SYAK

–yusrizal kw

Syak wasangka, memang itulah dunia kita untuk bercuriga.Ketika kata “syak” kita sebut, biasanya “wasangka” talian kata berikutnya.

Kala ada syak wasangka di antara kita, ini jelas merupakan hal yang menggelisahkan. Karena, kita tahu, ketika syak tertunjuk padaku atau padamu, artinya adalah kita sedang mengalami “jatah” dicurigai, diragukan atau disangsikan. Hal demikian terjadi, boleh jadi karena selama ini, kita telah membuat orang punya pijakan tentang syak wasangka yang ditujukan kepada kita.Perilaku, perangai masa lalu bisa sebagai acuannya.Atau, sebagai orang yang suka syak, menaruh curiga, kita selama ini memang betul-betul melakukan tindakan yang membuat syak wasangka makin abadi di dalam diri kita. Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya.Bahkan, seumur hidup, ada pula, walau sudah baik niat dan kerja kita, orang selalu menancapkan syak.

Syak atau wasangka, pikiran buruk yang membuat kita berada dalam geliat prasangka. Semua, mulai dari hati, sampai ke pikiran, kadang seakan udara yang kita hirup pun, bergerak dan hidup dalam saling menyangsikan.Kita meragukan orang lain, jangan-jangan ada udang di balik batu kala ia tergegas dan bahagia ingin membantu kita.Padahal, sesungguhnya, orang memberi karena memang begitu kesemestian hidup, kala melihat ada sisi lain untuk menerima.Kadang kita cemas. Saking banyaknya hal-hal yang tak bisa dipercaya, ke hal-hal yang sesungguhnya benar, kita pun curiga. Saking seringnya dibohongi, seseorang pun bisa terpulun prasangka atau rasa tak percaya pada orang lain. Suatu hari, sekelompok orang, dari sebuah lembaga pendidikan, mengantar bantuan kepada para keluarga miskin di suatu tempat.

Tim sosial ini, setiba di tempat yang dituju, merasa dicuekin warga yang telah dipetakan sebagai kategori kurang beruntung secara ekonomi. Setelah ditemui salah seorang di antara mereka, lalu dijelaskan maksud dan tujuan, asal usul lembaga, orang-orang tersebut pun menyambut dengan terbuka. Penuh senyum. Tapi, kenapa mereka memulai dengan syak wasangka.Ceritanya begini.Suatu hari, orang-orang partai politik datang menemui mereka. Pakai baju atau kasarnya serba beratribut partai. Ternyata, orang partai ingin memberi bantuan.Cuma, bantuan yang akan diberikan, katanya masih dalam perjalanan. Cuma, sebagai simbol niat baik, diserahkan sebuah kotak mie instant. Salah seorang untuk mewakili kelompok masing-masing maju, saling bersalaman, Difoto wartawan.

Diwawancarai. Besoknya berita keluar koran. Sementara bantuan tak pernah sampai. Tapi, mereka sudah mengatakan pada masyarakat luas melalui koran, telah memberikan bantuan. Karena itulah, kadang orang miskin, sering bersyakwasangka pada hal-hal yang sifatnya bantuan, orang berlagak dermawan. Tak salah, kaum papa sering nyeletuk, bermuatan prasangka. Mereka dengan lugas mengatakan syaknya, bahwa sebagai orang miskin kadang mesti dimakan anjing pula. Dibohongin!
Syak adalah wasangka yang membuat seseorang merasa harus benci pada orang lain. Dengan membiarkan syak tumbuh dalam hati, kita bisa menebarkannya kepada orang lain, untuk bersyakwasangka seperti kita.

Kadang, memang bebal, kalau tak mungkin mengatakan kita hidup dalam kategori menjengkelkan hati sehat, Syak, menaruh sangsi pada orang, sesungguhnya kita sama-sama tahu, bahwa itu tak baik. Bahwa itu adalah perasaan yang menyala karena pikiran negatif, apriori dan merasa tak nyaman saja dengan jiwa sendiri. Syak menikam diri, dan membuat perasaan kita tak nyaman, karena kita tahu, sesungguhnya benciku padamu sulit dicarikan alasanya. Mungkin saja, ada dengki, atau iri, sehingga misalnya, ketika teman kita berdiskusi, kita bersyakwasangka, bahwa teman tersebut sedang menjual program, memproyekkan pemikiran teman-teman untuk kepentingan pribadi. Padahal, sang teman berniat baik dengan cara yang baik.

Cuma, karena memang “syak” selalu melekat di hati, ia untuk hal-hal yang mestinya baik-baik saja, malah terbangun dan menggerakkan pikiran negative kita.Lalu, kita pun berpikir, jangan-jangan orang menaruh syak pada orang lain, karena dia memang dalam menjalani hidup memiliki bagian penting merasa tak ingin terganggu oleh hal-hal yang positif pada orang lain, karena curiga kepositifan orang lain melahirkan kenegatifan bagi kita yang kadang tak pernah berpikir, bahwa hati perlu dicerdaskan, dicerahkan agar tak berselimut syak.Meragukan seseuatu, katakanlah seseorang, sesungguhnya meragukan sesuatu yang kita ragukan itu apakah patut untuk benar-benar kita ragui.

Halaman STRES! Harian Pagi Padang Ekspres, Edisi 8 Juli 2007

Iklan

One Response to SYAK

  1. mangkodo tompa berkata:

    Lah lamo awak tacari-cari situs nan mampajaleh kosa kata jo ekspresi minang kalasik/lamo untuak peneliti budaya minang. Disiko rupo e situs nan rancak bana. Timo kasiah banyak ka bakeh da Yusrizal KW. Agiahan taruih usaho nan murni ko

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: