KACAPUANG

Dalam Kamus Umum Bahasa Minangkabau Indonesia yang dihimpun dan disusun oleh H. Abdul Kadir Usman Dt. Yang Dipatuan, terbitan Anggrek Media, terdapat kata “kacapuang”. Dalam kamus tersebut, kacapuang berarti rasa canggung. Takacapuang juga bisa dideskripsikan, suasana hati yang semula ramai, mungkin karena banyak tamu-tamu dekat, anak atau cucu tercinta, ketika tiba saatnya, mereka pamit dan pergi ke rumah masing-masing lantaran acara usai. Detik-detik awal sepeninggal mereka itulah yang kurang lebih bisa disebut sebagai rasa yang terkacapuang.

Perasaan terkacapuang atau takacapuang, bisa juga diartikan perasaan lengang tiba-tiba, yang seakan-akang ngiang suara-suara ramai dan menyenangkan masih di sekitar daun telinga, tetapi sesungguhnya tidak ada. Kita bisa tersenyum dalam takacapuang, karena biasanya perasaan canggung yang indah itu, bermakna ketika kalian pamit dari diriku sebagai keramaian yang membahagiakan dengan penuh senyum, aku canggung, karena keramaian yang indah itu sesungguhnya meninggalkan kacapuang di hati. Ia bisa menimbulkan rindu, untuk dikunjungi atau mengunjungi, agar hati selalu bisa dielus perasaan terkacapuang untuk merasakan, canggung bermula dari ketika kita saling tertawa bersama.

Kacapuang, kita pernah mengalaminya. Misalnya, ketika ada keluarga kita baralek, setelah alek usai, para tamu pergi. Kita duduk tersandar, mata menerawang, orang lengang, dan hati kita terasa tak menentu. Barusan, kita disalami, berbasa-basi, mempersilakan tamu-tamu duduk dan menikmati hidangan, bahkan saling peluk dan bertanya kabar baik. Kok, tiba-tiba, kini hanya kita yang tinggal, pihak keluarga, dengan perasaan yang mungkin sama: takacapuang. Kecanggungan yang lazim, kala kita merasa tiba-tiba tersepikan dari keramaian yang rasa-rasanya masih dalam ingatan kita.

Kacapuang, ya kacapuang, kadang merupakan rasa dimana kita tidak siap menerima dan menikmatinya. Karena, banyak kita ingin selalu berada dalam suasana ramai, tertawa bersama, merasa terbebas dari perasaan lengang. Sehingga, ada orang yang ingin selalu memuja keramaian, kebersuaan satu sama lain, sehingga makna kacapuang tak terasakan sebagai makanan jiwa, hati yang perlu rasa lengang nan canggung untuk kekayaan batin. Karena itu, banyak orang, baik disadari atau tidak, merasa dikcapuangkan oleh suasana-suasana yang diciptakannya. Sehingga, ia seakan berteriak, aku cinta keramaian, koar sana-sini dan tertawa. Ketika kacapuang menyergapnya, ia terperangah dan mengatakan, suntuk. Padahal, kesuntukan adalah, bisa jadi, karena gagal memaknai hakikat kacapuang, kecanggungan yang diperlukan untuk harmonisasi emosi dan nilai-nilai kehidupan. Makna-makna yang seakan bisa dikatakan, untuk mengajari kita, keramaian atau kunjungan maupun tetamu yang datang dengan rasa cinta, jika ia pergi dengan rasa cinta, akan membuat kita meyakini: butuh perhatian dan memperhatikan antarsesama.

Takacapuang juga bisa jadi, waktu kita menjabat (punya jabatan pentinglah), banyak tamu dan kawan-kawan yang datang. Selalu antre orang ingin bertemu kita. Silih berganti orang datang dan pergi dari ruang atau hadapan kita. Mereka yang silih berganti datang pergi itu, sesungguhnya tidak meninggalkan perasaan terkacapuang. Tetapi, yang terkacapuang itu adalah, ketika jabatan kita digantikan orang lain, tidak di posisi yang penting-penting amat. Kenyataan hati yang menyergap tiba-tiba itu, kecanggungan yang mendekam di hati dan pikiran, dari ramai dikunjungi dan banyak membutuhkan, menjadi hal sebaliknya, suasana hati demikian juga bisa disebut takacapuang. Rasanya masih kemarin, orang-orang itu datang, menyalami dan tersenyum serta membagi cerita bahagia. Kini, kemana mereka? Inilah, wujud lain, takacapuang.

Kacapuang, kalau kita sadari dengan arif, sebenarnya merupakan letupan sedrhana untuk menyalakan api-api hangat yang tidak mampu membesar dan membakar. Karena, ia biasanya, objektifnya, dicetuskan oleh rasa yang mendalam. Bentuk lain suasana hati yang ditopang rasa bahagia dan senang hati. Karena itulah, kita cenderung merasa sepi, senyap walau, ya itu tadi, suara-suara itu, tawa dan canda serta senyum itu masih seakan-akan di sekitar daun telinga, di depan mata yang bolanya berbinar.

Kacapuang, penafsiran atau pendeskripsiannya juga bisa macam-macam. Intinya, bisa jadi, kita memahaminya sebagai suasana penting sekembali dari suatu tempat atau suasana yang mengembirakan. Kacapuang juga bisa berarti, oleh orang tertentu, kecanggungan dari penting ke perasaan tidak menjadi orang penting, walau sesungguhnya dia masih penting. Tapi karena ukuran penting baginya adalah sejauh mana orang masih mau menunduk, menjilat dan patuh padanya (bukan segan dan hormat), ketika semua yang dikarenakan jabatan dan salah tafsir menjunjung amanah itu tidak ada lagi, digantikan orang lain, perasaan yang ada adalah canggung. Canggung yang memiriskan sesungguhnya. Tetapi, peralihan suasana, yang masih terngiang orang menjilat, menunduk dan patuh serta tersenyum pura-pura kepada kita (kita tak tahu bahwa itu pura-pura), mungkin hal begini, juga kacapuang. Rasanya, kemarin masih ramaio-ramai mereka menunduk, berkata ya pak sambil sedikit membungkukkan badan. Kini kok tidak.

Kacapuang, juga bisa jadi perasaan dimana merasa canggung secara spiritual ketika tiba-tiba kita berpisah dengan kaum miskin, anak yatim piatu, atau keiklasan berzikir pada-Nya. Kacapuang adalah kecanggungan, ketika kau hal yang baik sebagai kebahagiaan melenyap, bukan untuk hal yang buruk, tetapi untuk pertemuan—silatturahim berikutnya, agar batin menikmati dan memaknai kacapuang yang makin memperkaya diri dan bergumam, berpisah dengan kegembiraan dan keramaian yang baik, sesungguhnya menawakan kacapuang untuk masuk ke ruang menung renung yang barangkali, kita merasa, betul-betul indah rasa yang diberi oleh Sang Pencipta kepada kita, untuk belajar tentang hati yang diberikan-Nya!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: