, ia sesungguhnya ingin bersama sang pelatih, tapi karena temannya tak bergabung karena tidak satu visi dalam bola dengan pelatih kepala, ia berusaha main dua sisi, agar enak kiri dan kanan. Padahal, temannya yang tidak mau ikutan, tak mempermasalahkan dia bergabung. Karena caliahnya ia jadi susah.

Orang caliah dengan nuraninya, tanpa integritas, selalu memiliki jawaban yang mendustai dirinya, ketika ia sadar berada dalam posisi yang sesungguhnya mematikan nalar dan intregitasnya. Gemar berbohong, banyak alasan, suka mengada-ada, saat kini suatu yang dianggap lazim. Tantangan kita sebagai manusia yang sehat lahir dan batin, tentu makin berat. Teman kita belum tentu betul-betul teman kita. Pasangan kita, belum tentu betul-betul pasangan setia kita. Hal ini bukan ajakan untuk hidup dengan bercuriga, melainkan betapa hidup ini pun seakan memberi makna, caliah perlu ada agar kita waspada, bisa memahami sisi orang lain secara positif dengan saling mengingatkan. Kita tidak bisa memaksa orang untuk tidak “caliah” pada kita atau orang lain, tetapi, kita bisa berbuat tidak caliah pada orang lain, dan jujur pada orang-orang yang hidup di dunia luas ini bersama kita.

Orang-orang yang menyalakan “kecaliahan” dalam dirinya, ketika bertemu dengan orang-orang yang iklas dicaliahkannya, biasanya akan berkata dengan penuh busa, basa-basi dan kalau bisa penuh puja. Kita kadang terperangkap caliah, bisa lantaran untuk menyelamatkan diri, menaikkan pamor, menyenangkan hati orang. Kita, kebanyakan, tak penting, niat dan caranya salah. Yang kita butuhkan, kadang, yah sebatas untuk aman-aman-aman saja, walau yang kita lakukan itu sesungguhnya cara baik untuk mendapatkan rasa tidak aman yang lain.

Bicara caliah, lalu merenungkannya, kadang sebuah pertanyaan menghajar batin kita. Apa sih yang diharapkan dari sebuah “kecaliahan” atau “pencalihan”? Jawabnya, agar semua baik-baik saja, walau sesungguhnya tidak baik-baik saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: