Kapere, keindahan untuk menyuburkan kebermaknaan
Ada kata yang, barangkali oleh sebagian besar kaum muda Minangkabau
, tidak dikenalnya sama sekali. Atau, saya yang memang abai mendengar atau menemukan kata tersebut dalam kehidupan sehari-hari selama ini? Entahlah!
Suatu siang, ketika menemani orang rumah (istri) ke Pasar Siteba, saya mendengar kata yang menggoda “rasakata” saya. Kata itu adalah: “kapere”. Seorang perempuan tua penjual sayur, ketika ditanya keadaan anaknya yang di Batam, ia menjawab, ”Inyo sadang kapere kini. Tapi, baa juo lai. Awak di siko takapere pulo. Sagalo maha!Apo lai di Batam” (Dia sedang kapere kini. Tapi bagaimana lagi. Kita di sini takapere juga. Segala mahal. Apalagi di Batam).
Ditulis oleh yusrizalkw 




