<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>YUSRIZAL KW</title>
	<atom:link href="http://yusrizalkw.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://yusrizalkw.wordpress.com</link>
	<description>Kata untuk Semua</description>
	<lastBuildDate>Wed, 03 Nov 2010 06:38:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='yusrizalkw.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>YUSRIZAL KW</title>
		<link>http://yusrizalkw.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://yusrizalkw.wordpress.com/osd.xml" title="YUSRIZAL KW" />
	<atom:link rel='hub' href='http://yusrizalkw.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Ruang Takut dalam Diri</title>
		<link>http://yusrizalkw.wordpress.com/2010/11/03/ruang-takut-dalam-diri/</link>
		<comments>http://yusrizalkw.wordpress.com/2010/11/03/ruang-takut-dalam-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Nov 2010 06:37:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yusrizalkw</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yusrizalkw.wordpress.com/?p=354</guid>
		<description><![CDATA[Setiap kita memiliki ruang rasa takut dalam diri. Mungkin ia berada di hati dan pikiran. Ketika kita senang, nyaman, tak ada gangguan apa-apa, ruang rasa takut itu seakan sedang kosong. Kita bisa tertawa. Tersenyum dan bahkan bernyanyi riang. Saat itu, kegembiraan dan kedamaian adalah milik kita. Bagi yang bersyukur, ia akan berkata, Tuhan Maha Pengasih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusrizalkw.wordpress.com&amp;blog=659185&amp;post=354&amp;subd=yusrizalkw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://yusrizalkw.files.wordpress.com/2010/11/ruang-takut.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-355" title="ruang takut" src="http://yusrizalkw.files.wordpress.com/2010/11/ruang-takut.jpg?w=270&#038;h=206" alt="" width="270" height="206" /></a>Setiap kita memiliki ruang rasa takut dalam diri. Mungkin ia berada di hati dan pikiran. Ketika kita senang, nyaman, tak ada gangguan apa-apa, ruang rasa takut itu seakan sedang kosong. Kita bisa tertawa. Tersenyum dan bahkan bernyanyi riang. Saat itu, kegembiraan dan kedamaian adalah milik kita. Bagi yang bersyukur, ia akan berkata, Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Kita bisa merasakan nikmat hidup.<br />
<span id="more-354"></span><br />
Selama aman-aman dan nyaman-nyaman saja, kita kadang sering lupa, kalau ruang rasa takut atau rasa cemas itu juga memiliki pintu, yang silih ganti buka-tutup, kosong, setengah berisi bahkan penuh. Sebagai mana ruang rasa bahagia, aman dan nyaman, memiliki pintu yang sifatnya juga sama. Karena itu, ketika kita merasa bahagia, ruang itu terasa penuh dari saat biasanya, kita berkata, “Melimpah benar kebahagiaan dan kenyamanan yang kita rasakan….” Lawannya, sebagaimana ungkapan, “Ketakutan yang saya alami luar biasa mencekamnya!”</p>
<p>Ketika kita merasakan sesuatu yang berlebih atau di luar kapasitasnya, kita mestinya berupaya membuka pintu yang ditutup sehingga ada sedikit nganga untuk mengurangi ketakutan tersebut, menjadi celah dan sedikit ruang kosong untuk merenung. Atau pintu yang dibuka lebar, sehingga ada yang lepas keluar, sebagaimana ia bisa leluasa masuk sebelumnya. Karena itulah, ada orang yang merasa sangat bahagia, sebagaimana ada orang merasa sangat takut, yang keduanya punya nasehat: jangan berlebihan!</p>
<p>Akhir-akhir ini, katakanlah sejak gempa besar 30 September 2009 lalu, kemudian disusul gempa-tsunami Mentawai, yang juga dirasakan warga Kota Padang, seakan memasukkan monster ke dalam ruang hati dan pikiran kita, sehingga hari-hari kita bagai dalam ancaman maut setelah itu. Kita kurang enak tidur. Imajinasi buruk menyeringai. Penyebab lainnya, ada prediksi, akan terjadi gempa yang lebih besar dengan ancaman tsunami pula tentunya.</p>
<p>Karena disampaikan ahlinya, ditambah isu liar tak bertanggungjawab, maka bagi yang mendengar dan membaca prediksi ilmiah itu, pintu-pintu ruang rasa takut bagai terbuka lebar. Sehingga ruang dalam hati dan pikiran kita yang absurd ini, mendadak penuh dan melimpah. Celakanya, rasa takut itu terbiarkan bersemayam di dalamnya (hati dan pikiran). Seakan-akan pula, ia menutup ruang-ruang yang lainnya, termasuk ruang keberanian, rasa bahagia dan rasa aman dari dalam diri kita. Seakan ketika prediksi atau kemungkinan itu diletuskan ke publik, ruang lain yang bisa memberi keseimbangan psikologis, bagai terbakar. Kita bagai orang kehilangan keseimbangan.</p>
<p>Ketika tiba-tiba kita mendapatkan volume rasa takut yang besarnya berkali-kali lipat dari yang biasa kita terima di ruang hati dan pikiran kita, sesungguhnya, kita membutuhkan akal yang sehat, hati yang lapang, untuk membangun ruang baru guna menata hati dan pikiran sebagai wadah bagi kehidupan yang harus tetap berlangsung dengan normal. Artinya, ada tempat menampung kegelisahan kita, kemudian secara perlahan mampu memberi energi positif, melihat kenyataan dengan harapan besar. Sehingga, ketika kita pada mulanya takut hidup di negeri potensi gempa, seperti Padang atau Mentawai misalnya, kini berubah menjadi aku tetap mencintai kota ini, dan potensi gempanya yang ada, merupakan bagian dari jalan dan ritma hidup yang harus ada.</p>
<p>Sesungguhnya diri kita, hati dan pikiran punya ruang dan peristiwa alami yang kadang tak bisa kita jelaskan secara riil atau gamblang, sebagaimana bumi atau alam tempat kita hidup. Karena itu, kita memerlukan sebuah ruang dalam diri yang lapang agar bisa merenung. Ketika gempa bumi kita rasakan, ada proses yang sedang berlangsung, baik di bumi/alam juga dalam diri kita. Ketika bumi menata dirinya, kita manusia harus memaklumi, sehingga yang ada kemudian rasa akrab dengan peristiwa gempa. Kalau kita pakai kata akrab, itu artinya, kita mengetahui tindakan yang akan diambil saat terjadi gempa atau tsunami.</p>
<p>Sebagaimana di Mentawai, di Padang, kita bisa maklumi banyak orang yang merasa cemas. Paranoid. Itu tandanya kita manusia biasa, yang masing-masing punya ruang rasa takut. Memang, ruang masing-masing kita berbeda.Terutama mereka yang berada dekat pantai. Zona merah.</p>
<p>Dan, zona merah, adalah zona atau wilayah yang menumbuhkan rasa takut. Dari sinilah, kita menyadari, ternyata ada wilayah atau ruang yang sering (tanpa disadari) terabaikan ketika rasa takut itu menyala. Yakni, ruang untuk menyadari, Tiada Tuhan selain Allah. Hanya pada-Nya kita minta pertolongan.</p>
<p>Dengan begitu, kita menyadari ruang rasa takut dalam diri seseorang, merupakan salah satu ruang dalam kompleks diri kita. Di ruang rasa takut itu pula, kita dituntut membuang kecemasan dengan mempertimbangkan, memasuki ruang hakiki yang bisa menyelamatkan: bersilaturahmi pada sesama manusia, bertaqwa hanya pada-Nya.</p>
<p>Dan, sebaiknya, memang kita membiarkan atau memelihara sedikit atau sekadarnya rasa takut. Sehingga, kita tidak terjebak pada rasa sombong, angkuh dan merasa berkuasa. Jadi, merasa takut, sama penting dengan merasa berani. Keduanya saling memaknai.</p>
<p>Yang terpenting, jangan biarkan rasa takut memenuhi ruang dalam diri (hati dan pikiran). Rasa takut harus keluar dari dalam diri kita, mengusirnya, membunuhnya ketika menyadari ia mengancam ketenangan hidup kita. Karena itu kita memerlukan ruang untuk merenung dari dalam diri.  Ruang untuk menjinakkan rasa takut, sehingga kita memiliki kesiapan untuk menerima hal-hal yang mencekam dengan keyakinan, Tuhan bersama kita jika kita banyak benar dan berbuat baik dalam hidup.***</p>
<p>Dimuat Padang Ekspres 31 Oktober 2010</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yusrizalkw.wordpress.com/354/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yusrizalkw.wordpress.com/354/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yusrizalkw.wordpress.com/354/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yusrizalkw.wordpress.com/354/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yusrizalkw.wordpress.com/354/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yusrizalkw.wordpress.com/354/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yusrizalkw.wordpress.com/354/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yusrizalkw.wordpress.com/354/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yusrizalkw.wordpress.com/354/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yusrizalkw.wordpress.com/354/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yusrizalkw.wordpress.com/354/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yusrizalkw.wordpress.com/354/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yusrizalkw.wordpress.com/354/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yusrizalkw.wordpress.com/354/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusrizalkw.wordpress.com&amp;blog=659185&amp;post=354&amp;subd=yusrizalkw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yusrizalkw.wordpress.com/2010/11/03/ruang-takut-dalam-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b6e36fc10a1e2f7c079be65cfc77c0c0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yusrizalkw</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yusrizalkw.files.wordpress.com/2010/11/ruang-takut.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">ruang takut</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>CALIAH</title>
		<link>http://yusrizalkw.wordpress.com/2010/10/21/caliah-2/</link>
		<comments>http://yusrizalkw.wordpress.com/2010/10/21/caliah-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Oct 2010 03:06:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yusrizalkw</dc:creator>
				<category><![CDATA[RASAKATA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yusrizalkw.wordpress.com/?p=350</guid>
		<description><![CDATA[Caliah ada untuk mengatakan yang tidak baik agar terlihat baik-baik saja Dalam Kamus Bahasa Minangkabu  Indonesia, terbitan Anggrek Media, yang disusun dan dihimpun Abdulkadir Usman Dt. Yang Dipatuan, kata caliah berarti banyak alasan, pandai mengada-ada. Kalau kita punya teman, dia suka berbohong atau banyak alasan untuk sesuatu yang bukan sebenarnya, ia bisa disebut pancaliah. Seorang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusrizalkw.wordpress.com&amp;blog=659185&amp;post=350&amp;subd=yusrizalkw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Caliah ada untuk mengatakan yang tidak baik agar terlihat baik-baik saja</em><br />
<a href="http://yusrizalkw.files.wordpress.com/2010/10/caliah2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-351" title="caliah" src="http://yusrizalkw.files.wordpress.com/2010/10/caliah2.jpg?w=300&#038;h=213" alt="ilustrasi" width="300" height="213" /></a><br />
Dalam Kamus Bahasa Minangkabu  Indonesia, terbitan Anggrek Media, yang disusun dan dihimpun Abdulkadir Usman Dt. Yang Dipatuan, kata caliah berarti banyak alasan, pandai mengada-ada. Kalau kita punya teman, dia suka berbohong atau banyak alasan untuk sesuatu yang bukan sebenarnya, ia bisa disebut pancaliah. Seorang pancaliah, biasanya pandai berkata-kata, bermimik pun diupayakan terlihat seakan-akan pancaran dari hatinya yang jujur dan apa adanya. Walau setiap ketemu kita cipika-cipiki (cium pipi kiri dan cium pipi kanam, muaccch), belum tentu cihaka-cihiki (cium hati kiri dan cium hati kanan). Hati yang berciumanlah yang sesungguhnya mampu mengobati noda lantaran tak jujur.<br />
<span id="more-350"></span><br />
Caliah adalah perilaku, yang sesungguhnya muncul karena perasaan gelisah, kadang memiliki sisi gelap eksistensi, yang ingin terlihat baik dan kalau boleh, mempesona. Orang caliah, lidahnya kadang menari indah, matanya bergerak bak kelilipan, napasnya agak berat dan senyumnya berupaya menyiratkan: inilah sesungguhnya. Bisa juga, untuk pembelaan dari rasa bersalah yang dalam, matanya bagai awan hitam, bibirnya bergetar, napasnya berat seakan ia bertobat dengan dada sesak. Padahal, yang lahir tidak menunjukkan batin. Ia mampu “caliah” yang intinya, dilakukan sebaik dan secaliah mungkin.</p>
