LADAH

Dalam “Kamus Umum Bahasa Minangkabau Indonesia”, yang disusun H. Abdul Kadir Usman Dt. Yang Dipatuan, penerbit Anggrek Media, ada kata “ladah” di dalamnya. Arti kata tersebut, sama dengan cemar, kotor, kumuh. Arti dan makna kata “ladah”, bisa ditujukan untuk mengatakan keadaan, ucapan, maupun perilaku. Kata “ladah” bisa sepadan pula dengan jorok, apakah itu jorok untuk tempat dan jorok untuk perkataan dan perbuatan.

Lingkungan kita “ladah”, artinya lingkungan kita telah tercemar. Knalpot kendaraan menyesakkan dada, sungai bersampah, saluran got mampet, orang buang sampah sembarangan, perokok sesuka hati menghembuskan asapnya dari mulut. Kata “ladah”, bisa menawarkan arti, sesuatu yang menimbulkan suasana lingkungan, diri, keadaan kurang “sehat’. Simpulannya, kita harus terhindar dari segala bentuk yang “ladah”. Jika tidak, tentulah ladah pula kita dibuatnya.

Si “mulut ladah”, ungkapan ini, barangkali cocok kita arahkan kepada orang yang suka bercarut, berkata kotor dan suka ngeres. Istilah urang awak, muncuangnyo “ka kida” sajo, jorok dan tak sopan. Orang bermulut ladah, orang yang carut, kata-kata kotor alias tak senonoh, sudah seperti gula-gula kesehariannya. Kalau tak bercarut, tak senang hatinya. Terasa ada yang kurang dalam hidupnya pada hari itu. Orang yang mendengar, kalau sudah tahu dia bermulut ladah, ya mengangguk-angguk saja, memaklumi, paling kurang, kita bergumam, bagaimanakah dia dididik dalam keluarga. Atau, jangan-jangan keluarganya juga “ladah” mulutnya.

Ruang atau tempat atau lingkungan yang ladah, membuat pikiran kita pun ladah. Pikiran “ladah” dalam hal ini, tentu tidak bisa diajak berpikir tenang, apalagi diminta untuk melahirkan ide-idenya. Namun, ada pula orang, di tempat ladah, ia bisa terinspirasi, karena mungkin, ia terbiasa pula dengan lingkungan ladah. Tapi, kalau bicara ideal, ladah jelas bukan sesuatu yang ideal. Karena, bukankah kebersihan, merupakan hal sehat, semua orang dianjurkan untuk hidup dalam lingkungan yang jauh dari kotor.

“Otaknya ladah,” seseorang bisa saja melontarkan kalimat tersebut, ketika ia melihat atau mengingat teman atau kenalannya yang suka berpikiran negatif. Otak ladah, bisa saja istilah gurauan atau serius. Kegemarannya nonton film porno dan memandang orang dengan ukuran libido. Otak ladah, boleh pula kita sebutkan kepada orang yang suka berprasangka, yang sesungguhnya, tepat pula kita menyebutkan hatinya ladah. Dengki, iri hati, tamak, perilaku dan hati ladah, kurang lebih kita bisa melabelkan bagian dari itu.

Rezeki ladah, ini dia. Para koruptor, kaya raya, anaknya dan istrinya, bermewah ria, dengan uang hasil korupsi. Ia banyak senyum, walau sesekali hatinya berdampung; berdebar, ditangkap, dipenjarakan. Lalu, ia tak bisa menegakkan kepala, begitu juga anak istri yang suka foya, karena sudah semakin jelas menjadi “manusia ladah”, sampah masyarakat lantaran maling uang rakyat. Rezeki ladah, uang atau harta yang didapat dari maling, mencuri, menipu, atau dengan cara yang dilarang oleh agama.

Kata “ladah’, adalah kata, yang dalam kolom rasakata ini, bisa secara positif kita jadikan sebagai pesan, dimana sesungguhnya hidup bersih lahir dan batin, bermartabat lahir dan batin, menempatkan kebenaran pada tempatnya, adalah mutlak. Karena, saat ini, kita seakan terladahkan oleh nilai-nilai, yang pada sisi tertentu, kita seakan tidak memiliki kemampuan untuk memastikan, apakah maslahat bagi kehidupan, apakah mudarat bagi kemanusiaan, apakah telah masuk kekategori “dilarang” dengan acuan moral atau agama?

Ladah, adalah posisi di mana kita membutuhkan pikiran jernih, untuk membersihkan pikiran yang kotor. Ladah adalah posisi di depan kita, yang mendorong membersihkan hati yang kotor dengan hati yang suci. Ladah adalah, dimana ruang-ruang fisik yang kotor, memerlukan sentuhan untuk nyaman dilihat dan disinggahi apalagi dihuni.

Ladah adalah, berpikir negatif, merugikan orang lain, membiarkan lingkungan tercemar sembari ikut mencemarkan dianggap sebagai sesuatu yang posutf. Karena itu, “ladah” ini, harus ditiadakan dalam hidup, dengan pikiran kekuatan hati dan pikiran, membersihkan sesuatu yang membuat hidup kita “meladah”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: