–yusrizal kw
Jika ada yang manggadayak, lap atau sapulah dari diri
Suatu hari, saya mengunjungi teman di rumahnya. Cerita punya cerita, ia menjelaskan, bahwa bisnis yang dirintisnya tiga tahun lalu bersama seorang teman, berjalan lancar. Bahkan, kini, bisnis di bidang jual beli komputer itu maju pesat. Sudah punya relasi khusus, langganan fanatik.
Ketika saya tanya, teman yang dulu berdua merintis bisnis tersebut bagaimana keadaanya, ia menjawab dengan sedikit senyum meneyesal. “Dia saya keluarkan dengan baik-baik. Modalnya saya kembalikan, lalu hal yang terkait dengan hak-hak dia, saya berikan.”
Tak lama, ia menimpal, “Teman kita itu, manggadayak saja maunya. Orang sudah berketuntang bekerja, dia manggadayak, bermalas-malas, ngobrol, baca koran atau sms-smsan saja.” Lalu, dengan mimik serius, ia menjelaskan, jika tetap dibiarkan, sementara itu sudah bawaan diri yang dia sendiri tak mau memperbaiki, bisa merusak silaturrahim. Kita bekerja, dia manggadayak. Di akhir bulan, terima jatah, yang didapat, umumnya dari sedikit kerja banyak manggadayak.
Gadayak! Kata ini, hampir tidak terdengar lagi dari mulut orang Minang. Ketika kita telusuri arti atau padanannya, maka kita bisa saja menemukan kesamaan pada kata, menggenang, tidak mau bergerak, malas atau kematian niat atau keinginan melakukan sesuatu. Kata gadayak adalah kata yang sesungguhnya beraroma cemooh, penuh kritikan, bisa diucapkan dengan sinis atau sindiran.
Seorang mertua, bisa dongkol kalau punya menantu yang suka gadayak. Bos bisa berpikir pecat, kala anak buahnya suka gadayak, tidak produktif. Teman sesama organisasi, bisa marah atau nyindir, kalau kita ke sekretariat hanya untuk menggadayak, merokok-rokok, baca koran, kerja kita orang lain yang menyelesaikan. Seorang ibu, marah-marah, ketika meminta tolong kepada anaknya, tetapi anaknya malas-malasan, nonton-nonton saja, seharian begitu, bahkan untuk mengambil nasi makan siangnya pun minta tolong ke adiknya. Maka tak heran, kita dengar omelan, “Untuk makanmu sendiri saja, malas. Hanya manggadayak yang sukanya. Tidak tahu diuntung!”
Kata gadayak, sesungguhnya, sebuah gambaran tentang sesuatu yang tak berdenyut. Dia diam, tak memberi pengaruh positif. Bisa jadi, ia bagaikan kerikil di tengah lantai keramik yang bersih, mesti disapu atau dilempar, tanpa berpikir ia sebagai hal penting. Gadayak, adalah genangan air, di depan rumah, di lantai juga mungkin, di atas meja, yang harus dilap karena tidak enak dipandang mata, jika dilantai, bisa buat orang terpeleset. Gadayak itu, adalah benalu, yang tenang tapi berpengaruh buruk pada kehidupan sebatang pohon, dan kadang susah membuangnya, tetapi anjurannya, harus dibuang.
Lebih dalam lagi, gadayak juga merupakan, setan dalam diri, yang memegang kaki kita untuk tak berjalan, mengikat tangan untuk tidak melakukan apa-apa, menidurkan hati dan pikiran, agar merasa membuang-buang waktu—tak melakukan apa-apa, adalah hal yang dianggap nikmat. Kala gadayak, telah mengakar di antara tali jantung kita, sesungguhnya detak jantung kita berdenyut untuk tidak melakukan apa-apa.
Gadayak, kata itu, miliki kita. Karenanya, ia harus dijaga, agar tidak lenyap dari perbendaharaan kata. Dan, juga harus diawasi, agar dia tidak hidup, bertumbuh dan bergerak dengan setan kemalasan, untuk membuat teman, bos, suami, istri, mertua dan banyak orang jengkel lantaran gadayak menjelmkan sosoknya menjadi diri kita, dengan nama kita.
Orang-orang banyak manggadayak, bisa jadi karena frustrasi sudah bertahun-tahun cari kerja, tak dapat-dapat. Bisa juga, memang bawaan sejak kecil, tidak ada teguran kala suka manggadayak, sehingga kecil terbiasa, besar terubah tidak. Lalu, bagaimana, ketika kita sekali-sekali ingin menggadayak. Tak masalah. Karena, kadang, karena kesibukan, rutinitas, aktivitas yang bergerak dan mengeliat, kadang kesempatan manggadayak menjadi indah. Tidak melakukan apa-apa, kecuali bernapas boleh juga inilah deskripsi lain tentang gadayak. Tetapi, menjadi manusia “gadayak” adalah cita-cita buruk, yang harus digadayakknya untuk terlihat jelas, kemudian dibuang atau disapu.
Halaman STRES! Harian Pagi Padang Ekspres, Edisi 22 Juli 2007
September 6, 2008 pukul 3:34 pm |
Wah wah wah mangadayak apakah persis dengan ” mambungul” dalam bahasa Banjar ? Hal ini biasanya penyakit yang tak ada obatnya. Ini lantaran sudah nasib yang menimpa diri. Kikikikikk
Januari 14, 2009 pukul 2:40 pm |
Setiap kata punya kampung halamannya, apakah itu “Minang” atau “Banjar”. Mambungul atau Gadayak, sepadan ya….?