<p>Suatu hari, saya bertemu dengan seseorang. Ia berkata, “Saya tidak akan masuk organisasi apa pun tahun ini. Saya ingin menata kerja dan program-program masa depan yang lebih sehat.” Dan, beberapa hari kemudian, saya baca koran. Ia menjadi seorang pengurus salah satu organisasi. Saya sms dia begini: katanya tidak, kok iya juga. Jawabnya, sederhana sekali, “Mau apa lagi. Tahu-tahu teman-teman membutuhkan!” Bagi saya, si teman tadi, telah caliah pada komitmen atau target yang telah ia tetapkan, termasuk momosikan dirinya untuk yang katanya, menata masa depan. Untuk orang yang begini, kita harus berpikir terbalik, kalau tidak berarti iya, kalau iya berarti mati rasanya kalau tidak iya. Artinya, untuk memaknai ucapannya, kita pun harus caliah pada arti/makna kata, masak “tidak” berarti “iya”.</p>
<p>Untuk bersikap, apalagi tegas, orang kita banyak terperangkap caliah. Karena, akal sehatnya sakit, hatinya lemah, ia berani berdusta untuk menyelamatkan dirinya atas pilihannya yang bertentangan dengan omongannya sehari-hari. Maka tak jarang kita ketemu orang, yang nadanya bisa begini, “Aku suka kamu tapi cintaku padanya. Atau, “Aku tidak mau main bola satu tim dengan dia, apalagi dia pelatih kepala. Bisa kacau kalau gabung sama dia.”  Namun, tiba-tiba kita tahu dia dipilih sebagai pemain inti oleh pelatih kepala yang katanya itu tak becus, ia cepat-cepat caliah dengan berkata kurang lebih begini, “Aku masuk dulu, lihat-lihat keadaanlah. Kalau tidak cocok nanti mundur. Kita lihat dulu gayanya.” Padahal, ia sesungguhnya ingin bersama sang pelatih, tapi karena temannya tak bergabung karena tidak satu visi dalam bola dengan pelatih kepala, ia berusaha main dua sisi, agar enak kiri dan kanan. Padahal, temannya yang tidak mau ikutan, tak mempermasalahkan dia bergabung. Karena caliahnya ia jadi susah.</p>
<p>Orang caliah dengan nuraninya, tanpa integritas, selalu memiliki jawaban yang mendustai dirinya, ketika ia sadar berada dalam posisi yang sesungguhnya mematikan nalar dan intregitasnya. Gemar berbohong, banyak alasan, suka mengada-ada, saat kini suatu yang dianggap lazim. Tantangan kita sebagai manusia yang sehat lahir dan batin, tentu makin berat. Teman kita belum tentu betul-betul teman kita. Pasangan kita, belum tentu betul-betul pasangan setia kita. Hal ini bukan ajakan untuk hidup dengan bercuriga, melainkan betapa hidup ini pun seakan memberi makna, caliah perlu ada agar kita waspada, bisa memahami sisi orang lain secara positif dengan saling mengingatkan. Kita tidak bisa memaksa orang untuk tidak “caliah” pada kita atau orang lain, tetapi, kita bisa berbuat tidak caliah pada orang lain, dan jujur pada orang-orang yang hidup di dunia luas ini bersama kita.</p>
<p>Orang-orang yang menyalakan “kecaliahan” dalam dirinya, ketika bertemu dengan orang-orang yang iklas dicaliahkannya, biasanya akan berkata dengan penuh busa, basa-basi dan kalau bisa penuh puja. Kita kadang terperangkap caliah, bisa lantaran untuk menyelamatkan diri, menaikkan pamor, menyenangkan hati orang. Kita, kebanyakan, tak penting, niat dan caranya salah. Yang kita butuhkan, kadang, yah sebatas untuk aman-aman-aman saja, walau yang kita lakukan itu sesungguhnya cara baik untuk mendapatkan rasa tidak aman yang lain.</p>
<p>Bicara caliah, lalu merenungkannya, kadang sebuah pertanyaan menghajar batin kita. Apa sih yang diharapkan dari sebuah “kecaliahan” atau “pencalihan”? Jawabnya, agar semua baik-baik saja, walau sesungguhnya tidak baik-baik saja.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yusrizalkw.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yusrizalkw.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yusrizalkw.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yusrizalkw.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yusrizalkw.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yusrizalkw.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yusrizalkw.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yusrizalkw.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yusrizalkw.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yusrizalkw.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yusrizalkw.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yusrizalkw.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yusrizalkw.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yusrizalkw.wordpress.com/350/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusrizalkw.wordpress.com&amp;blog=659185&amp;post=350&amp;subd=yusrizalkw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yusrizalkw.wordpress.com/2010/10/21/caliah-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b6e36fc10a1e2f7c079be65cfc77c0c0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yusrizalkw</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yusrizalkw.files.wordpress.com/2010/10/caliah2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">caliah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>GALEMEANG</title>
		<link>http://yusrizalkw.wordpress.com/2010/10/21/galemeang-2/</link>
		<comments>http://yusrizalkw.wordpress.com/2010/10/21/galemeang-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Oct 2010 02:51:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yusrizalkw</dc:creator>
				<category><![CDATA[RASAKATA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yusrizalkw.wordpress.com/?p=343</guid>
		<description><![CDATA[Galemeng atau galemeang sama saja. Artinya juga sama. Kalau diterjemahbebaskan bisa pula berarti: sedikit sekali, sangat kecil, belum apa-apa. Kalau dikiaskan, seujung kuku. Yah, sekelas dengan secuillah. Kata gelemenang menyiratkan, bahwa kata dari bahasa Minang ini, merupakan jawaban bagi kata yang artinya lebih sedikit, lebih kecil atau lebih minim. Kata itu ada tanpa beban. Ia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusrizalkw.wordpress.com&amp;blog=659185&amp;post=343&amp;subd=yusrizalkw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Galemeng atau galemeang sama saja. Artinya juga sama. Kalau diterjemahbebaskan bisa pula berarti: sedikit sekali, sangat kecil, belum apa-apa. Kalau dikiaskan, seujung kuku. Yah, sekelas dengan secuillah.<br />
<span id="more-343"></span><br />
Kata gelemenang menyiratkan, bahwa kata dari bahasa Minang ini, merupakan jawaban bagi kata yang artinya lebih sedikit, lebih kecil atau lebih minim. Kata itu ada tanpa beban. Ia menjadi beban, ketika orang menggunakannya untuk tidak rasa syukur. Diberi pembagian sedikit seorang, tapi bilangnya, “Sagalemeang bisa dia beri….” Kalau tak diberi, “Sagalemang saja tak terberi olehnya. Makan sendiri saja.”</p>
<p>Nah, orang yang mendengar (mungkin sang pemberi tulus iklas memberi) akan tersinggung. Tersinggungnya karena ada kata “galemeang”. Kata itu, terasa melecehkan, bukan karena kata itu bermuatan penghinaan. Tetapi penyampaiannya dengan nada yang remeh, padahal mestinya alhamdulillah. Harusnya, kata orang-orang yang beraliran pikiran positif, hal kecil bisa bermakna jika disampaikan dengan cara positif dan bermakna pula. “Segelemang apa pun, kita terima dengan rasa syukur. Untung diberi segelemang, kalau tidak, kita tidak merasakan rasa berbagi yang kadang bukan dilihat dari ukuran, tapi niatnya….”</p>
<p>Ada juga, kata gelemeang ini dikomunikasikan dengan senyum. Misalnya, dia minta, tapi senyumnya manis. “Minta agak segelemang ya!” Itu arti mendalamnya, ia minta dibagi, yang bisa saja jauh di atas galemeang. Mungkin cukup banyak atau sedikit agak banyak. Seorang ibu, yang melihat anaknya makan goreng ubi, lalu tanpa minta dan aba-aba, mengupil sedikit. Anaknya menangis. Ia pun mengembalikan, “Ondeh, segelemeang diambil nangis pula kamu, Yuang!”</p>
<p>Kalau kita baru berpangkat, walau lumayan tinggi, tapi sombong dan tinggi hati, orang juga tidak suka. Dia akan mencemoohkan kita atau malah meremehkan pangkat kita. “Baru pangkat segelemeang itu, sudah sombong dia. Belum apa-apa, seperti mau dimakannya kita semua,” begitulah kurang lebih irama cemooh yang dialamat kepada kita, baik di depan maupun di belakang kita. Dan ada pula orang yang tersinggung oleh kita, padahal kita tidak bermaksud menyinggung hatinya, tapi dia malah bawa-bawa pangkat. Menjadikan pangkat atau jabatan kita dihantamnya dengan menekankan kata galemeangnya dengan tujuan supaya kita merasa terhina. “Pangkat segelemeang itu jangan dibangga-banggakan kepada saya. Belum apa-apa itu. Saya pula kamu permainkan, Yuang”.</p>
<p>Kata galemeang memang kata yang unik dan relatif jarang terdengar diucapkan. Tetapi, kata ini sesungguhnya untuk komunikasi, baik dalam daya humor, cemooh, hina dan merendah hati, sangat menarik juga. Kalau orang kaya sedikit nyombong, dia akan bilang, “Harta kekayaan segelemeang ini apalah. Dibanding mantan presiden Soeharto belum apa-apanya”. Kita tahu, mobil mewahnya tiga, rumahnya megah dan tokonya lima. Kemudian, seorang ilmuwan pun bisa merendahkan hatinya dengan kalimat, “Ilmu saya baru sagalemeang, perlu menimba dan belajar lebih banyak lagi!” Begitu juga, ada orang ngutang uang temannya Rp15 juta, ketika diminta dia malah jawab, “Uang segelemeang itu kamu minta berkali-kali.” Gila, Rp15juta gelemeang juga katanya.</p>
<p>Kadang ya, kita memang, bisa membesarkan masalah, mengecil-ngecilkan masalah. Kita kadang juga bisa melebar-lebarkan persoalan yang mestinya dipersempit, sebagaimana kita juga kadang meremehkan hal yang besar. (*)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yusrizalkw.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yusrizalkw.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yusrizalkw.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yusrizalkw.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yusrizalkw.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yusrizalkw.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yusrizalkw.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yusrizalkw.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yusrizalkw.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yusrizalkw.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yusrizalkw.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yusrizalkw.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yusrizalkw.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yusrizalkw.wordpress.com/343/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusrizalkw.wordpress.com&amp;blog=659185&amp;post=343&amp;subd=yusrizalkw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yusrizalkw.wordpress.com/2010/10/21/galemeang-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b6e36fc10a1e2f7c079be65cfc77c0c0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yusrizalkw</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TERSESAT DI JALAN YANG BENAR</title>
		<link>http://yusrizalkw.wordpress.com/2010/10/21/tersesat-di-jalan-yang-benar/</link>
		<comments>http://yusrizalkw.wordpress.com/2010/10/21/tersesat-di-jalan-yang-benar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Oct 2010 00:42:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yusrizalkw</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yusrizalkw.wordpress.com/?p=330</guid>
		<description><![CDATA[=Bagian 3 Tentang Wisran Hadi= Tiba-tiba, ketika baru sampai di Jakarta, Buya Haji Darwas Idris, ulama ahli hadist dan Imam Besar Masjid Raya Muhammadiyah Padang mendadak sakit. Padahal, niatnya bertolak dari Padang singgah di Jakarta kemudian rencananya menuju Ponorogo  untuk memenuhi undangan panitia Muktamar Muhammadiyah / Majlis Tarjih di Ponorogo. Buya Darwas, begitu ia dikenal, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusrizalkw.wordpress.com&amp;blog=659185&amp;post=330&amp;subd=yusrizalkw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>=Bagian 3 Tentang Wisran Hadi=</strong></p>
<p><a href="http://yusrizalkw.files.wordpress.com/2010/10/wisranhadi2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-334" title="Wisranhadi" src="http://yusrizalkw.files.wordpress.com/2010/10/wisranhadi2.jpg?w=450" alt=""   /></a>Tiba-tiba, ketika baru sampai di Jakarta, Buya Haji Darwas Idris, ulama ahli hadist dan Imam Besar Masjid Raya Muhammadiyah Padang mendadak sakit. Padahal, niatnya bertolak dari Padang singgah di Jakarta kemudian rencananya menuju Ponorogo  untuk memenuhi undangan panitia Muktamar Muhammadiyah / Majlis Tarjih di Ponorogo. Buya Darwas, begitu ia dikenal, akhirnya membatalkan niatnya ke Ponorogo. Acara penting bagi seorang ulama terkemuka Ranah Minang itu, dengan terpaksa tak bisa diikutinya. Ketika itu tahun 1969.</p>
<p><span id="more-330"></span><br />
Buya Darwas pun ingin segera pulang ke Padang. Maka, dari tempat anak sulungnya di Jakarta, ia mengirim kabar kepada seorang anak yang ia kuliahkan di ASRI Yogyakarta. Beritanya: Buya Sakit. Serta merta kabar itu membuat sang anak datang. Menemui sang ayah: Buya Haji Darwas.<br />
Ketika bersua sang ayah, si laki-laki itu, bercengkerama sebagaimana mestinya setelah sebelumnya menanyakan keadaan sang ayah yang dipanggilnya Buya.<br />
“Kapan kuliahmu selesai?”<br />
“Sudah selesai, Buya!”<br />
Mendengar jawaban itu, Buya Haji Darwas tercengang. Ternyata, sang anak tidak mengabari kalau dia sudah tamat kuliah, sudah sarjana muda. Dan, bahkan, saat itu, sedang menyiapkan diri untuk melamar jadi guru Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) di Bali. Menjadi pelukis, setidaknya guru seni rupa, adalah cita-cita sang anak, karena ketika masih bersekolah di Sekolah Guru A (SGA) anak laki-laki Buya itu selalu mendapatkan nilai menggambar sembilan.<br />
Singkat cerita, Buya berkata, “Ke Padang awak dulu. Antarkan Buya. Dalam keadaan sakit, buya perlu ditemani di perjalanan. Setelah itu, kamu boleh ke Yogya lagi….”<br />
Sang anak, yang sesungguhnya bernama Wisran Hadi (Hadi merupakan kependekan dari Haji Darwas Idris) itu, pun tak bisa menolak.<br />
Setiba di Padang, Wisran yang sedang menggeluti seni lukis di kota gudeg, merasa jalan ke Yogyakarta putus. Gelap. Untuk kembali, selain ada hambatan lain, ia juga tidak punya ongkos lagi. Buya tidak mengisyaratkan memberi ongkos untuk ke Yogya lagi. Bahkan ia malah ditawari menikah. Tapi, ketika itu, ia menolak dengan alasan minta waktu ke Buya untuk mencari jodoh.<br />
Maka, tahun 1970 ia pun bertemu dengan Hasnul Kabri, kepala SSRI Padang. Ia ditawari mengajar seni lukis di sekolah itu. Wisran pun mengajar. Dan di sana pulalah, sekitar tahun 1971-an, Wisran iseng-iseng menulis naskah drama untuk pementasan acara perpisahan sekolah. Dua naskah ia kerjakan, juga dipentaskan. Naskah pertamanya berjudul “Sumur Tua”, kemudian disusul “Dua Buah Segi Tiga”<br />
Tak betah karena berbeda prinsip dengan beberapa guru soal metode pendidikan, setahun kemudian Wisran berhenti. Ketika di SSRI itu, Wisran oleh teman-teman sesama guru diresolusi istilahnya. Tidak didukung.<br />
Setelah itu, ia pun akhirnya diajak gabung oleh A.A. Navis menjadi guru di Ruang Pendidikan INS Kayutanam. Profesi guru dijalani pria asli Padang ini selama tujuh tahun di sekolah yang yayasannya diketuai A.A. Navis..<br />
***<br />
Pulang ke Padang mengantar Buya sakit, menjadi guru di SSRI, kemudian di Ruang Pendidikan INS Kayutanam, ternyata merupakan momen penting bagi bermulanya sosok Wisran Hadi, menjadi tokoh teater yang juga sastrawan dan budayawan Indonesia terkemuka asal Sumatra Barat yang kita kenal seperti saat ini. Sebab, ajakan Buya adalah semacam isyarat tak terduga menutup cita-citanya menjadi pelukis. Menjadi guru di SSRI adalah percikan api pertamanya dalam menulis naskah drama. Menjadi guru di Ruang Pendidikan INS Kayutanam, ternyata, sebagaimana dikatakan Wisran, adalah saat-saat penting baginya ikut menekuni dunia sastra, karena di sekolah itu ada sastrawan A.A. Navis, Abrar Yusra, Darman Moenir dan penyair Raudha Thaib  yang kemudian menjadi istri Wisran Hadi.<br />
Mencatat Wisran, mengurai cerita: Dia dilahirkan di Padang,  27 Juli 1945. Dalam dunia teater, ia pimpinan grup Bumi Teater yang didirikannya tahun 1975 bersama Raudha Thaib (Upita Agustine) Darman Moenir, Harris Effendi Thahar, Herisman Is dan A.Alin De. Kehadirannya kembali di Padang, setelah empat tahun di Yogya, cukup mengejutkan. Sebab, sembari sesekali pameran lukis, Wisran ternyata tampak lebih intens menulis naskah dan pementasan teater. Penyair Leon Agusta dan aktor Bhr. Tanjung, ketika itu sedang giatnya berteater di Padang. Oleh mereka yang merasa duluan berteater di Padang, mengundang Wisran. Bahkan ada yang menggurui. “Saya hanya tersenyum ketika digurui beberapa tokoh teater ketika itu. Karena bacaan mereka sudah lumat saya baca di Yogya. Sehingga, saya pastikan, ketika itu wawasan mereka tertinggal,” kata Wisran dengan senyumnya yang kadang terkesan mengejek. Bagi Wisran, bicara banyak tak ada gunanya. Ia punya bacaan yang cukup, punya semangat yang kuat. Berbuat adalah cara pembuktian yang pas baginya.<br />
Berbuat? Pertanyaan yang harus dijawab Wisran. Mau jadi penulis naskah drama, novelis atau cerpenis terkemuka? Oho. Ia urai peluang dan kemungkinan yang kira-kira bisa membuatnya maksimal. Kalau jadi novelis dan cerpenis, sudah banyak orang di Indonesia. Kalau ingin bersaing di tikar yang sama, terlalu banyak orang yang sudah duduk di situ sebagai novelis, cerpenis, atau penyair. Akhirnya ia tersenyum: penulis naskah drama/teater harus dipilih. Maka ia pun belajar dan mencari buku-buku yang bisa diacunya untuk menjadi penulis naskah yang hebat, antara lain ia pelajari karya-karya William Shakeaspeare. Dan, ternyata kehadiran Wisran dengan naskah-naskahnya, membuat Sumatra Barat khususnya, heboh. Umumnya naskah-naskah Wisran mementahkan mitos yang melekat di benak orang Minang, memahami pahlawan Imam Bonjol sebagai manusia biasa yang juga memiliki sikap peragu, gamang dan sesekali konyol. Wisran menulis Malin Kundang tidak durhaka. Bahkan mulai dari tokoh adat, agama, majelis ulama sampai gubernur, pernah sama-sama kebakaran jenggot dengan naskah-naskah yang ditulis Wisran.<br />
Seperti yang ia harapkan, di bentangan tikar drama atau perteateran Indonesia ia mendapat tempat dan populer. Namanya pun melambung. Sebanyak 15 karya dramanya dipilih sebagai pemenang dalam Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Indonesia yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta semenjak 1976 s/d. 1985 dan 1998, 2004. Kemudian 13 karya dramanya yang lain diterbitkan oleh Proyek Pengadaan Buku-buku Sastra Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI Jakarta.   Juga 7 karya dramanya telah difilmkan oleh TVRI Palembang, TVRI Padang dan TVRI Jakarta; Empat lakon Perang Paderi, Kau Tunggu Siapa Nilo, Cindra Mata dan Anggun Nan Tongga.<br />
Tahun 1986, salah seorang redaktur sastra dan budaya Harian Padang Ekspres ini melakukan studi perbandingan Teater Modern Amerika dan Jepang di USA dan Japan yang disponsori Asian Cultural Council, New York, USA, September 1986 s/d. Januari 1987, setelah sebelumnya, pada tahun  1978 ia telah melakukan observasi Teater Modern at New York, USA,  disponsori Asian Cultural Program,  The JDR 3rd Fund. 1978.<br />
Januari-Februari 1978.<br />
Naskah-naskah drama yang sudah diterbitkan antara lain: Empat Lakon Perang Paderi, (Angkasa Bandung 2003), Empat sandiwara Orang Melayu (Angkasa Bandung, 2003),  Mandi Angin (Dewan Kesenian Sumatera Barat, Padang 1999), Jalan Lurus (Angkasa Bandung 1997), Baeram- Kumpulan 8 drama pendek (Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan  Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta 1982), Titian (Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dandaerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta1982), Anggun Nan Tongga (Balai Pustaka, Jakarta 1982), Pewaris (Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta 1981), Perantau Pulau puti (Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta 1981), Perguruan  (Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta 1981),  Kemerdekaan (majalah sastra Horison 1980), Puti Bungsu (Pustaka Jaya, Jakarta 1978).<br />
Tahun 1992 Wisran mulai berpikir lain. Kalau menulis naskah drama, hampir tak ada tandingannya. Apa lagi yang harus dikejar. Maka, ia iseng-iseng mencoba menulis novel. Kalau teater mengatakan, novel tentu menjelaskan dan menggambarkan sesuatu. Ia pelajari sendiri bagaimana menulis novel. Apalagi diam-diam sebelumnya ia telah banyak juga menulis cerita pendek di Horison dan di beberapa media. Sesungguhnya, disadari Wisran, menulis cerpen adalah latihan atau semacam pemanasannya menulis novel.<br />
Maka tahun 1993, novel pertamanya selesai. Judulnya Tamu. Dimuat bersambung di Harian Republika tahun 1994. Kemudian diterbitkan oleh Pustaka Utama Grafiti tahun 1996. Tahun 1997 peserta International Writing Program pada School of Letters, The  Universirty  of Iowa, Iowa, USA, September 1977 s/d. Januari 1978 ini, melalui novel pertamanya Tamu  meraih penghargaan Buku Utama dari IKAPI dan melalui Dept. P dan K Jakarta, juga dipilih untuk menjadi buku bacaan pelajar di Indonesia.<br />
Dan sejak itu, Wisran produktif menulis novel. Antara lain yang sudah diterbitkan: Pelarian, diterbitkan bersambung pada Harian Republika 2002,  Imam (Pustaka Firdaus, Jakarta 2002), Dari Tanah Tepi, (PT Balai Pustaka Jakarta 2001), Negeri Perempuan (Pustaka Firdaus, Jakarta 2000), Orang-orang Blanti (Citra Budaya Indonesia, Padang 2000), Dari Tanah Tepi, (Balai Pustaka, 2002). Dan bukunya yang segera diterbitkan oleh Penerbit Serambi tahun ini berjudul Batu Api.<br />
Selain naskah drama dan novel, Wisran juga memiliki dua kumpulan cerpen dan satu buku puisi seperti: Guru Berkepala Tiga (PN Balai Pustaka, Jakarta 2002), Daun Mahoni Gugur Lagi  (Fajar Bakti Sdn.Bhd. Malaysia 1998), Kumpulan Puisi Simalakama (Ruang Pendidik INS Kayutanam, 1975).<br />
Tahun 2000 Wisran diberi penghargaan South East Asia Write Award (Hadiah tertinggi untuk Sastrawan ASEAN) dari kerajaan Thailand yang diserahkan Raja Thailand di Bangkok. Tahun 2003 mendapat Anugerah Seni dari Pemerintah Indonesia yang diserahkan oleh Menteri Parsenibud atas jasa-jasanya dalam menaikkan marwah seni di dalam dan di luar negeri. Sejak 2001 sampai 2005 menjadi dosen tamu pada Akademi Seni Kebangsaan, Kementerian Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Malaysia di Kuala Lumpur.<br />
Membicarakan Wisran, kadang bagai keharusan mengurai banyak hal. Tetapi, setidaknya, tokoh yang banting stir dari pelukis menjadi penulis ini, adalah sosok yang jalan hidupnya sangat menarik dalam dunia kesenian dan kebudayaan. Maksud hati menjadi pelukis, tak tahunya jadi dramawan dan sastrawan. Setidaknya, inilah yang diguraukan kepadanya: Wisran terbelok ke jalan yang tepat, tersesat di jalan yang benar.</p>
<p>Sebenarnya, bakat seni yang dimiliki Wisran sudah tampak sejak ia duduk di bangku Sekolah Guru A di Padang. Ia termasuk orang yang gigih belajar dan punya ingin tahu yang besar. Dengan sikap buyanya yang sangat demokrat, Wisran dibebaskan membaca buku-buku apa saja. Termasuk buku kiri atau yang dilarang pemerintah pada masa itu. Oleh buyanya, Wisran juga dibekali buku-buku karangan sastrawan dunia yang juga sangat mempengaruhi pikiran Wisran.<br />
