GALEMEANG

Galemeng atau galemeang sama saja. Artinya juga sama. Kalau diterjemahbebaskan bisa pula berarti: sedikit sekali, sangat kecil, belum apa-apa. Kalau dikiaskan, seujung kuku. Yah, sekelas dengan secuillah.

Kata gelemenang menyiratkan, bahwa kata dari bahasa Minang ini, merupakan jawaban bagi kata yang artinya lebih sedikit, lebih kecil atau lebih minim. Kata itu ada tanpa beban. Ia menjadi beban, ketika orang menggunakannya untuk tidak rasa syukur. Diberi pembagian sedikit seorang, tapi bilangnya, “Sagalemeang bisa dia beri….” Kalau tak diberi, “Sagalemang saja tak terberi olehnya. Makan sendiri saja.”

Nah, orang yang mendengar (mungkin sang pemberi tulus iklas memberi) akan tersinggung. Tersinggungnya karena ada kata “galemeang”. Kata itu, terasa melecehkan, bukan karena kata itu bermuatan penghinaan. Tetapi penyampaiannya dengan nada yang remeh, padahal mestinya alhamdulillah. Harusnya, kata orang-orang yang beraliran pikiran positif, hal kecil bisa bermakna jika disampaikan dengan cara positif dan bermakna pula. “Segelemang apa pun, kita terima dengan rasa syukur. Untung diberi segelemang, kalau tidak, kita tidak merasakan rasa berbagi yang kadang bukan dilihat dari ukuran, tapi niatnya….”

Ada juga, kata gelemeang ini dikomunikasikan dengan senyum. Misalnya, dia minta, tapi senyumnya manis. “Minta agak segelemang ya!” Itu arti mendalamnya, ia minta dibagi, yang bisa saja jauh di atas galemeang. Mungkin cukup banyak atau sedikit agak banyak. Seorang ibu, yang melihat anaknya makan goreng ubi, lalu tanpa minta dan aba-aba, mengupil sedikit. Anaknya menangis. Ia pun mengembalikan, “Ondeh, segelemeang diambil nangis pula kamu, Yuang!”

Kalau kita baru berpangkat, walau lumayan tinggi, tapi sombong dan tinggi hati, orang juga tidak suka. Dia akan mencemoohkan kita atau malah meremehkan pangkat kita. “Baru pangkat segelemeang itu, sudah sombong dia. Belum apa-apa, seperti mau dimakannya kita semua,” begitulah kurang lebih irama cemooh yang dialamat kepada kita, baik di depan maupun di belakang kita. Dan ada pula orang yang tersinggung oleh kita, padahal kita tidak bermaksud menyinggung hatinya, tapi dia malah bawa-bawa pangkat. Menjadikan pangkat atau jabatan kita dihantamnya dengan menekankan kata galemeangnya dengan tujuan supaya kita merasa terhina. “Pangkat segelemeang itu jangan dibangga-banggakan kepada saya. Belum apa-apa itu. Saya pula kamu permainkan, Yuang”.

Kata galemeang memang kata yang unik dan relatif jarang terdengar diucapkan. Tetapi, kata ini sesungguhnya untuk komunikasi, baik dalam daya humor, cemooh, hina dan merendah hati, sangat menarik juga. Kalau orang kaya sedikit nyombong, dia akan bilang, “Harta kekayaan segelemeang ini apalah. Dibanding mantan presiden Soeharto belum apa-apanya”. Kita tahu, mobil mewahnya tiga, rumahnya megah dan tokonya lima. Kemudian, seorang ilmuwan pun bisa merendahkan hatinya dengan kalimat, “Ilmu saya baru sagalemeang, perlu menimba dan belajar lebih banyak lagi!” Begitu juga, ada orang ngutang uang temannya Rp15 juta, ketika diminta dia malah jawab, “Uang segelemeang itu kamu minta berkali-kali.” Gila, Rp15juta gelemeang juga katanya.

Kadang ya, kita memang, bisa membesarkan masalah, mengecil-ngecilkan masalah. Kita kadang juga bisa melebar-lebarkan persoalan yang mestinya dipersempit, sebagaimana kita juga kadang meremehkan hal yang besar. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: