MULUT

–yusrizal kw

mulut adalah lorong, banyak hal keluar masuk darinya

Saya sangat takjub pada orang yang punya mulut dan mampu menata kata-katanya dengan santun, rapi, berisi serta mempertimbangkan mulut orang lain guna menyalami mulutnya dengan kata-kata pula sehingga sejuk di hati penting di pikiran. Ketika menyadari hal itu, ada sebuah pikiran yang bisa dijadikan koreksi diri: belajarlah selalu menggunakan mulut, karena mulut yang bijak ternyata tidak datang begitu saja. Ia mesti memiliki acuan nilai, pendidikan yang bagus, kesadaran yang intelek, emosi yang cerdas, spiritual yang selalu menyala untuk membenderangkan arah dan pegangan yang memanusiawikan kata-kata jadi bermakna.
Mulut punya jebakan. Karenanya, hati-hati bermulut. Jangan-jangan, kita terjebak pada hal-hal yang meresahkan. Hal-hal yang menyulut peperangan, bisa juga bermula dari mulut. Karena itu, mulutmu harimaumu. Hati-hati memelihara mulut. Karena memelihara mulut, memelihara kata. Agar kata tak berasa pahit dan beracun bagi yang mendengarnya, pilihlah busana kata yang tepat. Yang pas untuk dikenakan kepada kita, kepada orang lain. Sehingga, enak didengar, mudah dicerna, gampang memahami. Komunikatif namanya kita punya mulut.

Menjadi orang yang bisa menjaga mulutnya, bertanggungjawab terhadap mulutnya. Tentu bukan semata untuk mulut asal menganga. Memahami mulut tidak secetek mengetahui sebuah rongga, di dalamnya tempat gigi dan lidah semata. Kalau demikian maka yang kita pikirkan tak lebih dari mulut ke perut. Asal kenyang, mulut yang biasa menyuarakan kebenaran oleh gerakan hati dan pikiran, malah jadi bungkam, tersumpal karena orang suka berpikir untuk perut. Mulut kritis, cerminan diri. Mulut berbusa, juga pematri citra siapa kita. Awasi mulutmu, maka kau dan aku, bisa hati-hati di antara bilah bibir.

Memiliki mulut, banyak rambu-rambu. Banyak pantangan, sebanyak saran kebaikan untuknya. Kamu berjanji, kamu mengingkari, maka kamu tak paham mulut terdorong emas tantangannya. Atau, mulut satu lidah bertopang, kebaikan yang dikatakan sesungguhnya tuba di dalam hatinya. Yoalah, karenanya, sebelum ngomong ngango atau mangap dulu. Ini artinya, pikirkan apa yang hendak dikata. Atau, lihat tempat. Sebab tempat untuk menjadikan mulut untuk gurau, berolok-olok, serius, kritis, dan menyatakan cinta maupun kasih sayang tergantung kita memahaminya. Bahkan, mulut untuk gombal pun mendapat jatah. Makanya, satu mulutmu, bisa berguna untuk sejuta atau jumlah tak terhingga niat dan tujuannya.

Banyak mulut di dunia ini. Mulut rambang untuk yang banyak omong. Mulut gatal untuk yang suka mencela atau mencemooh, mulut buaya untuk mereka yang ucapannya tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, mulut berbisa bagi pemilik kata yang pedas dan mulut bergetah bagi kita yang ucapannya selalu terbukti. Itu artinya, bahwa mulut banyak ragamnya, banyak pula jenisnyta, banyak pula maknanya, banyak pula risiko dan ganjaran kebaikannya.

Tetapi, ketika kita melihat seorang yang kerjanya tak membuahkan hasil, lalu kita mengangguk karena kita tahu ia merupakan orang yang suka bermulut-mulut (ngobrol-ngobrol). Tentu akan tersenyum miris, ketika kita tahu orang yang suka bermulut-mulut itu ternyata juga bermulut karung, rakus dan suka makan banyak. Nah, bayangkan, jika kita adalah salah seorang yang misalnya digelari bermulut karung dan bocor. Selain rakus, ngomong melulu, nggak capek-capek. Mulut bergerak, lapar, makan banyak. Mulut menganga, omong ini itu, lapar, makan buanyak sekali. Tetapi, ketika bekerja, melakukan sesuatu, ia malah menjadi banyak mulut, cincongnya ke sana kemari.
Menggunjing mulut, kadang banyak keunikan dan kekonyolan kita temui. Misalnya, tak jarang dalam keseharian kita bertemu dengan manusia yang bermulut orang, yaitu selalu mengatakan apa yang dikatakan orang, sementara kata-kata asli milik mulutnya sendiri tak pernah ada.

3 Tanggapan ke “MULUT”

  1. Muhammad Nasir Berkata:

    di balik itu…mulut adalah korban kepala yang bocor dan hati yang kotor
    mulut menjadi kambing hitam, berkonotasi jelek. kasihan…
    salam kenal bang…

  2. JHD Berkata:

    “dalam sebuah hadis (teks lengkapnya saya lupa), Rasul bersabda bahwa salah satu yang menjerumuskan manusia ke dalam neraka adalah mulut, selain itu kemaluan. Nah, yang lebih parahnya adalah orang yang punya mulut tapi tak punya ‘kemaluan’… Hik hik hik…

    salam kenal dari FMIPA UNAND (jhd)

Tinggalkan Balasan