Kegiatan hari-harinya kini adalah membaca, menulis dan melatih teater yang akan dipentaskan Juni tahun ini di Taman Ismail Marzuki, Jakarta dengan naskah Wayang Padang, karya dan sutradara dia sendiri: Wisran Hadi, anak Buya Haji Darwas yang tak sengaja membelokkannya menetap di Padang. (Yusrizal KW)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yusrizalkw.wordpress.com/330/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yusrizalkw.wordpress.com/330/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yusrizalkw.wordpress.com/330/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yusrizalkw.wordpress.com/330/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yusrizalkw.wordpress.com/330/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yusrizalkw.wordpress.com/330/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yusrizalkw.wordpress.com/330/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yusrizalkw.wordpress.com/330/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yusrizalkw.wordpress.com/330/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yusrizalkw.wordpress.com/330/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yusrizalkw.wordpress.com/330/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yusrizalkw.wordpress.com/330/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yusrizalkw.wordpress.com/330/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yusrizalkw.wordpress.com/330/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusrizalkw.wordpress.com&amp;blog=659185&amp;post=330&amp;subd=yusrizalkw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yusrizalkw.wordpress.com/2010/10/21/tersesat-di-jalan-yang-benar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b6e36fc10a1e2f7c079be65cfc77c0c0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yusrizalkw</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yusrizalkw.files.wordpress.com/2010/10/wisranhadi2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Wisranhadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MELUKIS KATA MENJADI BERJIWA</title>
		<link>http://yusrizalkw.wordpress.com/2010/10/21/melukis-kata-menjadi-berjiwa/</link>
		<comments>http://yusrizalkw.wordpress.com/2010/10/21/melukis-kata-menjadi-berjiwa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Oct 2010 00:31:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yusrizalkw</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yusrizalkw.wordpress.com/?p=324</guid>
		<description><![CDATA[=Bagian 2 Tentang Wisran Hadi= Ketika tamat ASRI Yogyakarta tahun 1969, Wisran Hadi pulang ke Padang. Sebagaimana selama kuliah di Yogya, di Padang ia ingin tetap melukis. Tapi ia malah kecewa, sebab untuk membeli cat ketika itu, ia harus pergi ke Medan yang berjarak 400 km lebih dari Padang. Ini sangat menyulitkan, dan tentu mengganggu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusrizalkw.wordpress.com&amp;blog=659185&amp;post=324&amp;subd=yusrizalkw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>=Bagian 2 Tentang Wisran Hadi=</strong><br />
<a href="http://yusrizalkw.files.wordpress.com/2010/10/tamu1.jpg"><img class="size-medium wp-image-326 alignleft" title="Tamu" src="http://yusrizalkw.files.wordpress.com/2010/10/tamu1.jpg?w=150&#038;h=216" alt="" width="150" height="216" /></a><br />
Ketika tamat ASRI Yogyakarta tahun 1969, Wisran Hadi pulang ke Padang. Sebagaimana selama kuliah di Yogya, di Padang ia ingin tetap melukis. Tapi ia malah kecewa, sebab untuk membeli cat ketika itu, ia harus pergi ke Medan yang berjarak 400 km lebih dari Padang. Ini sangat menyulitkan, dan tentu mengganggu pikiran. Jelas, dalam soal biaya, termasuk harga cat dan ongkos ke Medan, dirasakan ketika itu sebagai suatu yang mustahil bisa diatasi.<br />
<span id="more-324"></span><br />
Padahal, selama lima tahun di Yogya (1964-1969) Wisran bertekad mau menjadi pelukis. Kehidupan Yogya yang tenteram dan kreatif baginya, yang telah melahirkan banyak pelukis yang menyebabkan dia terpesona dan termotivasi. Tak ada sama sekali pikiran untuk menulis naskah drama atau novel seperti sekarang ini. Ia hanya membuat catatan-catatan harian, yang setelah tamat dan pulang ke Padang, catatan-catatan itu tertinggal di pondokannya di Kuncen dan Ngadiwinatan.</p>
<p>Wisran memastikan, dengan keterbatasan bahan menjadi pelukis sebagai pilihan, menetap pula di Padang, rasanya ini sulit. Itu ia rasakan langsung ketika beberapa bulan berada di Padang. Akhirnya, berangkat dari pengalaman menulis dua naskah yang ia kerjakan ketika menjadi guru seni lukis di Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) Padang (1970-1971), yaitu Sumur Tua dan Dua Segi Tiga untuk pementasan perpisahan sekolah, semuanya merupakan awal yang memungkinkan. Ia banting stir. Memilih menjadi penulis naskah drama dan sutradara teater. Kebetulan, pada masa itu, kegiatan teater sedang marak di Padang.</p>
<p>Ketika menulis, Wisran merasakan tantangan baru. Ternyata, struktur atau pola berpikir dalam menulis jauh berbeda dengan struktur atau pola berpikir dalam melukis. Dalam menulis ia harus menjelaskan semua hal yang antara lain bertumpu pada kata atau teks. Kata harus dapat membangun pikiran dan imajinasi. Sedangkan dalam melukis, ia merasa harus mengkongkritkan imajinasi-imajinasinya terlebih dahulu melalui berbagai media rupa, barulah bisa menawarkannya pada orang lain.</p>
<p>Sebagai orang Minang, tantangan itu tentulah memikat bagi Wisran. Karena ada potensi  budaya sebagai orang Minang secara otomatis bergerak di alam bawah sadarnya, ia merasa terlejitkan. Artinya, ia ingin menegaskan sebagai dorongan positif, bahwa sesungguhnya orang Minang seperti dirinya yang dibesarkan dalam kultur budaya Minangkabau, yang akrab dengan “kata”, menyimpulkan salah satu kekuatan orang Minang itu terletak pada memahami makna kata.  Mungkin itu pula agaknya menurut Wisran kenapa orang Minang banyak jadi sastrawan, pemikir, politikus dan penjual obat di tengah pasar.</p>
<p>Memasuki Dunia Kata<br />
Dunia kata memang akhirnya menggelitik bagi Wisran. Setelah memahami bedanya pola kreatif dan dorongan berproses antara melukis dan menulis, ia mengembang buku-buku atau naskah-naskah penting. Semua naskah teater yang dianggapnya perlu, seperti karya William Shakespeare, Jean Geredaux, Moliere, Albert Camus, Sophoclas, M. Yamin, Asrul Sani  ia kembang. Ia baca. Ia cermati. Ia kritisi. Ia pelajari. Hasilnya, ia mengatakan: Mudah kalau mau serius. Bagi Wisran, mempelajari naskah orang lain untuk studi, adalah energi untuk berproses, setidaknya semacam penerang untuk melihat celah yang akan dimasuki.</p>
<p>Tahun 1971-1974, ia mulai mengikat diri dengan cita-cita melahirkan naskah besar. Maka, ia putuskan menulis naskah yang kemudian dikenal sangat populer dengan judul Puti Bungsu (Wanita Terakhir). Puti Bungsu masa pengerjaannya memakan waktu tiga tahun. Naskah tersebut, memadukan tiga tokoh penting dari cerita rakyat seperti Malin Kundang, Malin Deman dan Sangkuriang menjadi realita cerita yang baru.</p>
<p>Yang menjadi prinsip pada proses penyelesain naskah itu adalah: naskah sebagai produk budaya dan intelektual. Naskah bukan dunia ngawang. Maka pengerjaannya lumayan bernuansa ilmiah. Melakukan observasi, membaca ulang dan mengkritisi serta mempelajari naskah-naskah cerita rakyat Malin Kundang, Malin Deman serta Sangkuriang yang berkembang di tengah masyarakat. Dari situ, akhirnya muncul gagasan untuk memunculkan tafsir baru, yang setidaknya bermakna ‘menggugat realitas’ ke arah pencerahan. Proses pengerjaan naskah membutuhkan kecerdasan kreatif, memiliki keharusan menguasai masalah dan pengetahuan serta memahami tafsir terhadap ketiga cerita rakyat yang telah tertatanam di kepala masyarakat. Karenanya, kerja awal mengumpulkan informasi dan data sekaitan tema garapan, menjadi penting.</p>
<p>Ketika naskah itu selesai, Wisran berpikir untuk mementaskan. November 1976, ia mendirikan Bumi Teater, yang sekaligus memilihnya sebagai pimpinan dan sutradara. Pendirian Bumi Teater bersama Harris Effendi Thahar, Darman Moenir, Raudha Thaib (Upita Agustin), A.Alin De dan Herisman Is, menjadikan Wisran makin tertantang. Ia pun menggarap Puti Bungsu, kemudian dipentaskan pada juni 1977 di Taman Ismail Marzuki Jakarta, yang ketika itu juga ditayangkan oleh TVRI. Masa latihan, juga merupakan masa revisi yang sekaligus penguatan di sana-sini bagian tertentu naskah Puti Bungsu.</p>
<p>Ternyata, naskah dan pertunjukan lakon Puti Bungsu mendapat gugatan serius dari berbagai kalangan, termasuk para tokoh dari kalangan adat dan agama di Sumatra Barat. Bahkan ada yang mengajukan protes ke gubernur. Alasannya, karakter yang dipinjam Wisran (Malin Kundang, Malin Deman, Malin Duano dan Sangkuriang), berbeda dengan aslinya. Tetapi, bagi Wisran, itulah tendangan dari silat kata yang diberinya energi kreatif dan pemikiran yang menemukan realita baru dalam menafsir fenomena kehidupan, naskah drama dan tokoh adalah medianya. Prof. Dr. Umar Junus, kritikus yang kini mukim di Malaysia, mengatakan ketika itu, bahwa naskah Puti Bungsu sesungguhnya bentuk menggunakan naskah atau karya sebagai alat melihat kenyataan sosio budaya masyarakat.</p>
<p>Bagi Wisran, kalau seorang kreator hanya menggambarkan kembali sesuatu sebagaimana yang sudah ada, tertanam di benak masyarakat, itu tentu sebagai hal sia-sia. Tidak ada nilai kejut yang memberi penyadaran, bahwa kehidupan ini mestinya melesat ke arah pencairan suatu yang beku sebagai sebuah gagasan, nilai dan tatanan budaya ke arah nilai yang lebih kembali memanusiakan dan memberi makna baru. Karena itu hati dan pikiran kita bekerja.</p>
<p>Seperti gregetan melihat kecenderungan kenyataan sosial, budaya dan fenomena-fenomena yang mematikan imajinasi dan logika atau nalar masyarakat karena tidak ada ‘penggelitik nakal’ pada pikiran dan imajinasi masyarakat, Wisran makin produktif menetaskan naskah-naskah yang kontroversial. Maka Malin Kundang dalam naskah tidak durhaka dan tidak menjadi batu. Pahlawan Tuanku Imam Bonjol adalah sosok yang juga manusia, punya perasaan gamang, ragu, konyol, dan bahkan ikut menggunting pita dalam peresmian sebuah proyek. Hang Tuah dan Hang Jebat dalam naskahnya berjudul Senadung Semenanjung, juga dapat kecaman dari orang Melayu karena tergambarkan bukan sebagaimana terdapat dalam cerita aslinya, sehingga naskah Wisran dianggap merusak cerita kebanggaan Melayu. Dan banyak lagi naskah Wisran digugat bahkan ada para tokoh, ulama dan adat sampai pemerintah daerah yang menyidangkan Wisran sebagai penjungkirbalikan fakta sejarah dan hal yang dianggap kekayaan budaya. Tapi, tak satu pun jeratan yang mampu mengungkung Wisran. Ia tetap, malah makin banyak yang diparodikannya. Karena itu, hampir dari ratusan naskahnya (drama, novel, cerpen, esei, cerita rakyat), bernuansa parodi, atau setidaknya mengejek dengan permainan kata atau perilaku unik tokoh yang diciptakannya.</p>
<p>Karena Kata dan Tanya?</p>
<p>Proses kreatif oleh Wisran adalah bermula dari sejauh mana kita mempertanyakan sesuatu, baik dari sisi sosial, budaya, adat dan kehidupan yang tengah berkembang pada masyarakat. Kemudian, sejauh mana sesuatu bisa dimaknai dengan kata yang juga mempertimbangkan pembaca atau audein sebuah pertunjukan. Atau sejauh mana kita mampu memparodikan dan memperolok sesuatu dengan cerdas lagi indah? Seandainya memiliki kritik sosial, kritikan itu bagaimana membungkusnya dengan kata sebagai busana, parodi sebagai permainan dan ironika yang menyentil.</p>
<p>Pada drama misalnya. Ia menyadarai ekespresi akhirnya ke pertunjukan. Berarti, bukan semata mendeskripsikan. Maka pertanyaan yang dirinya menjadi detil dan kompleks terhadap cerita dan tokoh-tokohnya. Misalnya, apakah Hang Tuah, Malin Kundang atau Cindua Mato itu seorang banci, atau botak kepalanya? Apakah dia seorang yang pemarah atau ramah? Apakah yang menjadi kesenangan setiap tokoh itu? Bagaimana pula dengan Sangkuriang, Gading Cempaka atau Dara Jingga? Cantikkah? Keramatkah dia seperti Nyi Roro Kidul? Atau perempuan-perempuan biasa saja?</p>
<p>Jawaban yang didapat kemudian adalah tantangan baru. Tokoh harus dijajaki kemungkinan sosoknya. Tidak kasat mata lagi melihatnya. Melainkan mengarah pada pendalaman. Misalnya, kalau diangkat menjadi tokoh, bagaimana cara berpikirnya, watak, budaya yang melatarinya serta keyakinan yang menyemangati hidupnya. Kemudian, pengarang juga akan mempertanyakan, apakah Imam Bonjol itu hampir seperti nabi, Cundua Mato apa buktinya sebagai orang Minang, Hang Tuah adakah benar sebagai orang Melayu. Kalau pertanyaan-pertanyaan kritis dan bertujuan positif tersebut tidak bisa dijawab, artinya sebagai penulis naskah harus menyadari, ia mengehentikan dulu dulu kerjanya. Kembali kepada studi lanjutan untuk memosisikan tokoh yang ditampilkan. Ini agar memiliki argumen, tidak seperti mengarang-ngarang sesuka hati saja. Pengarang harus memetakan masalah, pertanyaan yang butuh jawaban serta solusi yang pas untuk naskah. Ia juga harus memahami, dari displin ilmu mana ia harus bergerak, sesuai tentu dengan kebutuhan penulisan.<br />
Sebagaimana selalu diungkapkan Wisran dalam setiap wawancaranya, dalam kretaivitas atau proses penulisan kreatif ia tetap bertolak pada data-data yang telah tersedia. Data-data yang dicari dan dikumpulkan dari berbagai disiplin keilmuan dan asumsi-asumsi. Penafsiran-penafsiran yang dilakukan kemudian tehadap data-data itu juga ditopang oleh logika artistik, sesuatu yang disarankan bagi penulis naskah yang juga sutradara.<br />
Dalam menafsir, keselarasan peristiwa dengan kurun waktu dan manusianya, harus bisa dicerna logika. Begitu juga konflik-konflik yang terjadi di sekitar tokoh. Kemudian, bagaimana mengemas konflik dengan sugesti pada perjalanan kehidupan tokoh-tokoh, baik dengan dirinya, masyarakat, latar belakang budayanya. Sehingga, ada sisi lain yang diharapkan dari sebuah naskah sebagai produk intelektual dan budaya, yakni dapat membantu peneliti memandang masalah-masalah tokoh yang diamati<br />
Membaca naskah-naskah Wisran, juga menyaksikan pertunjukannya, kita melihat sesuatu yang diparodikan, tukikan yang ironis, permainan kata yang liar dan satir. Kritik-kritik sosialnya disampaikan seperti dengan bercemooh atau bergurau dan beberapa bahkan dengan plesetan kata. Karena ia menyadari, kekuatannya adalah kata. Kata salah satu sumber kekuatan dan idenya, selain dari membaca, melihat permainan tradisi, kehidupan masyarakat adat, kelas bawah atau perilaku pemangku adat dan pejabat. Tak heran tentunya, ketika deretan penghargaan diraih Wisran, yang diakibatkan bahwa menulis naskah drama, termasuk novel, cerpen, adalah menulis kehidupan dengan tajam sehingga sayatannya bisa dirasakan setimpal dengan pengetahuan yang menikmatinya.</p>
<p>Banyak penghargaan diraih Wisran. Buktinya: menerima Penghargaan dari Pemerintah Republik Indonesia di Jakarta melalui Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional atas buku Empat Sandiwara Orang Melayu,  di Jakarta, 4 Oktober 2000. Penghargaan Sea Write Award 2000 dari Kerajaan, Thailand atas buku yang sama, 21 September 2000 yang diserahkan di Bangkok oleh Princess Bajrakitiyabha. Kemudian ia juga mendapat Hadiah Buku Utama dari Yayasan IKAPI dan Departemen Pendidikan Nasional atas buku novel Tamu di Jakarta, 2 Oktober 1998 serta  Hadiah Buku Sastra Terbaik Pertemuan Sastrawan Nusantara melalui buku drama Jalan Lurus, 11 Desember 1997 di Padang.  Wisran juga merupakan Pemenang Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Indonesia Dewan Kesenian  Jakarta 1996 atas naskah drama Gading Cempaka. Lalu sebelumnya ia memenangkan Sayembara Penulisan Drama Kanak-kanak Indonesia Dewan Kesenian Jakarta, tahun 1996 atas naskah drama Mama di Mana,  pemenang Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Indonesia Dewan Kesenian Jakarta 1980 atas naskah drama: Imam Bonjol,  pemenang Sayembara Penulisan Naskah, Sandiwara Indonesia Dewan Kesenian Jakarta 1979,  atas naskah drama: Penyeberangan, pemenang Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Indonesia Dewan Kesenian Jakarta, tahun 1979 atas naskah drama Pewaris, pemenang Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Indonesia Dewan Kesenian Jakarta 1978 atas naskah drama: Perguruan, pemenang Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Indonesia Dewan Kesenian Jakarta1978 atas naskah drama: Malin Kundang, pemenang Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Indonesia Dewan Kesenian Jakarta 1977 atas naskah drama: Cindra Mata,  pemenang Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Indonesia Dewan Kesenian Jakarta, 1977 atas naskah dramaAnggun Nan Tongga. Menerima hadiah pemenang Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Indonesia Dewan Kesenian Jakarta, 176 atas naskah drama:  Ring, pemenang Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Indonesia Dewan Kesenian Jakarta 1976 atas naskah drama: Gaung.    <strong>(Yusrizal KW) </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yusrizalkw.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yusrizalkw.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yusrizalkw.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yusrizalkw.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yusrizalkw.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yusrizalkw.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yusrizalkw.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yusrizalkw.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yusrizalkw.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yusrizalkw.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yusrizalkw.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yusrizalkw.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yusrizalkw.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yusrizalkw.wordpress.com/324/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusrizalkw.wordpress.com&amp;blog=659185&amp;post=324&amp;subd=yusrizalkw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yusrizalkw.wordpress.com/2010/10/21/melukis-kata-menjadi-berjiwa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b6e36fc10a1e2f7c079be65cfc77c0c0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yusrizalkw</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yusrizalkw.files.wordpress.com/2010/10/tamu1.jpg?w=208" medium="image">
			<media:title type="html">Tamu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENGGANGGU PIKIRAN DENGAN KATA</title>
		<link>http://yusrizalkw.wordpress.com/2010/10/21/mengganggu-pikiran-dengan-kata/</link>
		<comments>http://yusrizalkw.wordpress.com/2010/10/21/mengganggu-pikiran-dengan-kata/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Oct 2010 00:24:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yusrizalkw</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yusrizalkw.wordpress.com/?p=318</guid>
		<description><![CDATA[=Bagian 1 tentang Wisran Hadi= Karena lebih banyak melahirkan naskah drama dibanding novel dan cerita pendek, ditambah lagi ia juga seorang sutradara teater, maka tak heran kalau Wisran Hadi lebih kental disebut sebagai salah seorang tokoh teater Indonesia. Di dalam kehidupan kebudayaan Indonesia dan Kebudayaan Minangkabau, Wisran Hadi adalah seorang seniman yang fenomenal. Disebabkan naskah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusrizalkw.wordpress.com&amp;blog=659185&amp;post=318&amp;subd=yusrizalkw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>=Bagian 1 tentang Wisran Hadi=</strong></p>
<p>Karena lebih banyak melahirkan<a href="http://yusrizalkw.files.wordpress.com/2010/10/wisran.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-319" title="wisran" src="http://yusrizalkw.files.wordpress.com/2010/10/wisran.jpg?w=210&#038;h=190" alt="&quot;wisran hadi&quot;" width="210" height="190" /></a> naskah drama dibanding novel dan cerita pendek, ditambah lagi ia juga seorang sutradara teater, maka tak heran kalau Wisran Hadi lebih kental disebut sebagai salah seorang tokoh teater Indonesia. Di dalam kehidupan kebudayaan Indonesia dan Kebudayaan Minangkabau, Wisran Hadi adalah seorang seniman yang fenomenal.<br />
<span id="more-318"></span><br />
Disebabkan naskah drama yang ditulisnya dan pementasan yang disutradarainya sering mengundang perbincangan, mulai dari yang kontroversial sampai ke gagasan kata dan parodial sebagai salah satu nyawa karyanya, maka nama Wisran Hadi menemukan tempat ‘duduk’ yang pas di khasanah perteateran Indonesia. Jika Putu Wijaya dikenal dengan bentuk teror, Nano Rintiarno dengan gaya yang cenderung mengajak menertawakan diri sendiri, sedangkan Wisran Hadi pada bentuk mengeksplorasi kata dan parodial dengan sisi lainnya: membenturkan gagasannya dengan realita yang sudah ada, seperti sikapnya yang membenturkan pikirannya pada mitos, demi munculnya pikiran atau tafsir baru terhadap realita yang terjadi.</p>
<p>Dari puluhan naskah yang dilahirkan Wisran (umumnya dipentaskan oleh grupnya sendiri: Bumi Teater), sebahagian besar meraih penghargaan, diterbitkan dan dijadikan bahan kajian oleh peneliti sastra di dalam dan di luar negeri. Naskah-naskah Wisran selain berangkat dari mitos, hikayat, legenda, fenomena adat, sejarah, budaya Minang, juga pemahaman tentang agama. Kesemuaan picu gagasan itu, dieksplorasi Wisran ke dalam kata dengan pemaknaan yang senapas dengan keberadaan muasal gagasannya. Artinya, melalui kata, apa pun gagasan dan pijakan pikirannya, bertujuan mencetuskan nalar. Mendobrak logika yang tertumpu pada tatanan budaya dan tradisi masyarakat yang dinilainya telah menjadi kaku.</p>
<p>Di dalam karya-karyanya, Wisran Hadi telah mengubah sejumlah tokoh-tokoh yang telah menjadi mitos di dalam kebudayaan Minangkabau, menjadi tokoh-tokoh yang parodial. Ia mengejek Bundo Kanduang, Dang Tuanku, Basa Ampek Balai, dan Cindua Mato, yang sesungguhnya hal itu bagi orang Minang sesuatu yang hidup sebagai hikayat yang dikagumi.</p>
<p>Menurut Prof. Dr. Mursal Esten (almarhum), dalam sebuah perbincangan di Restoran Serba Nikmat Padang, 18 Juli 1991, bahwa Wisran Hadi di dalam karya-karyanya meruntuhkan mitos dan memorak-morandakan status quo. Ia membuat kekayaan tradisi menjadi sesuatu yang relevan dengan zamannya. Karya-karyanya pada hakekatnya bukan hanya kritik terhadap tradisi, tapi lebih jauh adalah kritik terhadap fenomena zaman. Wisran tidak hanya bicara tentang Minangkabau, tapi lebih jauh, tentang bangsa dan manusia pada umumnya. Ia bicara tentang dunia hari ini dan tantangan-tantangannya, tapi menggunakan idiom-idiom tradisi (Minangkabau). Ia tidak menulis dalam bahasa Minangkabau, tapi dalam bahasa Indonesia. Pada hakekatnya, apa yang dilakukan Wisran Hadi adalah membuat tradisi menjadi baru, membuat adat bisa tetap terpakai.</p>
<p>Dalam naskahnya berjudul Puti Bungsu (Wanita Terakhir)¸ Wisran menggabungkan tiga mitos yang melekat di tengah masyarakat yaitu: Malin Kundang, Malin Deman dan Sangkuriang. Tiga mitos tersebut oleh Wisran, tidak diceritakan sebagaimana adanya keberadaan cerita itu di tengah masyarakat. Menurut Umar Junus, mitos tersebut oleh wisran telah mengalami proses demitefikasi. Penyatuan ketiga tokoh dalam cerita rakyat itu saja, sesungguhnya sudah merupakan demitefikasi. Tiga tokoh dalam narasi berbeda, oleh Wisran dipertemukan dalam satu ruang teks cerita baru: Puti Bungsu</p>
<p>Menurut Kritikus Sastra dari Fak. Sastra Universitas Andalas, Ivan Adilla, bahwa jika pada naskah dan pementasan Puti Bungsu Wisran banyak digugat dan dituding karena dianggap menjungkirbalikkan fakta (bagi Wisran sebagai parodi menghidupkan logika baru), dikarenakan masyarakat tidak terbiasa mengkaji, bahkan mendengar kajian tentang naskah Wisran oleh pakar atau pengamat. Sehingga, hal itu menyebabkan masyarakat, termasuk para tokoh Minang, tidak mencari makna untuk dipahami dari modifikasi maupun demitefikasi yang dilakukan penulisnya.</p>
