CALIAH

Oktober 21, 2010

Caliah ada untuk mengatakan yang tidak baik agar terlihat baik-baik saja
ilustrasi
Dalam Kamus Bahasa Minangkabu  Indonesia, terbitan Anggrek Media, yang disusun dan dihimpun Abdulkadir Usman Dt. Yang Dipatuan, kata caliah berarti banyak alasan, pandai mengada-ada. Kalau kita punya teman, dia suka berbohong atau banyak alasan untuk sesuatu yang bukan sebenarnya, ia bisa disebut pancaliah. Seorang pancaliah, biasanya pandai berkata-kata, bermimik pun diupayakan terlihat seakan-akan pancaran dari hatinya yang jujur dan apa adanya. Walau setiap ketemu kita cipika-cipiki (cium pipi kiri dan cium pipi kanam, muaccch), belum tentu cihaka-cihiki (cium hati kiri dan cium hati kanan). Hati yang berciumanlah yang sesungguhnya mampu mengobati noda lantaran tak jujur.
Baca entri selengkapnya »

Iklan

GALEMEANG

Oktober 21, 2010

Galemeng atau galemeang sama saja. Artinya juga sama. Kalau diterjemahbebaskan bisa pula berarti: sedikit sekali, sangat kecil, belum apa-apa. Kalau dikiaskan, seujung kuku. Yah, sekelas dengan secuillah.
Baca entri selengkapnya »


KAPERE

Oktober 20, 2010

Kapere, keindahan untuk menyuburkan kebermaknaan

Ada kata yang, barangkali oleh sebagian besar kaum muda Minangkabau, tidak dikenalnya sama sekali. Atau, saya yang memang abai mendengar atau menemukan kata tersebut dalam kehidupan sehari-hari selama ini? Entahlah!
Suatu siang, ketika menemani orang rumah (istri) ke Pasar Siteba, saya mendengar kata yang menggoda “rasakata” saya. Kata itu adalah: “kapere”. Seorang perempuan tua penjual sayur, ketika ditanya keadaan anaknya yang di Batam, ia menjawab, ”Inyo sadang kapere kini. Tapi, baa juo lai. Awak di siko takapere pulo. Sagalo maha!Apo lai di Batam” (Dia sedang kapere kini. Tapi bagaimana lagi. Kita di sini takapere juga. Segala mahal. Apalagi di Batam).

Baca entri selengkapnya »


BARANGIN

Oktober 20, 2010

Ada yang menarik di orang Minang ini. Menggelari atau menyebut orang “barangin”, arti yang ditawarkannya bisa membuat kita mengangguk (kalau memang dia berangin), tersenyum simpul (kalau ungkapan itu sindiran gurau) atau kita sendiri yang dikatakan “barangin” dan mendengarnya malah cengengesan, sembari mengumpat, “Kurang ajar!”

Barangin ternyata sama dengan kurang waras, tidak bisa jadi pegangan, suka asyik dengan diri dan pikiran sendiri. Barangin boleh juga sebutan orang yang nekat (Hati-hati, dia barangin itu…) Suka diasung. Ada pula orang, kalau ada temannya yang tidak punya rasa malu, tidak pernah pakai etika di mana pun dia ada, maka enak saja dibilang, “dia barangin”. Kalau ada yang marah, maka akan ada pula yang menyela, “Biar sajalah, dia barangin…. Kalau marah kita ke dia, kita pula yang barangin namanya….”

Baca entri selengkapnya »


LINDANG

Oktober 20, 2010

Dalam terang, ingatlah lindangmu

Bagi orang Minang, kata “lindang” sesungguhnya tak asing lagi. Kalau diartikan menurut yang tercatat di kamus, lindang berarti tidak bersisa sama sekali; hilang; lenyap. Seorang istri, meratap, ketika semua harta dan uang simpanannya habis tandas. Ibunya mendengar derita si anak, lalu bercerita ke orang lain dengan perasaan tertekan, “Lindang semua harta anakku dibawa berjudi oleh lakinya….”
Baca entri selengkapnya »


LADAH

Oktober 20, 2010

Dalam “Kamus Umum Bahasa Minangkabau Indonesia”, yang disusun H. Abdul Kadir Usman Dt. Yang Dipatuan, penerbit Anggrek Media, ada kata “ladah” di dalamnya. Arti kata tersebut, sama dengan cemar, kotor, kumuh. Arti dan makna kata “ladah”, bisa ditujukan untuk mengatakan keadaan, ucapan, maupun perilaku. Kata “ladah” bisa sepadan pula dengan jorok, apakah itu jorok untuk tempat dan jorok untuk perkataan dan perbuatan.
Baca entri selengkapnya »


KUMAYAH

Oktober 20, 2010

Diberi modal untuk berdagang, sudah disewakan pula toko, hasilnya mengecewakan. Kadang toko itu buka, kadang tutup. Akhirnya bangkrut. Bapaknya bilang, “Pajatu kumayah!” Trus, ketika dinasehati “kumayah” itu tidak baik, ia acuh tak acuh saja. Ketika kepada ayahnya dia minta diberi uang untuk ikut kursus teknisi komputer, hasilnya tetap tidak memadai. Hanya bisa mengetik yang sebelumnya dia sudah bisa. Ketika disuruh memperbaiki, atau menginstal, ia bilang belum bisa. Ternyata, dia sering tidak ikut pelajaran praktik di tempat kursus. Ketika bapaknya kebetulan bertemu dengan guru kursusnya, dapat pula kesimpulan, anaknya itu memang “kumayah”.
Baca entri selengkapnya »