Mari kita merasakan kata “hao”. Sebagai orang Minang, kita punya kata yang hampir tak pernah terdengar diucapkan banyak orang saat ini. Terutama kaum mudanya yang lahir di tahun 80-an hingga kemudiannya.

Kata “hao” berarti hawa, udara, dan bisa juga diartikan sebagai suatu yang kosong, busa doang. Hao juga bisa berarti omongan yang tak ada isinya. Bisa pula hao berarti bual; hanya kata tanpa makna.
Nah, kita kadang, bisa saja, memerankan diri sebagai tukang “hao”, yang mengira setiap orang bahagia dibual penuh busa. Di pihak lain, kita juga kadang memang tanpa sadar, berperan sebagai orang yang tampak tulus, aman-aman saja ketika dihao orang. Bahkan, anggukan kita kepada tukang hao, menunjukkan kekaguman yang luar biasa. Ketika ada yang berkata begini kepada kita: “Lah dihaonyo waang mah, Yuang (Sudah dibohongi kamu Yuang),” kita malah menjawab, “Ma jaleh dek waang! (Mana jelas sama kamu).” Eyayai!
Kalau hao menjadi mahao, maka kata itu artinya menjadi merayu. Bujukan yang, ohoi ya, banyak gombalnya. “Mahao anak gadih urang, bapanggakan oto basalang (marayu anak gadis orang, memamerkan mobil pinjaman). Kadang, karena tak mampu mengukur bayang-bayang sepanjang badan, kita terjebak meninggi-ninggi diri. Dalam mahao, juga terlihat merendah-rendahkan diri, untuk meninggi-ninggikan harapan, agar yang dituju merasa terpuja, yang merayu merasa terpuji.
Tak jarang, ketika seseorang mahao, yang lebih tampak oleh akal sehat adalah, betapa dia tengah membungai dirinya dengan busa-busa omong kosong. Orang yang suka mahao, apalagi kepada anak gadis idamannya, cenderung terlihat memperagakan kelebihan diri sendiri, mulai dari penampilan hingga perkataan. Mahao adalah topeng diri, yang kadang ia bisa membawa yang dihaonya menjadi badut, ikut irama yang hao-hao.
Ada pula hao yang, boleh dikatakan menyebalkan, menjengkelkan atau menimbulkan dendam. Namanya “malapeh hao”. Malapeh hao artinya, segala upaya, kerja keras, dukungan kita berakhir dengan kesimpulan: tidak mendapat apa-apa. Kalau join dengan teman membangun usaha bisnis, tahu-tahu ketika untung, dimakannya sendiri. Malapeh hao namanya bagi kita. Kalau kita punya pacar, habis-habisan mencintainya, dia pun seakan-akan habis-habisan mencitai kita, siang kaulah matahari, malam kaulah bulan. Tapi, ketika cinta kita tak terhingga, ia menikah dengan orang lain. Inilah lagu pilu “malapeh hao” itu. Orang pun bisa mancemeeh kita sambil berlagu:
Lompong sagu bagulo lawang
Di tangah-tangah karambia mudo
Sadang katuju di ambiak urang
Ondeh mak, awak juo malapeh hao
(Lompong sagu bergula lawang
Di tengah-tengah kelapa muda
Sadang suka diambil orang
Aduh mak, kita jua melepas hawa/tidak dapat apa-apa)
Hao, dihao, mahao, hao-hao disadari atau tidak, sesungguhnya telah mengitari perilaku atau nasib kita sehari-hari. Ia menumpuk dalam barisan, kerumunan, tumpukan serta seliweran kata-kata di otak dan hati kita.
Januari 18, 2009 pukul 6:33 am |
Hmm, yoo
Belakangan ko, lah samakin banyak awak malapeh hao mah da KW
Apolagi kalau awak baru di Jagad Perbincangan Budaya
Banyak Urang nan diarokkan lai ka maagiah jalan untuk labiah banyak tau
Bajanji-janji sajo…
Kalau lah ka ma lapeh hao sajo taruih
Terprofokasi awak untuk mahao-hao pulo
Salam,
minta izin untuk malink, ka http://www.dedepramayoza.blogspot.com