<p>Seperti naskah Puti Bungsu misalnya. Umar Junus pernah menelaah naskah tersebut. Menurutnya, demitefikasi yang dilakukan Wisran melalui naskah Puti Bungsu, digunakan untuk mencari keadaan sosio-budaya yang oleh Wisran dilihat melalui naskah drama yang satu ini. Junus menyimpulkan, Wisran telah menyesuaikan mitos kepada hakikatnya yang dianggapnya ada pada keadaan sosio budaya yang dilukiskannya.</p>
<p>Sedangkan dalam pencermatan Ivan Adilla, sesungguhnya Wisran memiliki kecenderungan memberi tafsiran baru terhadap sesuatu, sesuatu itu antara lain bisa berupa cerita rakyat yang sudah ada. Wisran tidak melihat Malin Kundang sebagai cerita anak durhaka. Tetapi misalnya, ia ingin memberi isian baru untuk melihat struktur keluarga Minangkabau melalui tokoh-tokoh yang ada. Ia melihat sisi lain dari cerita yang sama. Alternatif demikianlah yang cenderung disodorkan Wisran. Misalnya, Malin Kundang sebenarnya tidak melupakan ibunya, tetapi ibunyalah yang cemburu kenapa Malin Kundang pulamg bersama seorang istri dan tidak bersama ayahnya.</p>
<p>Ditegaskan Ivan, bahwa dari tokoh yang sama, sebagai penulis, Wisran secara tersirat telah memberi alasan tentang tindakan tokoh dari sudut yang selama ini tidak diperhatikan orang. Yakni: Wisran menggugat ibu Malin Kundang yang mengutuk anaknya. Jika dalam cerita berjudul Malin Deman dikatakan bahwa Malin Deman menyembunyikan pakaian Puti Bungsu, sehingga bidadari itu tidak bisa lagi terbang ke langit. Tetapi, oleh Wisran, bukan Malin Deman yang menyembunyikan pakaiannya, melainkan Puti Bungsulah yang tidak mau lagi ke langit, karena ia jatuh hati pada Malin Deman.</p>
<p>Naskah-naskah Wisran umumnya bersetting Minangkabau. Sentilan-sentilan nakal, permainan kata, penjungkirbalikkan tokoh-tokoh, bagian dari ciri Wisran. Menurut Sahrul N, dosen Jurusan Teater STSI Padangpanjang, penulis buku Kontroversi Imam Bonjol, sesungguhnya tema-tema besar Wisran sangat menggelitik. Dalam lakon Imam Bonjol misalnya, oleh Wisran seperti sedang menggelitik pikiran dan menawarkan realita yang lebih mendalam. Seperti misalnya pembrontakkan terhadap sejarah Perang Paderi, atau sejarah Tuanku Imam Bonjol sebagai pahlawan nasional, konflik kepentingan yang terdiri atas konflik politik, agama, ekonomi, adat dan budaya serta konflik sejarah. Dalam naskah ini, Wisran mencoba untuk melihat dengan kacamatanya sendiri secara rasional dan kritis.</p>
<p>Kepiawaian Wisran, selain memainkan kata dalam fungsi yang tepat sehingga unsur sastra menyatu dengan pas tanpa mesti kehilangan unsur dramatiknya. Dalam naskah berjudul Perguruan misalnya. Di sini, pemahaman sebagai penulis naskah tentang persoalan yang ditulis, memiliki arah kepada aspek pendalaman makna. Dalam naskah Perguruan, Wisran mengangkat realita perguruan Islam di Minangkabau, di masa Perang Paderi, memiliki pesan yang terbungkus busana bahasa yang cenderung filosofis. Betapa tidak terasa menggurui ketika ia menyampaikan persoalan Islam, pergulatan pikiran, pencarian nilai-nilai, argumentasi serta dinamika silat lidah orang Minang yang selalu berujung untuk kata dan pemahaman dan kias pada kata tersirat.</p>
<p>Masalah-masalah keagamaan, juga cukup menjadi perhatian dalam karya-karya Wisran hadi. Hal itu, tentu tidak lepas dari pendidikan yang ia dapatkan sejak kecil, karena ia terlahir dari keluarga seorang ulama, Buya Haji Darwas Idris. Khusunya, pada naskah Jalan Lurus yang mendapat penghargaan naskah terbaik Dewan Kesenian Jakarta, ada pesan religius tersirat di situ. Naskah ini sebuah lakonan yang penuh dengan eksplorasi kata, yang hakikatnya pada jalan kebenaran menuju ridha Allah. Lurus bukan berarti horizontal, melainkan vertikal. Bukan ke depan, tetapi ke atas, pada yang Mahakuasa.</p>
<p>Agaknya, Wisran memang seperti ‘berahi’ melawan kemandekan pikiran, kemapanan realita. Ia merasa gelisah untuk melihat kenyataan sosial dan budaya masyarakatnya, yang tidak mencengkeram wilayah Minangkabau, tetapi Indonesia umumnya. Penjungkirbalikan sesuatu, pemarodian hal-hal yang barangkali tabu dalam pandangan budaya dan adat, baginya hal yang menarik untuk mencetuskan daya kreatifnya. Dari umumnya naskah Wisran, sepertinya, masyarakat adalah publik yang pikiran dan nalarnya harus diganggu. Harus diguncang dengan tawaran-tawaran yang kadang terasa menikam kenyamanan kultur dan tradisi yang statis.<br />
Wisran memilki prinsip yang nyaris sama dengan Rene Descartes. Kalau Rene Descartes meragukan segaka-galanya (cogito ergo sum), maka Wisran memiliki pengecualian. Bagi Wisran, seperti yang sering diungkapkannya, bahwa yang tidak boleh diragukan dan ditentang atau dijungkirbalikkan itu adalah Allah Swt, Alquran, Nabi Muhammad dan hadist. Setelah itu, ayah dan ibu kita. Selain itu? Boleh! Asal, dengan cara yang cerdik dan tepat, serta bisa dipertanggungjawabkan argumentasinya secara intelektual.<br />
Hal itu, tentu salah satu jawaban, kenapa karyanya banyak dianggap kontroversi yang banyak memerahkan telinga masyarakat dan tokoh-tokoh, terutama di ranah Minang.<strong> (yusrizal kw)</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yusrizalkw.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yusrizalkw.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yusrizalkw.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yusrizalkw.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yusrizalkw.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yusrizalkw.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yusrizalkw.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yusrizalkw.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yusrizalkw.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yusrizalkw.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yusrizalkw.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yusrizalkw.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yusrizalkw.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yusrizalkw.wordpress.com/318/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusrizalkw.wordpress.com&amp;blog=659185&amp;post=318&amp;subd=yusrizalkw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yusrizalkw.wordpress.com/2010/10/21/mengganggu-pikiran-dengan-kata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b6e36fc10a1e2f7c079be65cfc77c0c0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yusrizalkw</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yusrizalkw.files.wordpress.com/2010/10/wisran.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">wisran</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KAPERE</title>
		<link>http://yusrizalkw.wordpress.com/2010/10/20/kapere-2/</link>
		<comments>http://yusrizalkw.wordpress.com/2010/10/20/kapere-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Oct 2010 16:24:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yusrizalkw</dc:creator>
				<category><![CDATA[RASAKATA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yusrizalkw.wordpress.com/?p=309</guid>
		<description><![CDATA[Kapere, keindahan untuk menyuburkan kebermaknaan Ada kata yang, barangkali oleh sebagian besar kaum muda Minangkabau, tidak dikenalnya sama sekali. Atau, saya yang memang abai mendengar atau menemukan kata tersebut dalam kehidupan sehari-hari selama ini? Entahlah! Suatu siang, ketika menemani orang rumah (istri) ke Pasar Siteba, saya mendengar kata yang menggoda “rasakata” saya. Kata itu adalah: [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusrizalkw.wordpress.com&amp;blog=659185&amp;post=309&amp;subd=yusrizalkw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Kapere, keindahan untuk menyuburkan kebermaknaan</em></p>
<p>Ada kata yan<em></em>g, barangkali oleh sebagian besar kaum muda Minangkabau<a href="http://yusrizalkw.files.wordpress.com/2010/10/kapere1.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-313" title="kapere" src="http://yusrizalkw.files.wordpress.com/2010/10/kapere1-e1287592130458.jpg?w=450" alt=""   /></a>, tidak dikenalnya sama sekali. Atau, saya yang memang abai mendengar atau menemukan kata tersebut dalam kehidupan sehari-hari selama ini? Entahlah!<br />
Suatu siang, ketika menemani orang rumah (istri) ke Pasar Siteba, saya mendengar kata yang menggoda “rasakata” saya. Kata itu adalah: “kapere”. Seorang perempuan tua penjual sayur, ketika ditanya keadaan anaknya yang di Batam, ia menjawab, ”Inyo sadang kapere kini. Tapi, baa juo lai. Awak di siko takapere pulo. Sagalo maha!Apo lai di Batam” (Dia sedang kapere kini. Tapi bagaimana lagi. Kita di sini takapere juga. Segala mahal. Apalagi di Batam).</p>
<p><span id="more-309"></span><br />
Kata “kapere” menggoda” saya untuk tahu apa artinya. Lalu dengan tersenyum saya tanya, ”Mak, kapere itu apo aratinyo?” (Mak, Kapere itu apa artinya?). Perempuan tua itu tersenyum. ”Itu bahaso urang daulu mah. Susah aratinyo. Tadasak iduk. (Itu bahasa orang dulu. Susah artinya. Terdesak hidup). Saya pun tersenyum, karena kata itu, bagi saya baru pertama kali terdengar.<br />
Setiba di rumah, saya mengembangkan Kamus Lengkap Bahasa Minang yang disusun Drs. Gauzali Saydam, Bc.TT, suatu kamus yang selalu jadi pegangan saya. Saya temukan, ”kapere” berarti keadaan terdesak, sedang dalam keadaan prihatin. Kapere juga berarti tertatih-tatih, terhuyung, keadaan seperti mau rebah.<br />
Setelah kita tahu arti kapere, yang terbayang kemudian, bahwa kata itu memiliki makna yang, bisa biasa-biasa saja, juga bisa luar biasa. Tergantung bagaimana kita meniupkan interpretasi dan makna pada kata ”kapere”. Ketika kita menyadari, bahwa koran kita ini beberapa kali memberitakan angka kemiskinan di Kota Padang terus meningkat, itu artinya, makin banyak orang yang takapere. Kemiskinan, juga berarti butuh atau kekurangan uang. Karena serba kekurangan, karena itu jadi dianggap takapere. Tidak kokoh secara ekonomi.<br />
Kalau karena kurang gizi, tua dalam derita misalnya, maka untuk berdiri lama apalagi berjalan jauh, sungguh tak punya tenaga. Terhuyung-huyung. Jalan tertatih-tatih—terkapere&#8230;.<br />
Kalau kita meminjam uang ke seseorang, jika selama ini langsung dapat, tapi ketika kita mencoba lagi, kali ini tiba-tiba dia mendesah, ”Maaf, sedang takapere kini. Lain kali ya&#8230;.” Itu artinya, memang dia sedang dalam keadaan memprihatinkan. Kita harus berlapang hati, jangan kapere (rebah) pula sikap baik kita padanya.<br />
Kapere, untuk nalar kata, bisa mencantel pada kata jiwa, maka dia menjadi orang yang lemah jiwa, gampang rapuh hatinya. Kapere pun bisa pula kita sesuaikan dengan padanannya yang bernama ”rapuh”, ”lemah”, ”kepepet”, ”genting” dan lain sebagainya. Di sinilah, kita bisa main-main, akrab-akraban dengan kata. Misalnya, kapere iman sama dengan lemah iman, dia mencuri karena kapere artinya lantaran kepepet, hubungan kesuami-istriannya sedang kapere bermakna genting atawa di ambang cerai. Dan, banyak hal yang bisa dikembangkatakan, dilebarmaknakan dari kata ”kapere”.<br />
Takapere, ya terkapere juga berarti tersandar atau terdinding dan hanya memasrahkan diri, pasrah menghadapi segala desakan yang datang dari depan, samping kiri dan kanan ketika untuk melangkah mundur pun tak bisa. Langkah mati, tak maju, tak mundur, adalah posisi di mana kadang berdoa juga bisa dijadikan sebuah harapan, sekalipun sedetik sebelumnya kita menodai hati dengan dosa atau membiarkan iman dan takwa kita dalam keadaan takapere (runtuh/lemah) yang tak disadari dimana batas dan bagaimana mengakhirinya.<br />
Takapere, juga bisa berupa tekor. Rugi berlipat ganda. Kehilangan semangat karena ada aroma dan suasana dalam diri (hati) yang ketika kita normal berpikir dan berhati, semangat dan suasana hangat (positif) dalam diri, adalah telaga atau pincuran kesejukan yang membisikkan batin kita, itulah keindahan.<br />
Keindahan, yah itulah yang diharapkan tumbuh dari pemaknaan takapere sebagai suatu realita yang bisa ditiupkan kesejukan ke dalamnya. Kita bisa membuat hati gembira, ketika hati yang tak kapere menghibur. Kita bisa merasa lapang, ketika hati yang lain tidak sempit kapere. Kita bisa merasa bernyanyi, ketika suara lain tidak takapere.</p>
<p>Dan, kita bisa berharap, keindahan kadang mesti dipupuk dengan kapere yang disadari sebagai pewarna hidup dari-Nya. Karena itu pula, kita bisa mengatakan, kapere yang dipupuk ketulusan menjalaninya, akan berbuah, kebahagiaan. Hanya kebahagiaan hakiki yang kita butuhkan akhirnya, ketika di tempat lain kita tahu kepahitan adalah obat yang menyembuhkan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yusrizalkw.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yusrizalkw.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yusrizalkw.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yusrizalkw.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yusrizalkw.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yusrizalkw.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yusrizalkw.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yusrizalkw.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yusrizalkw.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yusrizalkw.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yusrizalkw.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yusrizalkw.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yusrizalkw.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yusrizalkw.wordpress.com/309/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusrizalkw.wordpress.com&amp;blog=659185&amp;post=309&amp;subd=yusrizalkw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yusrizalkw.wordpress.com/2010/10/20/kapere-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b6e36fc10a1e2f7c079be65cfc77c0c0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yusrizalkw</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yusrizalkw.files.wordpress.com/2010/10/kapere1-e1287592130458.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kapere</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BARANGIN</title>
		<link>http://yusrizalkw.wordpress.com/2010/10/20/barangin-2/</link>
		<comments>http://yusrizalkw.wordpress.com/2010/10/20/barangin-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Oct 2010 13:30:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yusrizalkw</dc:creator>
				<category><![CDATA[RASAKATA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yusrizalkw.wordpress.com/?p=301</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang menarik di orang Minang ini. Menggelari atau menyebut orang “barangin”, arti yang ditawarkannya bisa membuat kita mengangguk (kalau memang dia berangin), tersenyum simpul (kalau ungkapan itu sindiran gurau) atau kita sendiri yang dikatakan “barangin” dan mendengarnya malah cengengesan, sembari mengumpat, “Kurang ajar!” Barangin ternyata sama dengan kurang waras, tidak bisa jadi pegangan, suka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusrizalkw.wordpress.com&amp;blog=659185&amp;post=301&amp;subd=yusrizalkw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada yang menarik di oran<a href="http://yusrizalkw.files.wordpress.com/2010/10/barangin.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-302" title="barangin" src="http://yusrizalkw.files.wordpress.com/2010/10/barangin.jpg?w=236&#038;h=300" alt="" width="236" height="300" /></a>g Minang ini. Menggelari atau menyebut orang “barangin”, arti yang ditawarkannya bisa membuat kita mengangguk (kalau memang dia berangin), tersenyum simpul (kalau ungkapan itu sindiran gurau) atau kita sendiri yang dikatakan “barangin” dan mendengarnya malah cengengesan, sembari mengumpat, “Kurang ajar!”</p>
<p>Barangin ternyata sama dengan kurang waras, tidak bisa jadi pegangan, suka asyik dengan diri dan pikiran sendiri. Barangin boleh juga sebutan orang yang nekat (Hati-hati, dia barangin itu…) Suka diasung. Ada pula orang, kalau ada temannya yang tidak punya rasa malu, tidak pernah pakai etika di mana pun dia ada, maka enak saja dibilang, “dia barangin”. Kalau ada yang marah, maka akan ada pula yang menyela, “Biar sajalah, dia barangin…. Kalau marah kita ke dia, kita pula yang barangin namanya….”</p>
<p><span id="more-301"></span></p>
<p>Orang-orang yang mendapatkan sebutan barangin, secara tidak langsung, tindakan mereka mendapatkan permakluman. Tetapi, tentu ada pula yang tidak. Gelar barangin, kadang panggilan “sayang” komunitas atau kelompok tertentu terhadap temannya, mungkin, disebabkan sensasi yang pernah ekstrem dilakukannya. Tidak semua panggilan barangin untuk peremehan atau pemastian identitas seseorang. Dalam kehidupan bermasyarakat, pada lingkungan tertentu, umumnya ada yang orang, apakah disadari atau tidak, dikatakan barangin.</p>
<p>Orang kita ini kadang terlalu kreatif, kalau tak mungkin dikatakan suka memberi “gelar” buruk sebagai olok-olok di tengah masyarakat. Kalau ada tetangganya yang suka menyalakan tape keras-keras di waktu pagi, tak bisa dimohonkan agar dipelankan karena mengganggu, maka bisa saja kita bilang “dia barangin”. Kenapa barangin? Orang tak waraslah yang tidak paham hidup saling menjaga kenyamanan sebelah menyebelah atau bertetangga. Begitu juga, kalau ada bos yang suka marah-marah, suka mengatakan ke orang gaji anak buahnya besar dan sejahtera, sering menyebut ke orang lain atau dalam ceramahnya bahwa karyawan adalah aset berharga, padahal orang tahu gaji di tempatnya kecil mencekik, persentase terbesar yang bergaji di bawah upah minimum lebih dari 50 persen, maka sang bos dikatakan oleh anak buahnya “barangin”. Orang barangin tidak malu membayar orang rendah walau pemasukkannya besar dan berkata omong besar.</p>
<p>Kalau diteruskan, apa saja yang bisa dikaitkan dengan “barangin”, tentulah teramat banyak. Jangan-jangan, kita pun sudah “barangin”, karena hanya terpaku pada kata “barangin”. Tapi, yang jelas, kalau ada orang gila lewat di depan kita dibilang barangin, itu biasa. Cuma, kalau ada orang membiarkan kita melakukan apa saja, dilarang pun tidak, didukung pun tidak, mereka memandang kita dengan sorot mata yang aneh, cepat-cepatlah koreksi diri, jangan-jangan kita sedangk digumamkan mereka sebagai “barangin”.</p>
<p>Barangin kalau diindonesiakan, sama artinya berangin, memiliki angin. Tetapi dalam bahasa Minang tidak bisa selugu itu kita terjemhkan. Barangin itu, kadang dipahami lantaran ada yang bocor. Nah, lantaran itu ada pula orang menyebut boco aluih (bocor ahalus). Yang bocor, tentulah yang berangin. Dia berangin karena ada yang bocor. Orang Minang, ketika menyebut orang barangin atau boco aluih, maksudnya pada jiwa atau otaknya, ada yang kempes. Jadi tidak berpikir normal lagi. Gangguan jiwa. Gangguan perilaku. Gangguan diri yang membuat semua terlihat tak normal.</p>
<p>Menjelang pemilu 2009 ini, saking begitu banyak caleg, ribuan gambar mereka terpajang di mana-mana, pertanyaannya kemudian adalah, siapakah di antara mereka yang akan barangin nantinya? Atau, siapakah orang barangin yang bakal dipilih oleh rakyat, yang nantinya akan melahirkan kebijakan barangin. Tentu, semua bisa terjadi bisa juga tidak. Tapi, yang jelas, selagi ada angin, orang barangin akan tetap ada hehehe.</p>
<p>Bicara “barangin”, sesungguhnya bicara akal sehat. Sejauhmana, kita menuntut diri, agar memahami banyak hal dengan baik, untuk memberi ke banyak hal dengan baik lantaran ingin menerima banyak hala dengan baik pula. Karena, kata barangin, adalah kata yang memaksa kita sebenarnya, agar tidak mengalami kebocoran. Kalau bocor, angina akan berhembus, kadang bisa saja sejuk, tetapi, kebocoran yang buruk akan menimbulkan busuk seperti kentut.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yusrizalkw.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yusrizalkw.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yusrizalkw.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yusrizalkw.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yusrizalkw.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yusrizalkw.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yusrizalkw.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yusrizalkw.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yusrizalkw.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yusrizalkw.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yusrizalkw.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yusrizalkw.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yusrizalkw.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yusrizalkw.wordpress.com/301/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusrizalkw.wordpress.com&amp;blog=659185&amp;post=301&amp;subd=yusrizalkw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yusrizalkw.wordpress.com/2010/10/20/barangin-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b6e36fc10a1e2f7c079be65cfc77c0c0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yusrizalkw</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yusrizalkw.files.wordpress.com/2010/10/barangin.jpg?w=247" medium="image">
			<media:title type="html">barangin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tuhan, Kuatkanlah Bahuku</title>
		<link>http://yusrizalkw.wordpress.com/2010/10/20/tuhan-kuatkanlah-bahuku/</link>
		<comments>http://yusrizalkw.wordpress.com/2010/10/20/tuhan-kuatkanlah-bahuku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Oct 2010 08:04:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yusrizalkw</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yusrizalkw.wordpress.com/?p=292</guid>
		<description><![CDATA[Jangan meminta beban yang ringan pada Tuhan. Mintalah bahu yang kuat! (Karen Amstrong) Dalam berdoa, atau ketika disuruh memilih, banyak orang ingin dimudahkan. Diberi keringanan. Dibantu dalam banyak hal. Tidak perlu memahami, betapa upaya yang pahit, jika berhasil, terasa manis. Bahwa kehidupan ini memerlukan proses, sehingga kelak, semua diyakini tidaklah sesuatu yang ada serta-merta. Karena [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusrizalkw.wordpress.com&amp;blog=659185&amp;post=292&amp;subd=yusrizalkw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://yusrizalkw.files.wordpress.com/2010/10/muslimah-berdoa.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-296" title="Ilustrasi (sumber http://voucherlistrikonline.com)" src="http://yusrizalkw.files.wordpress.com/2010/10/muslimah-berdoa.jpg?w=210&#038;h=187" alt="" width="210" height="187" /></a>Jangan meminta beban yang ringan pada Tuhan. Mintalah bahu yang kuat!</em><br />
(Karen Amstrong)</p>
<p>Dalam berdoa, atau ketika disuruh memilih, banyak orang ingin dimudahkan. Diberi keringanan. Dibantu dalam banyak hal. Tidak perlu memahami, betapa upaya yang pahit, jika berhasil, terasa manis. Bahwa kehidupan ini memerlukan proses, sehingga kelak, semua diyakini tidaklah sesuatu yang ada serta-merta.<br />
<span id="more-292"></span><br />
Karena itulah, kita merasa biasa-biasa saja, kalau melihat seseorang berhasil menyogok untuk mendapatkan jabatan tertentu, ditakuti karena berteman dengan orang bagak, dihormati karena dekat dengan penguasa. Sebab, nilai hidup bagi sebagian orang, ternyata adalah kemudahan yang didapat di tengah orang yang melakukannya dengan benar tapi banyak dipersulit atau memakan waktu dan energi yang lama. Kehormatan semu, yang tidak memerlukan kerja keras dan etika, dijadikan penguat eksistensi.</p>
<p>Sia-sia bercerita tentang para tokoh bangsa atau dunia yang meraih kesuksesan dengan kerja keras sebagai tauladan kepada mereka yang berpikir ingin gampang dan serba dipermudah. Karena akan dijawab, “Itu kan dulu!” atau, “Jangan idealislah”. Dan, karena itulah, bisa pula dipahami, saat ini banyak orang mengalami depresi, kekosongan spiritual dan menjadi serigala bagi sesama, ketika nafsu ingin enak menguasai dirinya.</p>
<p>Mentalitas ingin enak (mau enak sendiri), tanpa control nilai, salah satu perilaku buruk yang tertera jelas dalam kehidupan sosial kita. Banyak peraturan atau pelanggaran etika, hukum atau norma dalam masyarakat yang terjadi. Semua itu, jelas karena nafsu ingin enak. Mereka bisa saja dari kalangan pemimpin, ulama, tokoh adat, kaum intelektual, pegawai rendahan dan masyarakat biasa sekalipun.</p>
<p>Sebenarnya, disadari atau tidak, secara sungguh-sungguh, banyak orang abai berpikir tentang etos kerja, kerja keras, berpikir keras dan pentingnya empati serta kejujuran dalam hidup. Hanya sedikit orang yang mampu menempa dirinya, menjadi orang yang kuat untuk menghadapi tantangan hidup sekeras apa pun. Memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan, menanamkan nilai empati, sesuatu yang nyaris mustahil dijadikan sebagai pedoman ideal bagi banyak orang saat ini. Apalagi, kecenderungan hedonis saat ini menyungkup akal sehat, mengukur diri dengan rasa senang. Orang mengukur, seberapa bahagianya dia, bukan seberapa bermaknanya ia menjalani hidup.</p>
<p>Di toko buku, kita banyak mendapatkan buku-buku motivasi orang berbahagia, kaya raya tanpa modal, ongkang kaki bisa sukses, uang bekerja untuk Anda, utang pangkal kaya dan sebagainya, ternyata laku keras. Pesan buku tersebut, muncul dari kesadaran adanya segmen menarik, bahwa orang ingin meraih kebahagiaan atau kesuksesan dengan cara mudah cukup banyak di Indonesia. Buku tersebut laku dan mengalami cetak ulang, walau pada akhirnya, pembaca buku tersebut tetap miskin atau melarat karena tidak menyadari, ada keseriusan atau kerja keras yang mendalam (focus) untuk meraih apa yang disebut “senang hakiki/sejati”.</p>
<p>Ingin enak, dalam tulisan ini, sebenarnya sebuah kesimpulan untuk menegaskan bahwa dalam banyak hal, orang ingin meraih dan mendapatkan sesuatu, selalu ingin dengan mudah. Selalu ingin ditolong. Mentang-mentang ada tenaga honor di kantor kita, si honorer dibiarkan mengerjakan banyak hal, termasuk pekerjaan yang mestinya kita yang melakukannya. Tidak malu, kalau gajinya lebih besar dari tenaga honor, sementara porsi kerja dan tanggungjawab kecil, dan itupun dilimpahkan pula ke tenaga honor yang untuk ongkosnya saja susah. Nanti, kalau kerjanya dipuji bagus oleh bos, kita pula yang mengaku, dan memang begitu enaknya.</p>
<p>Ketika mendapat masalah, musibah atau goncangan tertentu, kita tidak membaca kelemahan diri. Malah mencari, apa yang paling instant solusinya. Ketika pada saat itu misalnya disarankan minta pertolongan pada Tuhan, maka doanya, selalu minta diringankan. Minta cepat-cepat masalah berlalu. Bukan bagaimana cara menemukan kekuatan cara menghadapi masalah itu dengan pertolongan-Nya.</p>
<p>Karena itu, kutipan di awal tulisan ini, sangat menggugah saya. Jangan meminta beban yang ringan pada Tuhan. Mintalah bahu yang kuat!  Simpulan dari ungkapan Karen Amstrong, penulis buku Sejarah Tuhan, itu memiliki pesan filosofis dan kuat. Di dalamnya ada energi positif, kesungguhan, kerja keras dan komitmen menjadi diri atau bangsa yang tangguh.</p>
<p>Kita selalu minta beban diringankan. Sehingga, selalu berada dalam kondisi menderita, mengalami tekanan berat atau merasa selalu mendapatkan cobaan beruntun. Berangkat dari memahami apa yang diungkapkan Karen Amstrong tersebut, sesungguhnya, sebagai manusia (bangsa) kita dituntut menjadi rakyat yang kuat untuk mendapatkan pemimpin yang kuat. Sebab, rakyat yang memiliki bahu yang kuat, atau manusia yang memiliki bahu yang kokoh, siap memikul (mengemban) beban dan tantangan seberat apa pun. Dengan demikian, dia bisa menciptakan realitas kehidupan yang lebih baik.(*)</p>
<p>Sumber Gambar: http://voucherlistrikonline.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yusrizalkw.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yusrizalkw.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yusrizalkw.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yusrizalkw.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yusrizalkw.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yusrizalkw.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yusrizalkw.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yusrizalkw.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yusrizalkw.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yusrizalkw.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yusrizalkw.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yusrizalkw.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yusrizalkw.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yusrizalkw.wordpress.com/292/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusrizalkw.wordpress.com&amp;blog=659185&amp;post=292&amp;subd=yusrizalkw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yusrizalkw.wordpress.com/2010/10/20/tuhan-kuatkanlah-bahuku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b6e36fc10a1e2f7c079be65cfc77c0c0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yusrizalkw</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yusrizalkw.files.wordpress.com/2010/10/muslimah-berdoa.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Ilustrasi (sumber http://voucherlistrikonline.com)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>LINDANG</title>
		<link>http://yusrizalkw.wordpress.com/2010/10/20/lindang/</link>
		<comments>http://yusrizalkw.wordpress.com/2010/10/20/lindang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Oct 2010 07:55:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yusrizalkw</dc:creator>
				<category><![CDATA[RASAKATA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yusrizalkw.wordpress.com/?p=289</guid>
		<description><![CDATA[Dalam terang, ingatlah lindangmu Bagi orang Minang, kata &#8220;lindang&#8221; sesungguhnya tak asing lagi. Kalau diartikan menurut yang tercatat di kamus, lindang berarti tidak bersisa sama sekali; hilang; lenyap. Seorang istri, meratap, ketika semua harta dan uang simpanannya habis tandas. Ibunya mendengar derita si anak, lalu bercerita ke orang lain dengan perasaan tertekan, &#8220;Lindang semua harta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusrizalkw.wordpress.com&amp;blog=659185&amp;post=289&amp;subd=yusrizalkw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://yusrizalkw.files.wordpress.com/2010/10/lindang.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-299" title="lindang" src="http://yusrizalkw.files.wordpress.com/2010/10/lindang.jpg?w=145&#038;h=160" alt="" width="145" height="160" /></a></p>
<p><em>Dalam terang, ingatlah lindangmu</em></p>
<p>Bagi orang Minang, kata &#8220;lindang&#8221; sesungguhnya tak asing lagi. Kalau diartikan menurut yang tercatat di kamus, lindang berarti tidak bersisa sama sekali; hilang; lenyap. Seorang istri, meratap, ketika semua harta dan uang simpanannya habis tandas. Ibunya mendengar derita si anak, lalu bercerita ke orang lain dengan perasaan tertekan, &#8220;Lindang semua harta anakku dibawa berjudi oleh lakinya&#8230;.&#8221;<br />
<span id="more-289"></span><br />
Kata &#8220;lindang&#8221; saat ini terasa kurang populer, jarang sekali digunakan dalam percakapan sehari-hari. Kata &#8220;lindang&#8217; bukan mustahil &#8220;lindang&#8217; pula dari khasanah percakapan (komunikasi) keseharian orang Minang, walau dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sudah dicatatkan. Setidaknya, kadang kita merasakan, kamus seakan adalah bentuk lain &#8220;museum kata&#8221;, baik masih dan tidak dipakai, agar tak lenyap dimamah zaman yang selalu melahirkan kata dan bahasanya.</p>
<p>&#8220;Lindang&#8221; juga berarti, misalnya, cahaya yang kita lihat tiba-tiba meredup. Terangnya melemah. Jika kita sedang berjaya, orang bilang bintangnya sedang bersinar, perlu diingat lindang juga mengintai kita. Artinya, kurang lebih begini: ketika benderang ingat lindangmu. Tujuannya, ya agar tak lupa diri saja. Agar tak kaget ketika lindang mendadak menyergap.</p>
<p>Ketika sesuatu yang kita harapkan, inginkan, butuhkan dilindangkan orang, perih rasanya. Rasa hormat kita barangkali, berganti menjadi benci. Ketika benci, kadang orang bisa &#8220;melindangkan&#8221; rasa cinta, persahabatan dan kasih sayang. Lindang semua rasa-rasa di hati!</p>
<p>Tandas lindang sama dengan nol. Nol sama dengan lindang landai. Ketika titik nol, merupakan suatu keniscayaan untuk mengawali atau mengakhiri sesuatu, &#8220;lindang&#8221; bisa bermakna untuk memulai atau mengisi kembali. Saat berikutnya, menjadi lebih mawas, agar tak lindang kedua kali.</p>
<p>Sekali melindangkan sesuatu menyakitkan orang, seumur hidup orang akan melindangkan kepercayaannya kepada kita. Sebab, melindangkan dengan niat buruk, kecamanlah yang tepat diberikan kepada yang bersangkutkan. Tetapi, kalau ada jamuan makan, semua hidangan lindang oleh kita bersama, atas dasar angguk, senyum dan tawa bersama pula, tuan rumah&#8211;sang penjamu merasa senang, ini namanya sekali melindangkan hidangan, semua rasa kita bahagia. Tapi, kadang lindang sering diungkapkan dengan tekanan emosi yang gerah, marah, kecewa. Walau, tak jarang pula diucapkan dalam keadaan puas, misalnya seorang ayah membelikan sate untuk anaknya. Si anak menyantap hingga habis tandas. Sang ayah berdecak, &#8220;Betul-betul suka sate anak saya. Lihatlah, lindang sama dia&#8230;.&#8221;</p>
<p>Ketika kita membaca koran, menonton berita televisi dan juga mendengar radio, kita dengar bahwa bangsa kita termasuk negerinya para koruptor terbesar di dunia. Dari kenyataan yang kita baca, tonton atau dengar, tentu kesahnya adalah, betapa uang atau kekayaan negara yang sesungguhnya milik rakyat, sudah lindang tandas. Untuk mengusut, menjeratnya secara adil dengan hukum yang berlaku,sebagaimana kita tahu dari membaca, mendengar dan menonton, kok kayaknya kekuatan hukum kita, baik ia dilihat sebagai cahaya maupun harta kebenaran, rasanya juga sudah lindang.</p>
<p>&#8220;Lindang&#8221;, kata ini, seperti eksistensinya, juga terancam punah. Ketika kita mencoba mengucapkannya, merasakannya, ada ruh yang sesungguhnya memikat. Sebagai kata, makin banyak orang tak memakainya, ia semakin menarik digunakan. Ritmanya pun memesona, karena memang ia kadang seakan merupakan teman kata dari lindap, pupus, habis, tandas, tak ada, bokek, punah, tuntas dan sebagainya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yusrizalkw.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yusrizalkw.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yusrizalkw.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yusrizalkw.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yusrizalkw.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yusrizalkw.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yusrizalkw.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yusrizalkw.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yusrizalkw.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yusrizalkw.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yusrizalkw.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yusrizalkw.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yusrizalkw.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yusrizalkw.wordpress.com/289/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusrizalkw.wordpress.com&amp;blog=659185&amp;post=289&amp;subd=yusrizalkw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yusrizalkw.wordpress.com/2010/10/20/lindang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b6e36fc10a1e2f7c079be65cfc77c0c0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yusrizalkw</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yusrizalkw.files.wordpress.com/2010/10/lindang.jpg?w=270" medium="image">
			<media:title type="html">lindang</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
