ANGGUAK

–yusrizal kw

Angguak belum tentu setuju!

Pertanda setuju, suka, iya, senang, kagum bisa diiyaratkan dengan angguak.Kalau kita dengar atau baca kata “angguak” (angguk), yang terbayang tentulah kepala yang bergerak ke atas ke bawah. Hup! Jangan percaya dulu pada “angguk”. Kadang, dalam angguk ada geleng, ada pikiran kosong bahkan sekadar menampakkan, bahwa ada kepala ada angguk.Ketika kita berhadapan dengan seseorang, bercerita tentang sesuatu, jika cerita kita menyenangkan, menakjubkan atau memberi manfaat ilmu, maka anggukan itu sebagai tanda penghormatan. Sebagai tanda, kadang apresiasi bisa diterjemahkan melalui gerakan kepala, mengangguk.

Ada pula, orang yang terjebak angguk. Ini menjadikan dirinya menyebalkan. Menjengkelkan! Karena itu, perlu ada saran, hati-hati dengan panorama anggukan ketika kita sedang diberi kesempatan bicara. Bisa-bisa, kita akan menjajah telinga dan hati orang lain. Karena apa? Karena kita pikir, orang mengangguk tanda suka, senang dan setuju sekali. Lalu kita pahami, kita boleh berpanjang lebar bicara. Padahal, sesungguhnya, kita dituntut arif ketika angguk sedang spontan, ketika itu pulalah kita harus menghentikannya. Jika orang kebetulan senang mendengar cerita atau paparan kita, kala itu ia bagaikan orang ibaratnya sedang makan enak langsung habis. Ketika orang sedang muak, kala kita berhenti, ia pun bersyukur. Bayangkan, jika kita terus memaksa diri terus ngomong, “si sedang muak” tadi, tentu akan dongkol.

Di Minang ini, ada pula istilahnya angguk balam. Jika ia “manusia angguak balam”, itu artinya, seperti manusia setia, yang mengangguki sesuatu yang sesungguhnya ia tak mengerti apa yang sedang diangguki. Kalau kita disebut “tukang angguak”, itu artinya, kita tukang stempel, manusia “cap oke”, apa yang digariskan pimpinan, atasan, orang yang kasih kita duit, kita anggukin saja. Mengangguk dan menggeleng, sesungguhnya memiliki filosofi, sebagaimana eksistensi kata-kata yang lain yang kita dengar, baca, lihat dan tersembunyi di kehidupan kita. Ketika misalnya, kita dituding sebagai “tukang angguk”, kala itu pula kita bisa dimengerti orang sebagai orang yang tidak memiliki integrtias, tak tahu bahwa sesungguhnya hidup itu juga perlu geleng, tak paham bahwa untuk menolak juga harus membunuh angguk. Di zaman orde baru, bahkan sekarang masih ada, wakil rakyat cenderung mengangguki penguasa.

Saat ini juga kita rasakan, ternyata, lebih banyak orang yang lebih suka mengangguk untuk hal-hal yang mestinya dia menggeleng. Kita selalu seakan salah menggerakkan kepala. Kala mesti menggeleng, kok malah mengangguk. Kala mesti mengangguk, kok malah menggeleng. Kadang, kita yang punya kepala juga bingung. Kok mesti begini untuk begitu, lah kala sedang harus begitu loh malah jadi begini.Karena itulah, untuk mengangguk dan menggeleng, diperlukan juga pikiran dan hati yang tenang, damai, serta suasana yang bisa membuat kita sadar sebagai manusia, yang normalnya, memerlukan titik diam, poros yang dinamis, agar kepala bisa mengangguk untuk angguk, menggeleng untuk geleng. Hati dan pikiran yang sehat, dengan kecerdasan yang kadang terasa absurd, bisa membantu segala sesuatu itu bergerak menuju titik pastinya yang benar.

Tak terbayangkan, jika kita semakin ke depan, sebagai bangsa, untuk menggeleng karena takut tak mengangguk dianggap “celaka”, “membelot”, “tak diberi makan”, “dipecat”, tentu kita akan menjadi bangsa “cap kerbau” yang dicocok hidungnya. Karena itu, kadang kita rindu, orang yang punya “gelengan” tegas untuk hal-hal zalim, upaya penghancuran nilai-nilai. Karena, Indonesia hari ini, adalah, antara lain kurang “menggeleng” untuk korupsi, mengangguk untuk menggantung pelakunya.Tetapi, di sisi lain, kita sebagai bangsa, tak tahu apakah mesti menggeleng atau mengangguk, untuk realita Indonesia yang multikrisis hari ini? Karena apa.Keraguan menikam kita, lalu membiarkan semua dalam kegamangan. Kepala seakan sudah tak ada lagi, sehingga lupa kapan mesti mengangguk dan menggeleng.*

Halaman STRES! Harian Pagi Padang Ekspres, Edisi 15 Juli 2007

Tinggalkan Balasan