SARIT

–yusrizal kw

Bersarit-sarit kemudian bermakna

Ada kata “sarit” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dalam bahasa Minang pengucapannya menjadi sarik. “Sarit” dan “sarik” sama-sama berarti susah, sukar dan sulit.

Kata “sarit” memang tak akrab di telinga kita. Tetapi, kita sering mendengar, dek sarik hiduik, makonyo coiko (karena susah didup makanya begini). Orang Minang, kadang bergurau mengindonesiakan sarik menjadi sarit, tetapi bisa bersebab kata lucu-lucuan. Karena menganggap tak betul pengindonesiaannya. Misalnya, mana hari panas lagi, mobil sarit pula (hari angek, oto sarik pulo). Padahal, sebutan kata “sarit” benar adanya. Cuma, karena tak pernah cek kamus,  tak lazim diucapkan, seakan itu ungkapan gurau atau perintang kata agar (bisa) menimbulkan tawa.

Memang, kalau tak akrab dengan arti atau makna kata, kadang untuk mengomunikasikan sesuatu, kita gagap juga. Yang paling gawat, sarit menyampaikan sesuatu apa adanya. Ada geleng dalam angguk. Karena kita ingin menjadi terbiasa tidak berbasa-basi, suka menguntai kata asal bapak senang. Parahnya lagi, karena takut mengganggu hubungan pertemanan, kita pun sarit mengritik karena takut menyinggung perasaan orang. Akibatnya, kalau keburukan teman kita itu suka mengeluarkan kata-kata yang kasar, menyinggung hati, kita biarkan sementara pada saat bersamaan kita menikmati orang lain tersinggung oleh teman yang hatinya takut kita singgung. Kalau sudah begitu, ini artinya jalan pertemanan yang baik sarit dinilai memberi kejujuran dan kenyamanan karena kita memahami betapa pentingnya berbaik hati dengan siapa pun. Kalau sarit bilang sarit, kalau mudah katakan gampang.

Kita butuh keberanian sesungguhnya. Misalnya, kalau selama ini lazim mengatakan bersakit-sakit dahulu, tak apa kan kalau kita memakai bersarit-sarit dahulu, senang kemudian. Ini hanya sebuah misal untuk membahasakan, mencari hal-hal baru untuk diakrabi dengan tujuan baik. Sayangnya, karena takut hidup dalam kesukaran, kita pun takut mencoba hal-hal sarit. Kemudahan, selama ini, adalah impian yang tersembunyi. Kerinduan yang diinginkan selalu. Karena itu, banyak penggemar jalan pintas untuk meraih sesuatu, sekali pun jalurnya tak pantas.

Kalau dipikir, kok kata sarit jarang diucapkan di antara kita untuk mengganti “sukar”, “sulit” dan “susah” misalnya. Sebenarnya tak perlu dipikirkan. Kita tak ingin repot saja. Kata atau bahasa, untuk memudahkan komukasi. Jangan biarkan orang berkerut kening dalam bercakap-cakap atau membaca maupun memahami sesuatu yang disampaikan.

Namun, agak sekali dua, tak ada salahnya kita pakai. Karena, untuk apa ia ada, kalau untuk dipakai pun nasib kata itu bernasib sarit—susah. Setidaknya, sebagaimana nasib dalam hidup, kata “sarit” sesungguhnya konotasi dari apa yang membeban dalam tindakan dan upaya melakukan sesuatu. Kata “sarit” ada bisa saja kita artikan sembari senyum simpul, ya untuk mengurangi beban pada kata “sukar”, “sulit”, “susah” hingga kemiskinan sekalipun.

“Sarit”, nasib katanya adalah melekat semakna pada hal-hal yang membutuhkan jalan keluar. Pintu-pintu rahasia yang terbuka dan dibuka dengan sebuah upaya. Ketika kita susah, hendak melakukan sesuatu, sesarik apu pun rintangan, harus dilalui. Karena, kata orang bijak, hidup tak ada rintangan (hal sarit) sama tak ada artinya. Kalau hanya untuk nyaman dan tanpa masalah, pingsan atau mati saja pilihannya. Kita pun sarit menduga, apakah dalam pingsan atau mati, segala sesuatunya baik-baik saja. Cara mati dan pingsan pun, kalau ia harus segera dipilih, hal sukar yang sarit. Karena, garis pingsan dan mati, sulit dibuhul menyatu. Tapi bisa menjadi jalan keutuhan bahwa menduga ajal sama dengan menyuruh orang pingsan mencek alam kematian.

Ketika ada yang ditakdirkan dalam hidupnya “sarit”; kesusahan yang tebal selalu bermukim, ketika itu orang lain entah dimana sedang mengalami hal sebaliknya. Karena itu, menduga-duga hidup, rezeki, jodoh dan ketiadaan, adalah wilayah “sarit” yang belahannya tetap memungkinkan untuk diyakini: ada jalan pasti menuju keabadian. Ada kebadian yang bisa diraih ketika menghancurkan hal-hal “sarit” adalah kerja sebagai ibadah agar paham: Tuhan tak mau mengubah nasib kita kalau hanya berpangku tangan. Karena, kata “sarit” ada bukan untuk ditulis dalam kolom “rasakata” ini hakikatnya, melainkan untuk dipecahkan, sehingga kita berkata, “kemenangan yang sarit, begitu bermakna”.

Tinggalkan Balasan