–yusrizal kw
Anggau ada untuk kemawasdirian
Kata anggau bagi kita orang Minang, lazim didengar dulunya. Kini mungkin agak jarang. Tak apa. Kata tersebut untuk menegaskan, betapa ketika kita menjalani hidup, ada hal-hal yang membuat kita meyakini, suatu yang manusiawi dalam diri dan dirasakan seseorang.
Perasaan “anggau”, yah, perasaan dimana kita merasa kehilangan nyali, tak memiliki kekuatan menegakkan kepala untuk mengimbangi atau melawan sesuatu yang ditantangkan kepada kita. Anggau, sama dengan gentar, ciut, ragu-ragu, kehilangan semangat “maju tak gentar”. Anggau, semacam perasaan dimana kita tiba-tiba misalnya, merasa takut atau minder bertemu dengan seseorang. Karena apa? Karena orang yang akan kita temui, jauh berpengetahuan dan berpengaruh (di tengah masyarakat) dibanding kita, yang selama ini sangat sadar “tong kosong nyaring bunyinya”, merasa dianggap hebat.
Ketika bertemu dengan seseorang misalnya, melihat pakaiannya, menikmati aroma parfumnya, cara bicara yang banyak kata Inggris, kalau tak tak siap mental, kita pun bisa “anggau’. Minder. Maklum, kadang ada pula, orang menyikapi perilakunya, tampilannya untuk direspon agar dia tumbuh dalam percaya diri, yang di pada sisi lain, barangkali ada yang kepercayaan dirinya maanggau (menciut).Akal sehat, integritas, keyakinan melakukan sesuatu yang benar adalah hal penting membunuh rasa “anggau”. Tapi, banyak pula orang yang “anggau” melakukannya. Orang tidak anggau pada dosa, karena itu ia berani berbuat dosa. Orang anggau pada peraturan, kalau ada yang lihat. Kata iklan: taanya kalau ada yang lihat.
Ketaatan sesungguhnya, bentuk “anggau” yang masuk akal, sehat dan bernurani. Dalam kehidupan sehari-hari, kata “anggau” di Minang ini sudah sangat jarang kita temukan. Kadang, antara anggau dan segan, disejalankan makna gunanya. Orang maanggau bisa jadi karena perasaan menyegani, atau karena tahu seseorang itu disegani di lingkungannya.Yang banyak kita temukan, orang-orang yang mimiknya, debar jantungnya, terekspresi atau terdeskripsi dalam kata anggau, yang pada lazimnya kini bisa menyebut dalam kata: takut, cemas, gentar dan ciut. Karena itulah, makin banyak orang yang anggau menjalani hidup secara benar, kata “anggau” tak perlu diucapkan sebagai “saya anggau”, karena dia otomatis terucap pada sorot mata dan wajah.
Maanggau artinya kurang lebih merasa ditikam ragu, dikepung cemas, diterjang rasa rendah diri. Kemudian, kita kadang melampiaskannya dengan mengeluarkan keringat dingin, napas yang sengal, hari terasa buruk sekali. Ketika kita sudah berhadapan dengan orang yang kita anggaui, sebenarnya tidak seburuk yang kita bayangkan. Tapi, perasaan tersebut sudah menikam lebih awal, ketika itu pula kita berusaha menetralisir perasaan, membujuk dengan hati sendiri, bahwa yang di depan kita ini orangnya baik, semua akan berakhir baik-baik saja. Tetapi, ketika itu sesungguhnya kok kita merasa waktu berjalan dengan sangat lamban, seakan ia maanggau pula bergerak di hati. Padahal, sang waktu, ia tak pernah merasa anggau pada siapa pun.
Malah dia yang sering membuat orang anggau pada putaran jarumnya, menyeret-nyeret usia kita makin ke depan makin merasa anggau ketika menyadari, bahwa dalam berjalan seiring dengan waktu, bekal kita belum banyak. Rasa anggau ini sangat beragam. Ada yang anggau bertemu dengan istri karena ketahuan berselingkuh. Ada yang anggau bertemu dengan guru karena merasa tidak patuh pada ajaran kebaikannya.Ada yang anggau bertemu dengan bos karena merasa bos tahu kita gelapkan uang kas. Ada yang anggau bertemu guru agamanya, karena sadar, pernah merasa sombong dan takabur ilmu pada sang guru, yang sesungguhnya ia berkali-kali dididik untuk rendah hati dalam berilmu dan menyampaikannya dengan bersahaja dan rendah hati pula.
Tidak bersifat menguji, menunjuk diri seakan-akan merasa lebih pandai daripada guru di antara murid yang lain. Ada yang anggau pada-Nya, karena itu anggau-anggau di dunia, yang bersifatnya menjerumuskan, dibunuh dengan cara taqwa pada-Nya. Rasa anggau, hanya rasa yang bisa dikendalikan oleh akal sehat, hati yang bersih serta kerja yang dilakukan atas niat dan cara yang baik. Kita merasa anggau karena kita di tempat yang yakin salah, atau di tempat yang belum kita kenali tantangannya sehingga pikiran positifnya, pelajari dengan benar agar anggau tidak merisau.
Halaman STRES! Harian Pagi Padang Ekspres, Edisi 01 Juli 2007
Januari 3, 2009 pukul 10:30 am |
agiah taruih om……………….
kok dapek om buek kamus bahasa minang
kan lebih takana juo awak jo rasa kata
hehehhehehehe