KUMAYAH

Diberi modal untuk berdagang, sudah disewakan pula toko, hasilnya mengecewakan. Kadang toko itu buka, kadang tutup. Akhirnya bangkrut. Bapaknya bilang, “Pajatu kumayah!” Trus, ketika dinasehati “kumayah” itu tidak baik, ia acuh tak acuh saja. Ketika kepada ayahnya dia minta diberi uang untuk ikut kursus teknisi komputer, hasilnya tetap tidak memadai. Hanya bisa mengetik yang sebelumnya dia sudah bisa. Ketika disuruh memperbaiki, atau menginstal, ia bilang belum bisa. Ternyata, dia sering tidak ikut pelajaran praktik di tempat kursus. Ketika bapaknya kebetulan bertemu dengan guru kursusnya, dapat pula kesimpulan, anaknya itu memang “kumayah”.

Kata “kumayah” saya dapat dari Kamus Umum Bahasa Minangkabau Indonesia, yang disusun oleh H. Abdul Kadir Usman Dt. Yang Dipatuan, terbitan Anggrek Media. Kata itu ternyata sepadan, atau kurang lebih memiliki spirit yang sama dengan kata: cuai, cayah, cupai, saeme. Kata itu bisa berarti: suka mengabaikan hal penting, tidak serius, setengah hati, baik dalam mendengarkan pelajaran, mengerjakan sesuatu atau menunaikan sesuatu yang diniatkan sebelumnya. Ungkapan lainnya: Tidak sepenuh hati, kurang total. Semangatnya tidak menggebu-gebu.

Maka, kembali kepada si bapak yang kecewa kepada anaknya tadi, kalau dia memaki anaknya dengan kata “kumayah”,  maka bisa begini terdengarnya: “Waang indak tau diuntuang. Waang kumayah, cayah, cuai, cupai, saeme. Lai jaleh dek waang, bahabih bana den mambiayai, indak ka manjadi bagai doh….” (Kamu tidak tahu diuntung. Tidak serius. Ada jelas olehmu. Habis-habisan pun saya membiayai, tidak bakalan jadi deh….). Itu kalau sangat emosional, marah dalam naik darah. Kalau yang bijaksana, “Nak, jangan setengah-setengah kalau melakukan sesuatu. Cuai, cupai, saeme itu tidak baik.” Ehem.

Kata “kumayah” saat ini, mungkin tak terlalu akrab di telinga orang Minang. Kata itu sudah terdengar teramat jarang dituturkan orang awak. Paling yang sering kita dengar saudara kembar dari kata itu, “cayah….” Kata cayah, tampaknya lebih sering kita dengar, seakan, dia menjadi wakil bagi kata kumayah, cuai, cupai dan saeme….” Tetapi. Kehadiran kata cayah, walau dalam kamus yang menjadi sumber kata ini, artinya setengah hati, keseharian kita mendapatkan kata cayah dalam artian remeh, kurang etis, remeh temeh tampaknya. Setelah disigi arti dan makna semua kata dari “kelompok” kata yang di kamus diartikan (bisa) searti, ada tautan tersiratnya. Orang cayah, remeh temeh, karena dia tak sepenuh hati memahami hal yang berkaitan dengan etika diri, sosial serta segala sesuatu yang menuntut hal yang positif.

Kata-kata Minang yang terkutip dalam tulisan ini, memberi inspirasi, bisa saja begitu, untuk kita memainkan arti atau makna. Misalnya kita bisa saja mengangguk, kalau seseorang datang mengatakan, “Hei bung, kata itu hadir memiliki amanah. Kalau dia diucapkan pengarang puisi, amanahnya tentu beda dengan amanah yang diucapkan oleh seorang pejabat….” Kalau pengarang puisi mungkin bisa saja berkata, bulan kumayah di langit, melihat hatimu cuai…, tapi pejabat bisa saja akan pakai kata kumayah dengan antusias, “Jangan setengah-setengah jadi dari pada pengarang puisi. Kalau dari pada itu terjadi, maka pengarang puisi akan menjadi dari pada kumayah. Nah, kalau ingin jadi dari pada penyair yang hebat, jangan kumayah!” Hahaha!

Kadang, saya menemukan gurauan hangat pada kata, sebagaimana saya menemukan dia teronggok untuk diucapkan dengan nada sedih, ungkapan dari hati, dituturkan dengan sangat intelek dan sebagainya. Kata “kumayah”, kata yang mungkin saat ini sepi dari penutur Minang. Tetapi, arti, makna kata itu, untuk menegaskan ada realita atau ada contoh atau bukti orang yang “tidak sepenuh hati” mendengar, memaknai, mengerjakan sesuatu yang diamanahkan, dipercayakan, masih kita dengar tanpa kehilangan: Jangan setengah-setengah. Kalau mesti menyangkut hati, harus sepenuh hati. Kalau menyangkut semangat, harus menggebu-gebu. Kalau menyangkut belajar harus tekun. Kalau menyangkut sedekah harus iklas (iklas juga merupakan jawaban dari sepenuh hati).

Kalau menyangkut pemberantasan korupsi?
Nah ini dia: kita melihat masih kumayah! Payah!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: