–yusrizal kw
Redek kadang menguncang iman
“Ba a aka lai ko. Bareh maha. Lah redek awak kini mah,” kata seorang perempuan setengah baya kepada temannya, yang saya dengar di atas sebuah angkot tambangan Siteba-Pasar Raya Padang.
Kata “redek” dari mulut perempuan tersebut, ternyata setelah melihat Kamus Lengkap Bahasa Minang yang disusun oleh Drs. Gouzali Saydam, Bc. TT dan diterbitkan Pusat Pengkajian Islam Minangkabau berarti bokek atau payah. Bokek dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka, artinya tidak punya uang. Tapi, redek dalam hal ini, tentu tak semata bokek, bisa jadi merupakan spirit dari kegetiran, pahitnya hidup.
Redek selain berarti bokek, juga berarti payah, susah, sulit dan simpulan lainnya, hidup yang pahit. Hidup semakin pahit, ketika kita redek, beras segantang di atas Rp10.000 pula. Uang sekolah anak masuk tunggakan bulan ketiga. Listrik sebulan lagi, kalau tak bayar, dicabut PLN. Catatan utang di kedai, sudah sehalaman buku isi 40. Minta bantu ke tetangga, redek pula dia dari pada kita. Mengadu ke wakil rakyat, eyayai, malah mereka juga merasa “redek” dari rakyat yang memilihnya.
Buktinya, dengan kemirisan dan luka hati kita lihat ribuan wakil rakyat demo ke istana, di Jakarta untuk memrotes revisi PP 37/2006. Sedangkan pemerintah, asyik dengan wacana mengentaskan orang miskin, seakan melakukan gerakan politik cari nama. Nama dapat, kerja tak tampak, ya redek juga jadinya. Pasalnya, akar “redek” bangsa salah satunya amannya para koruptor, perilaku koruptif yang tidak dikikis habis.
Orang-orang redek, dalam artian miskin sangat, ada di mana-mana. Karena redeknya, bekerja seharian penuh, dibayar Rp5000 pun mau. Karena takut redek, jadi karyawan di perusahaan besar, kita sarjana pula, gaji kecil di bawah UMR pun oke.
Tapi ada pula redek pemanis hari. Biasalah, sehari dua kita bokek. Masih bisa berseloroh minta rokok ke teman, sembari berkata, “Lagi bokek nih, minta rokoknya dong!” Begitu juga, bokek ungkapan yang bisa mengawali keluh kesah ringan, baik untuk minjam uang, minta pulsa teman, ingin ditraktir makan siang. Kalau dengan teman dekat, cukup bilang, “Lagi bokek nih.” Atau, “Gua lagi redek nih, minjam duit dong!”
Kata redek, bagi orang Minang, saat ini jarang digunakan. Kecuali, beberpa orang tua-tua, misalnya ibu setengah baya di angkot tadi, masih enak memakai kata “redek”. Kata redek, terdengarnya, pas disuarakan dengan nada keluhan. Kalau ada seseorang, katakanlah dari pihak keluarga besar kita datang minta bantuan uang, kalau sedang tak ada, jawabnya mungkin, “Ondeh, jangankan meminjamkan. Membeli beras saja untuk sehari-hari, redek kami dibuatnya…. Tak dapat akal lagi, bagaimana ini?”
Redek dalam artian payah; bokek sangat, uang seribu seluas sajadah tampaknya, banyak menimpa saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air. Sebangsa orang redek, setanah dengan air mata. Selalu akrab dengan kegetiran. Kadang, seakan seperti musibah, walau hakikatnya bisa dilarikan kepada hikmah positif orang beragama: merupakan ujian sebagai kasih sayang Tuhan. Tetapi, kalau sudahlah redek, sakit-sakitan, wajah tidak ganteng pula, tak ada yang mau berteman, rumah kontrakan selalu kebanjiran, tentu ini redek bercabang susah. Kadang, kata ujian dirasa menguatkan iman, walau di balik itu sebagai manusia ada pertanyaan: Masak sih Tuhan pilih kasih. Misalnya, sudahlah cantik, kaya, banyak yang sayang, banyak yang menawarkan pekerjaan, gaji besar pula? Nah, kata nenek teman saya, kalau menilai Tuhan begitu, berarti imanmu redek. Payah.
Orang miskin, ya begitu banyak, butuh perhatian. Mereka tak hanya miskin uang, tapi juga redek perhatian. Baik dari pemerintah, media, kalangan mampu di sekitarnya. Mereka terabai. Dalam banyak hal, kaum redek, memang kaum bokek sepanjang hari yang seakan terdampar dalam sunyi. Mereka merasa tak punya corong, sebagaimana pejabat, yang kadang mampu mencarter advetorial untuk mencitrakan dirinya.
Duh! Tentu, mereka merasa tersisih oleh pemberitaan media, jika seandainya media bayak menuliskan keberhasilan semu pemerintah dan dimana-mana memuat foto pejabat, yang sesungguhnya, untuk koreksi diri bangsa ini, hal itu tidak jauh lebih penting dibanding sebuah foto seorang ibu termenung di sudut pintu menunggu suaminya mencari beras, tukang ojek termenung risau di pangkalan karena sepi penumpang, seorang perempuan tua tertidur menjual sayur di pasar raya karena sepi pembeli, seorang anak mengais-ngais rezeki di tong sampah, si buyung yang tertangkap mencuri karena ayah dan ibunya redek, serta orang gila yang berkeliaran. Kadang, semakin banyak orang redek, kita terjebak, mematikan nurani. Bahkan, membenci orang yang menghidupkan nuraninya.
Halaman STRES! Harian Pagi Padang Ekspres, Edisi 25 Februari 2007