ANGGAU

Juli 1, 2007

–yusrizal kw

Anggau ada untuk kemawasdirian

Kata anggau bagi kita orang Minang, lazim didengar dulunya. Kini mungkin agak jarang. Tak apa. Kata tersebut untuk menegaskan, betapa ketika kita menjalani hidup, ada hal-hal yang membuat kita meyakini, suatu yang manusiawi dalam diri dan dirasakan seseorang.

Baca entri selengkapnya »


SARIT

Juni 30, 2007

–yusrizal kw

Bersarit-sarit kemudian bermakna

Ada kata “sarit” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dalam bahasa Minang pengucapannya menjadi sarik. “Sarit” dan “sarik” sama-sama berarti susah, sukar dan sulit.

Baca entri selengkapnya »


KALENCONG

Juni 24, 2007

–yusrizal kw

Terkalencong, tak hanya pada sasaran, tapi hati pun juga

Kalencong artinya tidak tepat pada sasaran. Bisa juga disebut sebagai menyimpang. Orang Minang, tentu kenal kata ini. Kalencong sama dengan kencong, tidak pas.Lain gatal lain pula yang digaruk. Orang ngantuk diberi tongkat, orang buta diberi bantal, kalencong juga namanya. Artinya, tidak tepat pada titik sasaran.Dalam mengartikan dan memaknai kata, kita kadang menemukan kata yang berarti atau bermakna sesungguhnya. Untuk kata “kalencong”, sesuai “kodrat” kata tersebut, arti dan maknanya bisa saja dikalencongkan oleh penggunanya.Baik untuk ungkapan positif, atau sebaliknya.Seorang teman, baru terpilih jadi ketua organisasi.

Baca entri selengkapnya »


KACAPUANG

Juni 17, 2007

Kacapuang, kadang kesenyapan yang menyala di hati

Dalam Kamus Umum Bahasa Minangkabau Indonesia yang dihimpun dan disusun oleh H. Abdul Kadir Usman Dt. Yang Dipatuan, terbitan Anggrek Media, terdapat kata “kacapuang”. Dalam kamus tersebut, kacapuang berarti rasa canggung. Takacapuang juga bisa dideskripsikan, suasana hati yang semula ramai, mungkin karena banyak tamu-tamu dekat, anak atau cucu tercinta, ketika tiba saatnya, mereka pamit dan pergi ke rumah masing-masing lantaran acara usai. Detik-detik awal sepeninggal mereka itulah, yang dirasakan hati, kurang lebih bisa disebut sebagai rasa yang terkacapuang.

Baca entri selengkapnya »


GAHAM

Juni 11, 2007

Setiap gaham ada maunya!

Kata “gaham” mulai kurang akrab—jarang digunakan orang Minang, terutama kaum mudanya saat ini. Kita lebih banyak memakai atau mendengar arti lainnya dalam kata yang umum pada bahasa Indonesia, yaitu gertak. Selain itu, gaham boleh juga disebut intimidasi, menakut-nakuti atau mengancam. Tesaurus Bahasa Indonesia terbitan Gramedia yang disusun Eko Endarmoko, telah terdapat kata “gaham” di dalamnya. Gaham, digaham, menggaham adalah kata yang kadang memberi warna untuk hidup kita. Ketika digaham, kita merasa terancam atau terhina sehingga ingin menggaham balik atau pasrah saja. Ada juga yang ketika sakit hati digaham, dia mencari orang lain untuk melindungi dirinya, pun untuk membalas gaham orang tersebut.

Baca entri selengkapnya »


BICARA

Maret 21, 2007

Oleh: Yusrizal KW

Bagi banyak orang bicara itu mengasyikkan, apalagi tanpa kerja!

Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif dalam Diskusi “Studi Agama dan Masyarakat: Minangkabau menjawab Persoalan Kemanusiaan”, 14 Maret lalu di Gedung Balitbangda Sumbar, menyela ceramahnya dengan sentilan yang disampaikan dengan nada humoris. Katanya: Orang Amerika banyak bicara banyak bekerja, orang Jepang sedikit bicara banyak bekerja, orang India banyak bicara sedikit bekerja. Sedangkan orang Indonesia? Banyak yang dibicarakan, hampir tidak ada yang dikerjakan. Memang, orang Indonesia, kita khususnya di Minangkabau, terbilang hidup di negeri kata-kata dan berkata-kata.

Baca entri selengkapnya »


GURETEH

Maret 11, 2007

Gureteh, angguk dalam tidak, bicara penuh busa. Ada pesan, hati-hati dengan “orang-orang gureteh”.

Terhadap orang gureteh, tak perlu serius. Apalagi berharap. Dengarkan, lalu lupakan. Gureteh, menurut Kamus Bahasa Minangkabau Indonesia, yang disusun H. Abdul Kadir Usman, terbitan Anggrek Media, berarti banyak cakap, tanpa suatu yang dapat dibuktikan kebenarannya atau tak satu pun yang dapat dipegang. Dalam Kamus Lengkap Bahasa Minang, Drs.Gozali Saydam, BC.TT “gureteh” berarti ciloteh, cakap besar atau hanya omong besar. Gadang ota.

Baca entri selengkapnya »


SOLANG

Maret 4, 2007

Menyolang kadang menolong orang membaca diri Walau ada yang tak tahu, banyak juga orang Minang mengenal kata “solang”.

Solang, disolang, menyolang punya kekuatan arti yang intinya: bantah, dibantah atau membantah. Dalam kehidupan, bantah membantah, sering kita lakoni sebagai tingkahan hidup. Sebagai pertanda kita hidup, segala sesuatu yang kita lakukan baik perbuatan maupun perkataan, solang merupakan “bumbu” penyedap yang kadang sekaligus obat untuk ego yang sakit. Tak jarang pula, racun untuk hati yang tak cerdas, karena melihat hal demikian sebagai pelecehan. Solang, sesungguh merupakan tanda, di mana kita hidup, ada hal yang tak terbantahkan, ada pula yang terbatalkan atau terpaksa disolangbatalkan.

Baca entri selengkapnya »


REDEK

Februari 25, 2007

Redek kadang mengguncang iman.

“Baa aka lai ko. Bareh maha. Lah redek awak kini mah,”kata seorang perempuan setengah baya kepada temannya, yang saya dengar di sebuah angkot tambangan Siteba-Pasar Raya Padang. Kata “redek” dari mulut perempuan tersebut, ternyata setelah melihat Kamus Lengkap Bahasa Minang yang disusun oleh Drs. Gouzali Saydam, Bc. TT dan diterbitkan Pusat Pengkajian Islam Minangkabau berarti bokek atau payah. Bokek dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka, artinya tidak punya uang. Tapi, redek dalam hal ini, tentu tak semata bokek, bisa jadi merupakan spirit dari kegetiran, pahitnya hidup.

Baca entri selengkapnya »


UDI

Februari 11, 2007

Kesialan menemani keberuntungan di sisi lain. Kita maudi pada ketidaksiapan menyambut realita.

Kata udi, maudi atau paudi tentu masih terdengar atau akrab oleh kita, sebagian orang Minang di zaman kini. Paling tidak, masih banyak yang tahu arti kata itu. Udi sama dengan sial. Maudi tentulah membuat atau menyebkan sial; paudi berarti suka sial. Udi juga sama dengan apes atau sarau atau nahas.

Baca entri selengkapnya »