LINDANG

Dalam terang, ingatlah lindangmu

Bagi orang Minang, kata “lindang” sesungguhnya tak asing lagi. Kalau diartikan menurut yang tercatat di kamus, lindang berarti tidak bersisa sama sekali; hilang; lenyap. Seorang istri, meratap, ketika semua harta dan uang simpanannya habis tandas. Ibunya mendengar derita si anak, lalu bercerita ke orang lain dengan perasaan tertekan, “Lindang semua harta anakku dibawa berjudi oleh lakinya….”

Kata “lindang” saat ini terasa kurang populer, jarang sekali digunakan dalam percakapan sehari-hari. Kata “lindang’ bukan mustahil “lindang’ pula dari khasanah percakapan (komunikasi) keseharian orang Minang, walau dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sudah dicatatkan. Setidaknya, kadang kita merasakan, kamus seakan adalah bentuk lain “museum kata”, baik masih dan tidak dipakai, agar tak lenyap dimamah zaman yang selalu melahirkan kata dan bahasanya.

“Lindang” juga berarti, misalnya, cahaya yang kita lihat tiba-tiba meredup. Terangnya melemah. Jika kita sedang berjaya, orang bilang bintangnya sedang bersinar, perlu diingat lindang juga mengintai kita. Artinya, kurang lebih begini: ketika benderang ingat lindangmu. Tujuannya, ya agar tak lupa diri saja. Agar tak kaget ketika lindang mendadak menyergap.

Ketika sesuatu yang kita harapkan, inginkan, butuhkan dilindangkan orang, perih rasanya. Rasa hormat kita barangkali, berganti menjadi benci. Ketika benci, kadang orang bisa “melindangkan” rasa cinta, persahabatan dan kasih sayang. Lindang semua rasa-rasa di hati!

Tandas lindang sama dengan nol. Nol sama dengan lindang landai. Ketika titik nol, merupakan suatu keniscayaan untuk mengawali atau mengakhiri sesuatu, “lindang” bisa bermakna untuk memulai atau mengisi kembali. Saat berikutnya, menjadi lebih mawas, agar tak lindang kedua kali.

Sekali melindangkan sesuatu menyakitkan orang, seumur hidup orang akan melindangkan kepercayaannya kepada kita. Sebab, melindangkan dengan niat buruk, kecamanlah yang tepat diberikan kepada yang bersangkutkan. Tetapi, kalau ada jamuan makan, semua hidangan lindang oleh kita bersama, atas dasar angguk, senyum dan tawa bersama pula, tuan rumah–sang penjamu merasa senang, ini namanya sekali melindangkan hidangan, semua rasa kita bahagia. Tapi, kadang lindang sering diungkapkan dengan tekanan emosi yang gerah, marah, kecewa. Walau, tak jarang pula diucapkan dalam keadaan puas, misalnya seorang ayah membelikan sate untuk anaknya. Si anak menyantap hingga habis tandas. Sang ayah berdecak, “Betul-betul suka sate anak saya. Lihatlah, lindang sama dia….”

Ketika kita membaca koran, menonton berita televisi dan juga mendengar radio, kita dengar bahwa bangsa kita termasuk negerinya para koruptor terbesar di dunia. Dari kenyataan yang kita baca, tonton atau dengar, tentu kesahnya adalah, betapa uang atau kekayaan negara yang sesungguhnya milik rakyat, sudah lindang tandas. Untuk mengusut, menjeratnya secara adil dengan hukum yang berlaku,sebagaimana kita tahu dari membaca, mendengar dan menonton, kok kayaknya kekuatan hukum kita, baik ia dilihat sebagai cahaya maupun harta kebenaran, rasanya juga sudah lindang.

“Lindang”, kata ini, seperti eksistensinya, juga terancam punah. Ketika kita mencoba mengucapkannya, merasakannya, ada ruh yang sesungguhnya memikat. Sebagai kata, makin banyak orang tak memakainya, ia semakin menarik digunakan. Ritmanya pun memesona, karena memang ia kadang seakan merupakan teman kata dari lindap, pupus, habis, tandas, tak ada, bokek, punah, tuntas dan sebagainya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: